Bolehkah?

Bolehkah kita saling menyapa dalam desibel paling kecil hingga cuma aku dan kamu yang mampu merasa?

Boleh ya, sesekali kita menyeduh bunyi, mengaduknya dalam cangkir porselen dan aku larut-lebur dalam dunia yang kaubagi?

Cangkirnya akan aku ukir relief kisah kaum papa dan cawannya akan kulapisi memori tentang mereka yang pernah terusir; agar saat bibir kita dan bibir cangkir bertemu, waktu juga mempersilakan keadilan naik ke podium kemenangan.

Tetapi, kalau kamu belum bolehkan juga dan semesta masih enggan beri kita secarik surat perizinan, boleh tidak, kita merayakan sunyi saja? Merayakan hanya kita yang bersorai. Meraya, hanya kita.

Published by

firdhaussi

Still human;

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s