Categories
Poem and Prose

Buih Mimpiku Menjelma Daun

Sejak saat itu, buih mimpiku kembali mendidih, terdispersi menjadi rupa warni-warna.

Sejak saat itu, buih mimpiku kembali mendidih, terdispersi menjadi rupa warni-warna. Diantara bulir-bulir kecemasan itu terkesiap setitik keberanian hendak merekah. Ibu punya banyak ujud, kali ini semoga terima kasih ku sampai pada Ibu Suri atas segala daya; tertuang dalam bait-bait yang terhirup beriring aku yang bertumbuh.

Pada hari itu akhirnya aku bisa bertatap dan berbicara denganmu, Ibu. Serupa daun, hatiku begitu tipis bergelayutan. Mencari-mengais hal yang sulit sekali aku utarakan. Tetapi saat bertemu denganmu, Ibu, aku seperti daun yang menemukan kekuatan kembali. Meski jauh terpisah dengan batang berpijak dan akar yang menancap kuat, aku adalah daun berpendirian yang tidak hanya mengikuti arah angin.

Padamu Ibu, aku memanjat satu harapan yang mungkin belum pernah kau dengar. Suatu hari akan datang masa saat kita dinobatkan menjadi cerita fiksi. Sementara karya-karyamu Ibu, akan menjelma realita.

Apakah keyakinanku bulat? Mungkin tidak, tapi Ibu, kalau kamu membaca ini aku ingin suatu hari kita bisa bersama beternak cerita.

Selatan Jakarta,
13 November 2019

image : pinterest

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s