Categories
Poem and Prose

Selembar Daun Baobab

#01 – 31 Hari Menulis

Pergantian kelas adalah jam-jam paling sibuk untuk sebuah kantin di lingkungan kampus. Terlebih pada hari-hari lawan bolos seperti Jumat. Penjaja makanan sibuk lalu-lalang mengantar makanan tanpa punya banyak waktu ngaso atau sekadar minum. Nafsu makan mahasiswa memang menggila, berbanding lurus dengan tumpukan tugas dari dosen. Kantin di kampus selain berfungsi memadam kelaparan juga tempat paling ekonomis untuk berkutat dengan sederet daftar tugas makalah yang rasanya tak pernah habis. Beberapa mahasiswa bahkan bisa menghabiskan waktu seharian. Kantin menjadi titik sentral dan krusial untuk berbagai transaksi sosial. Transaksi yang mampu meleburkan sekat dan batasan identitas. Dosen dan mahasiswa dapat saling berbentur argumen tentang isu apapun. Mereka berdialektika hangat layaknya sepasang kawan dan seringkali berakhir setuju untuk tidak setuju. Tidak ada senior dan junior yang terlalu kentara sebab semuanya akan saling membutuhkan untuk pinjam meminjam korek api, berbagi buku referensi, hingga rekomendasi nama-nama yang bisa dipacari.

Mar adalah satu dari sekian banyak orang yang suka berlama-lama di kantin. Baginya, koordinat ini adalah tempat yang tidak pernah kehabisan bahan untuk ia observasi. Salah satu yang memikatnya belakangan ini adalah Erde yang baru saja memasuki kantin dengan langkah santai. Di punggungnya, tergantung ransel hitam yang berat dan penuh barang. Kalau Mar perhatikan, Erde punya badan yang tinggi tegap dengan kaki yang panjang. Kali ini Erde mengenakan setelan celana panjang berbahan jin dan kaos hitam, lengkap dengan sepatu gunung coklat gelap. Raut wajahnya tenang dan sesekali tersenyum ketika berpapasan dengan teman. Saat sedang berjabat tangan, ia tak sengaja hampir menginjak ekor kucing yang sekarat dekat etalasi roti.

Erde memperhatikan kucing malang itu dengan seksama dan meyakini bahwa kucing itu belum mati. Diguncang-guncangkan perut si kucing tapi tak ada pergerakan. Ia pun mengambil air dari botol minumnya dan memercikannya sedikit. Tiba-tiba tubuh kucing bergetar seperti kejang. Pemandangan itu cukup menarik perhatian banyak orang hingga membentuk kerumunan melingkar. Erde dan kucing berada di tengah sebagai pusat. Mar tentu saja tidak keberatan bergabung dalam kerumunan itu. Diam-diam ia merasa bersalah karena telah beberapa kali melihat kucing malang itu dan tak sempat melakukan apapun.

“Kita bawa kucingnya ke rumah sakit,” Erde menyeletuk tiba-tiba.

Kalimat itu sontak membubarkan kerumunan. Orang-orang lebih memilih kembali pada urusannya masing-masing ketimbang menyelematkan seekor kucing sekarat, yang sebenarnya belum tentu juga akan selamat.

Alih-alih membubarkan diri sebagaimana kebanyakan pengunjung pertunjukan, Mar justru mematung. Pandangannya masih tertuju pada kucing malang dan pikirannya melanglang buana pada rasa bersalah.

“Mar? Ayo cari kardus,” kata Erde membubarkan lamunan Mar.

Mar segera mengangguk dan berlari menaiki tangga menuju gudang perkakas kampus. Ia yakin di sana pasti ada kardus. Satu hal yang ia tak cukup yakin adalah bagaimana Erde tahu persis namanya.

Kardus seukuran mie instan yang berisi kucing sekarat dibawa Erde menuju parkiran. Di sampingnya, ada Mar yang mengikuti. Kemampuan kaki mereka tidak seimbang. Erde memiliki kaki yang panjang sehingga langkahnya lebar-lebar. Sebaliknya, Mar harus tergopoh untuk bisa menyamai ritme langkah Erde.

Sampai di mobil, Erde membukakan pintu untuk Mar yang duduk di kursi belakang karena harus menjaga kucing. Saat mobil sudah keluar dari kawasan kampus, mereka berdua sama-sama baru menyadari bahwa mereka tidak tahu dimana lokasi persis Rumah Sakit Hewan. Situasi ini membuat mereka berdua sedikit cair karena tawa yang menyeruak.

Berbekal GPS atau Gunakan Penduduk Sekitar, akhirnya Mar dan Erde sampai juga di lokasi. Segera dibawanya kucing menuju ruang pemeriksaan. Ternyata sebelum diperiksa, mereka wajib mengisi formulir administrasi yang mengharuskan mereka mengisi nama pasien.

Erde mulai memberi usul. “Kita beri nama Meong ya?” Kalimat itu meluncur seperti bukan hanya meminta persetujuan untuk nama tapi seperti menautkan janji bersama merawat Si Meong. Ini adalah komitmen yang tak bisa Mar tolak. Ia mengangguk tanpa berpikir lebih lama. Anggukannya kencang diikuti senyuman yang membuat lesung pipitnya menyumbul malu. Dalam hati, Erde merasakan sensasi hangat.

Seorang dokter baru saja memeriksa kondisi Meong. Ia mengatakan bahwa Meong mengalami kerusakan hati. Kemungkinan besar karena Meong mengonsumsi makanan yang kadaluarsa atau mengandung zat berbahaya untuk kucing. Kaki kanannya yang mengelupas dan bernanah menyebabkan infeksi yang cukup parah. Meong harus rawat inap dengan penanganan yang insentif.

Meong dimasukkan ke dalam kandang besi dalam sebuah ruangan yang penuh dengan anjing dan kucing tergeletak sakit. Meong memang masih kelihatan lemas tapi ia lebih tenang dan tidak kejang seperti saat di kantin dan selama perjalanan. Kali ini Mar dan Erde lebih tenang untuk meninggalkan Meong. Mereka berdua saling berjanji bahwa besok akan datang menjenguk Meong.

***

Sebuah nada sambung berbunyi kencang dari ponsel Mar. Ia baru saja bangun tidur dan merasa aneh mendapat panggilan di hari libur.

Sebuah nomor yang tidak dikenal, batin Mar.

“Halo, Assalamualaikum?” Suara di ujung telepon berkumandang. Mar mengenali betul siapa empu suara itu.

“Waalaikumsalam, Er? Kok bisa punya nomorku? Ayo kita jenguk Meong hari…” Belum selesai Mar menyelesaikan kalimatnya, Erde memotong dengan sebuah kalimat yang terdengar seperti petir tanpa mendung. Meong sudah pergi, Meong meninggal pagi ini.

Air mata Mar menetes seketika. Hatinya sesak mengingat nasib Meong yang malang. Meong yang baru saja ia perjuangkan keselamatannya. Ada rasa sesal yang juga menyusul dalam benak Mar. Kalau saja, ia lebih cepat membawa Meong ke Rumah Sakit Hewan, mungkin Meong bisa selamat.

“Mar, kamu baik-baik saja?” Suara Erde menggantung dan terdengar khawatir.

Mar tidak mampu lagi menyembunyikan perasaannya yang kalut. “Kita harus cepat ambil Meong, Er. Kita kuburkan dengan layak.”

“Mar kamu tenang ya. Meong sudah aku jemput. Sudah aku mandikan bersih juga. Sekarang aku sedang menuju ke kampus mau menguburkan. Kamu ikut?”

Bagaimana mungkin Mar mampu melewatkan momen ini. “Kita kuburkan Meong di bawah Baobab ya.” Setelah menutup telepon, Mar segera bergegas menuju kampusnya.

Tepat di bawah dahan dan ranting Baobab, Mar dan Erde bertemu. Pohon yang satu itu terletak tidak jauh dari kantin kampus. Batangnya menjulang tinggi. Pada musim kemarau seperti sekarang, daunnya sangat jarang seperti kepala manusia yang botak.

Mar tidak menyangka Erde datang membawa peralatan lengkap. Ada cangkul, sekop, dan nisan sederhana dari sebatang kayu yang diikat kain putih. Di dekatnya ada Meong yang sudah terbungkus kain putih. Wajahnya yang sedikit menyumbul keluar tampak damai.

Erde mencangkul tanah dengan kekuatan penuh. Siang itu matahari cukup terik. Perpaduan antara terik matahari dan ayunan cangkulan menyisakan Erde dalam kaos yang basah oleh keringat. Ia terus mencangkul dan memastikan bahwa kedalaman liangnya sudah cukup untuk membuat aroma Meong tidak tercium. Di kampus mereka ada seeokor anjing. Mereka khawatir anjing itu dapat menggali dengan mudah jika kuburan Meong tidak terlalu dalam.

Kekuatan peenuh Erde mulai menurun berganti dengan ayunan cangkul yang semakin melemah. “Er, itu sudah cukup,” kata Mar meyakinkan Erde untuk berhenti mencangkul.

Mar menyodorkan botol minum dingin yang langsung disambut Erde tanpa basa-basi. Meskipun tubuh Erde penuh tanah dan keringat, Mar tetap mampu melihat pesona Erde. Wajahnya memiliki bentuk rahang yang tegas. Kontras dengan itu, Erde punya tatapan mata yang teduh dan senyum yang tulus. Mar masih merasa momen pemakaman Meong adalah momen sureal dalam hidupnya.

Meong diletakkan dalam liang lahat dengan sangat hati-hati. Tali yang mengikat badannya dibuka sedikit kendur. Sekarang wajah Meong dapat menyentuh tanah langsung.

Sebelum ditutup tanah, Erde memandang Mar lekat sambil berkata, “Hari ini kita telah kehilangan seekor kucing yang selama ini tinggal di tempat yang sama dengan kita. Ia makan makanan yang sama. Kita dan Meong adalah satu keluarga. Tuhan bilang bahwa ia menciptakan binatang dan burung-burung melainkan mereka umatNya juga. Tidak berbeda dengan kita manusia. Kita sama dengan Meong, akan juga pergi suatu hari nanti. Kepergian Meong hari ini akan kita kenang sebagai pelajaran bahwa kepedulian tidak pernah terbatas spesies.” Erde menutup pidato singkatnya dengan lantunan azan. Setelah itu, kuburan benar-benar telah ditutup tanah. Nisan sederhana disematkan sebagai tanda.

Mar terisak, tidak siap akan pemandangan yang baru saja dialaminya. Lidahnya terasa kelu dan pahit. Di sisi lain, Erde memberikan selembar daun Baobab untuk Mar. Tanpa bertanya, Mar meletakkan daun itu di atas gundukan tanah kuburan Meong dan menyiram air perlahan.

“Penyesalan akan sia-sia jika tidak diikuti janji. Terima kasih Meong, hidupmu yang singkat mengajarkan aku untuk tidak menunda kebaikan. Selamat jalan. Kami akan menjaga teman-temanmu,” isak Mar.

Hari itu, Mar tidak saja menerima selembar daun baobab dari Erde. Daun baobab seketika menjelma isyarat dari semesta, membisikkan bahwa setiap ujung perpisahan melahirkan sebuah pertemuan yang tidak terduga. Mar dan Er hari itu adalah dua orang paling beruntung di dunia.

Selatan Jakarta
Mei, 2020.

Feature image: pinterest

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s