Categories
Poem and Prose

Kado (Syair) buat Bapak

#07 – 31 Hari Menulis

Salatiga, 2013.

“Udah pokoknya kamu kuliah yang dekat saja. Semarang boleh, Jogja boleh, Solo juga, yang penting dekat.Teman-teman kamu juga semuanya deket juga. Buat apa jauh-jauh, belajar bisa dimana saja. Kalau dekat malah bisa sering pulang.”

“Kenapa ngga boleh jauh?”

“Ya ngga boleh.” Bapak mencapai titik final.

Ada keheningan bertengger kokoh memenuhi ruangan selama beberapa waktu.

Saya menyeletuk. “Bapak tahu Imam Syafi’i?”

“Ya tahu lah, itu kan imam besarnya orang Islam.”

“Bapak mengikuti ajarannya, to?”

“Lho ya memang, mazhab yang kita pakai itu Mazhab Syafi’i.”

“Kalau begitu sebentar.” Saya bergegas menuju kamar dan kembali ke hadapan bapak dengan sebuah binder di tangan.

Binder itu berwarna coklat muda dengan gambar beruang di sisi pinggir. Ukurannya cukup tipis, tidak banyak lembar kertas di dalamnya. Halaman pertama dari binder itu adalah logo sebuah kampus negeri di Depok yang lama saya idamkan. Logo yang kubuat sendiri tanpa kemampuan menggambar. Logo yang juga saya cetak besar dan terpajang di dinding kamar. Logo yang sama, ada di tempat pensilku. Logo itu mujarab jadi simbol pengingat dan penguat.

“Bapak, Imam Syafi’i pernah menulis begini. Saya bacakan ya.”

Saya membaca dengan suara penuh dan tekad bulat.

Syair dari Imam Syafi’i

Orang pandai dan beradab
tak ‘kan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

Aku melihat air yang diam menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih jika tidak, dia ‘kan keruh menggenang

Singa tak ‘kan pernah
memangsa jika tak tinggalkan sarang

Anak panah jika
tidak tinggalkan busur tak ‘kan kena sasaran

Jika saja matahari di orbitnya tak bergerak dan terus diam, 
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Rembulan jika terus-menerus purnama sepanjang zaman, 
Orang-orang tak ‘kan menunggu saat munculnya datang

Biji emas bagai tanah biasa sebelum digali dari tambang
Setelah diolah dan ditambang manusia ramai memperebutkan 

Kayu gahru tak ubahnya kayu biasa di dalam hutan
Jika dibawa ke kota berubah mahal seperti emas

Pergilah ‘kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan teman
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

“Ya benar. Bapak dulu juga merantau.”

“Bapak boleh merantau jauh. Ibu boleh merantau jauh. Kenapa saya tidak boleh?”

Percakapan di tahun 2013 antara saya dan Bapak itu patut dikenang. Sejak syair itu dideklarasikan, Bapak menjadi orang pertama yang paling sigap sedia membantu saya mengurus keperluan administrasi, tiket keberangkatan, menghubungi saudara di perantauan.

Hari ini, Bapak memasuki usia 57 tahun. Bukan syair atau tulisan ini yang menjadi hadiah untuknya. Tulisan ini hanya medium untuk saya dapat mengingat, bahwa seringkali yang diperlukan oleh dua orang manusia adalah rasa pengertian. Pengertian diwujudkan dalam penjelasan. Tidak mudah buat Bapak menerima keputusan anaknya. Buat saya pribadi, pertimbangan dan argumennya mungkin sulit dimengerti. Tetapi dialektika kami ‘nuju satu.

Bapak, selamat ulang tahun.


Cilandak,
7 Mei 2020

Feature image: Pinterest

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s