Aku Paling Tidak Bisa Menulis Judul

Denting piano, suara nasi kebuli yang sedang dimasak, suara pengetikan yang ditimbulkan oleh ketukan pada tuts komputer jinjing, sesekali juga terdengar kendaraan yang berlalu-lalang di wilayah pemukiman itu.
Suara seduhan espresso yang diekstraksi dari mesinnya juga pelan-pelan terdengar.
Aku juga mendengar suaraku sendiri, tepatnya suara perutku yang “bernafsu” menginginkan mencerna ini dan itu.
Kepalaku sedang mencerna apa yang sedang aku kerjakan, apa yang ku lakukan 10 menit yang lalu, dan mencoba untuk menjawab mengapa aku memilih sepiring brownies alih-alih nasi kebuli yang terus merasuki indra penciuman dengan kurang ajarnya.

————–

Gadis itu menelusuri jalan setapak.
15 menit berlalu, ia hanya menemui jalan buntu.
Tiba-tiba, ia terlempar ke suatu tempat baru, sehampar tanah yang enggan ditinggali pemiliknya.
Ia melihat pelangi di daerah kosong ini.
Aneh, padahal hujan sudah lama tidak turun.
Gadis itu menelusuri lengannya, dan ia tersentak heran karena saat ini ia mengenakan gaun kembang-kembang, mahkota bunga-bunga, dan sepatu yang menyerupai model yang sering dikenakan balerina.
Bagaimana semuanya menjadi mungkin?
Semuanya menjadi mungkin, sayangku, ketika inginmu menguasai dirimu.

—————

Tadi aku bertanya kepada temanku, bagaimana cara membuat puisi berima?
Apakah tidak apa-apa jika aku tidak pandai membuatnya?
Tidak apa, ujarnya, kadang dalam membuatnya kita kerap memperkosa kata.

—————-

Suara es dipecahkan beradu dengan suara lagu pop barat era 2000-an dan juga suara tawa yang keras dan juga suara yang timbul dari percakapan yang dilakukan sepasang kekasih, atau teman, yang tentunya bukan urusanku.

—————-

Ah, hari ini aku sembunyi lagi. Betapa. Pengecutnya.

—————-

Dalam sebuah pertandingan bola yang kusaksikan sembari memamah pizza rasa rumah. Nafasku menjadi dua kali lebih berat seolah dadaku menyempit diri dan oksigen tidak mau mengalir lagi ke otak.
Mengapa kita begitu menikmati hal yang begitu maya?
Sementara di luar sana, realita dipeluk mati-matian oleh sepasang suami isteri dan anak laki-lakinya yang terpaksa tidur di gerobak lagi malam ini.

—————-

Piano masih berdenting, sama seperti saat kamu menatap mataku penuh keyakinan.
Espresso masih utuh, tapi ia mendingin, sebab teracuh oleh hal-hal yang terlalu hangat untuk dibicarakan.

Lalu orang-orang tetap berlalu lalang
Dan aku, tetap di sudut, tenggelam bersama tumpukan buku tua yang berdebu.
Memilukan dan memalukan punya hubungan saudara, rupanya.

—————-

Ku kucek mataku berulang kali.

—————

Hening.
Pada apa aku beriman?

—————-

Tanya atas iman mempertemukan aku dan gadis bergaun bunga-bunga dalam dimensi paling samar. Bumi sedang asyik-asyiknya berotasi dalam siasatnya paling licik hingga aku dan gadis harus bertekuk lutut pada sebuah kata paling menakutkan abad ini.

Takdir acapkali mengolok-olok dan waktu terlalu pongah untuk membantu.

—————-

Aku dan gadis masih tidak mengerti sebenarnya kapan kita bertemu dan aroma macam apa yang lekap.

Di penghujung Juni yang tidak hujan,
Dituturkan bersama oleh Firdhaussi dan Reysa Utami

image: pinterest.com

Published by

firdhaussi

Still human;

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s