Menye

8

Malam ini aku terjaga—dengan selimut yang tersingkap karena kegerahan. Tahun ke tahun bumi terasa makin panas, dan juga hatiku. Api yang sudah ku sembunyikan pada ruang paling dasar. Sudah pula tertimbun pelbagai material tak tersentuh dan tak kasat mata telanjang. Kini menyumbul-nyumbul. Jilatannya menjulur seakan mampu melumat akal sehat.

Seakan aku ingin menumpahkan malam ini sebelum api ini akan membakarku habis. Ku persiapkan diriku akan persembahan yang tidak akan lagi pakai basa-basi. Kasih yang akan terartikulasikan sebentar lagi, meluncur jujur. Malahan, ku dapati kamu sudah mendengkur. Tidur dengan tangan yang kau simpan dibawah pipimu. Bibirmu terkatup rapat, tapi pelupuk matamu yang tertutup benar-benar menggedor rindu ku. Dadamu naik turun dan ritme nafasmu tenang teratur. Aku membayangkan, kini kamu tengah bermimpi dalam duniamu yang damai. Tidak ada ketakutan, kecemasan, juga penyesalan. Tidur, meski telah memangkas usia sepanjang hidupmu, namun ia kekal dalam bagian mengajarimu ayat pendewasaan. Bisa jadi salah satunya, lewat tamu dari dimensi dunia berbeda berwujud visual elektromagnetik singkat. Tamu itu biasa kita sebut gaduh sebagai mimpi.

Terjepit antara dimensi yang berbeda kita akan bersua. Tuturku kau akan perdengarkan sebentar lagi. Sebentar, aku tekan tombol play dari aplikasi pemutar musik. Kini dari corongnya, melantun kidung lama, milik Oasis, Don’t look back in anger.

Seperti dihempas aku pada ingatan waktu kita pernah bicara dan aku mengatakan bahagia jika divisualisasikan akan tampak seperti terbang. Terbang amat tinggi, dan kita tidak pernah tahu kapan akan jatuh. Makin bahagia, ketinggian penerbangan diri kita akan meningkat, hingga pada saat yang sama kita menyadari bahwa Newton dengan gravitasinya—disebut realita—dapat sewaktu-waktu memelanting tubuh kita ke tanah.

Sebetulnya, sebelum jatuh ku tanah, segala sistem dan argumen paling rasional telah aku persiapkan. Nantinya akan jadi amunisi antisipasi yang ku tahu ini akan terjadi. Hanya berpacu pada  waktu. Namun hingga akhirnya aku menyadari, kidung Oasis seperti meledekku habis-habisan. Melumatku yang lugu dan baru perihal asmara.

Pramoedya sudah amat gamblang mengatakan asmara adalah lagu rakyat yang “berjiwa dangkal”, “merengek-rengek”, dan “merayu-rayu tak ketentuan.” Masih katanya, asmara merupakan suatu batas penggaris yang membuat hidup sesuatu makhluk cerai berai dalam fragmen-fragmen yang kadang-kadang satu  sama lain tak punya sangkut paut sedikit pun jua. Inilah yang menyebabkan asmara selamanya jadi soal penting dan genting dalam hidup. Perkara asamara, benar sudah katanya. Habis jiwaku diguncang genting, merayu tak ketentuan.

Dalam kepalaku kini  berderet berbagai daftar “kalau saja.” Kalau saja aku mampu menahan; kalau saja tidak benar-benar mau terbang dan tahu cara turun landasan dengan aman; kalau saja tidak bermain dengan bahaya; kalau saja dari awal mundur teratur; dan kalau saja-kalau saja lain yang banyak dan memenuhi dinding kamarku. Tapi separuh inderaku menangkap rangsangan lain. So, Sally can wait/She knows it’s too late as she’s walking on by/Her soul slides away/But don’t look back in anger/I heard you say. Aku seperti dijabat halus oleh Sally dalam lagu itu, untuk akhirnya mengalah pada nyata. Mengalah bukan menyerah.

Jadi ku putuskan untuk terus saja melihat ke depan dan bersiap pada segala baik yang akan terjadi. Berpangku pada kalimat seorang teman baru yang ku temui, “Dalam asmara, tidak ada perkara karena situasi, karena kondisi. Kamu punya kontrol penuh atas perasaanmu.” Ya. Benar sudah itu,  sepakat dan mengikat.

Malam ini kamu tidur dan aku belajar. Terima kasih kamu tetap hidup dan hanya tidur. Terima kasih kamu hanya tidur.

Selatan Jakarta,

9 Januari 2017

credit image: pinterest

Published by

firdhaussi

Still human;

2 thoughts on “Menye”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s