Categories
Poem and Prose

Setia Sekali Waktu

#05 – 31 Hari Menulis

“dhudhu sanak dhudhu kadhang, yèn mati mèlu kélangan..”
(Bukan keluarga bukan kerabat, kalau meninggal ikut kehilangan)

Kalimat itu terlintas tadi pagi saat mentas meditasi dan mengecek kabar terbaru di ponsel. Tertulis judul besar dan menggigit: “Didi Kempot, The Godfather of Broken Heart Tutup Usia.”

Tembangnya adalah sepotong fragmen masa kecil saya. Mengingatkan saya pada bapak yang belum berdamai. Pada angin pegunungan yang diam-diam masuk rumah, juga pada musik-musik yang bapak putar setiap hari minggu. Didi Kempot andil berjasa mengenalkan kita semua pada format musik yang cair dan lebur: Skena Campursari.

Ada yang tak berubah dari sosok Pakde. Nama Kempot yang melekat pada dirinya sebenarnya bukanlah nama asli. Kempot, konon adalah kependekan dari Kelompok Pengamen Trotoar. Tempat ia melahirkan tembang-tembangnya, bertemu dengan kawan penggiat musik dan langgam daerah. Kalau kita telisik lagu ciptannya, sebenarnya bukan hanya perkara patah hati dalam hubungan asmara. Lebih jauh, Pakde Didi mengangkat realita kemiskinan. Lagunya berangkat dari cerita-cerita jalanan tentang seorang malang yang ditinggal kekasih karena dianggap tak mampu menghidupi. Pakde Didi banyak mengambil ruang temu orang pinggiran, seperti Stasiun Balapan atau Terminal Tirtonadi, bukannya bandara misal. Apa-apa yang dituturkannya adalah persaudaraan satu rasa. Sebab, selain harapan bangsa kita dipersatukan oleh cidro.

Didi Kempot yang kita kenal adalah penyanyi yang tak segan mengajak penggemarnya naik ke panggung untuk berdendang dan berjoget menikmati lagu bersama. Salah satu lagu yang dikenal generasi sekarang adalah Pamer Bojo yang menyimpan jargon legendaris Cendol Dawet Seger Limangatusan.

Karya dan kerja kerasnya dalam siasat menghidupkan Campursari tidak hanya dikenal di Indonesia, melainkan hingga ke negeri jauh. Tetapi sebesar apapun pengakuan dan sepanjang apapun deretan penghargaan yang diraih, ia tetaplah Didi Kempot yang rendah hati.

Beberapa hari sebelum kepergiannya, ia menggelar Konser Amal yang disiarkan TV Nasional. Konser ini mencetak sejarah dengan pencapaian lebih dari 6 milyar dari 7000 lebih Sobat Ambyar dalam satu malam saja.

Didi Kempot meninggalkan pesan penting tentang kesetiannya pada akar rumput dan kelestarian budaya.

Selamat jalan, Pakde. Terang dan lapang jalanmu.

Feature image: Pinterest

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s