Translasi Terlukis

Saat kertas dibuka, tampaklah semburat gambar dua dimensi yang tersembunyi dibaliknya. Pada pandang pertama, mata ku dibuat mengembun-basah tak berkata.

Kitabisa dalam lukisan tersebut dimanifestasikan dalam wujud perahu kertas. Seumpama kapal raksasa milik Nuh Alaihisalam, perahu ini seperti mencoba menjadi juru selamat atas derita di sekitarnya. Membawanya ke lautan ketenangan dinaungi lembayung tak terperi indahnya.

WhatsApp Image 2018-11-16 at 07.40.10

Perahu tersebut tampak mengambang-ambang bersama perahu-perahu lainnya. Seperti petani menebar benih padi, dalam setiap perahu tersemat sukma murni bestari juru selamat. Air mengalir tenang membentuk simfoni, tidak biru dan tidak keruh. Sejatinya, air mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah. Mengisi relung kesenjangan, antara yang di atas menyatu dengan si bawah.

Lalu, dari kedalaman laut yang tenang, muncullah sesosok makhluk astral dibalut bayangan hitam temaram. Tepat dari tengah dadanya menyeruak kupu-kupu dengan sayap coklat keemasan. Kupu yang agung terbang tanpa suara. Hanya antenanya sesekali mengangguk-angguk. Menerima radar bagi siapa yang memanggil bantu. Selayaknya makhluk Tuhan lain yang diciptakan bukan tanpa kesadaran–darinya kita ambil saripati pelajaran hidup. Menjadi kupu-kupu adalah sebuah proses yang teramat panjang dan menyakitkan. Namun apalah artinya derita dan penyiksaan jika pada akhirnya terbang. Bukan sekedar kuda sembrani bertanduk cahaya.

Kalau kau pandang lebih lekat, dari busung dadanya, tampaklah padang terbentang. Melintang dari bumi belahan timur ke barat. Tidak ada Sang Matahari, atau langit berlagu. Kali ini, kau dibawa terbang pesawat kertas yang menganga seperti hendak bertempur. Kemana ia hendak terbentur?

Jawabnya ada pada merah putih yang dipanggul bocah berkulit selembut susu. Saban hari, menyibak puing-puing impian dan menerjemahkannya menjadi gerakan renang di bawah bulan pernama.

Atau mungkin matamu menyapu kulit menempel tulang rusuk hingga kau lihat setiap sendinya mengaduh dan matanya yang sayu layu menggidikkan bulu roma hanya dalam satu kedipan.

Bisa jadi pesawat tempur tadi hendak mengabarkan warta pada bocah berselang tujuh. Badannya menggeliat menggelagat sanubari naluri seorang ibu yang kebetulan sedang menetekkan air sucinya. 

Ibu bumi, ibu pertiwi atau ibu manapun tentu akan mengerang mendapati putranya menghadap aral gendala tanpa persenjataan lengkap. Erangan yang mampu meledakkan permen lolipop menjadi puing bergentayangan dalam asap pekat menghunus paru-paru dan pembuluh darah.

Asap itu tampak seperti gelombang elektromagnetik yang membentuk gambaran kakak-beradik dalam satu balon kedap udara yang hatinya menangis sebab ladang bermainnya telah tergusur. Juga jiwa bocahnya, yang dihantui kematian.

Tidak perlu mendongakkan kepalamu. Cukup putar pada derajat 90 dan kau dapati serdadu oranye sedang timbul tenggelam memunguti fragmen pesawat besi yang tercabik. Bisa jadi, justru di sisi kananmu itu lah pasukan biru sedang mengoyak dada saudaramu. Semata agar jantungnya tetap berdetak tanpa gemeretak.

Lantas pada hari yang sama, saat Jembatan Kuning kesayangan seluruh anggota kerajaan terberai tak bersisa, Perahu Kertas akan lantang bergema :

“Kami bukanlah juru selamat. Cukupkanlah kami menjadi jembatan yang menghubungkan nestapa dan doa.”

Kini, kamulah setiap cerita itu. Menjadikan kami hadir, menggenapkan kami utuh. 


ps: Terima kasih untuk lukisan yang kini selalu menyambut pagi, mengantarkan selamat datang pada jiwa kami agar senantiasa menjadi mahardika.

Selatan Jakarta, 16 November 2018

Published by

firdhaussi

Still human;

4 thoughts on “Translasi Terlukis”

  1. ini sumpah tafsir yg 95% sama persis kyk pikiran si seniman. sampe bacanya berkaca2…. sama2 indahnya sm lukisannya. Mbak Iik boleh dong kpn2 minta tolong utk komentarin karya2 artravel yg lain… hihihihi ada bakat jd kurator keknya 😀 😀 😀 makasih byk utk kata2 kuratorialnya mbak… loph loph

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s