Categories
Poem and Prose

Sekawan Surat di Penghujung Tahun

#16 – 31 Hari Menulis

Mereka yang menerima adalah mereka yang pantas menerima.

Dear AI,

Kalau diingat lagi, berjalan menyusuri danau Rumpin adalah cara kita melewati simulasi kehidupan ya, Kak?

Ada panas, tanah becek, kadang dihalangi kerbau. Tetapi semuanya ngga selalu kabar buruk. Kadang kita bertemu orang yang rela menumpangi, kadang kita melihat sepasang bapak dan anak memancing di danau. Banyak hal baik yang kalau kita mau berharap, bisa kita dekap rapat-rapat, lalu kita rayakan sedikit.

Rasa tidak pernah bohong, begitu juga rasa yang ** benamkan dalam kata-kata, dalam keseharian. Tahun ini, itu semua tertutup dalam padu, dalam harmoni.

Maka mari berharap hal-hal baik dan harmoni di hari besok dan minggu depan. Serta bersiap melawan hal-hal tak terduga!

Dear SH,

Ingat di masa kecil dulu, bagaimana kamu mendefinisikan mimpi? Seorang anak perempuan yang suatu hari akan mewakili negaranya.

Lihat kamu sekarang, berdiri jauh lebih tegap dari yang kamu bisa kira, meski kondisi di tahun ini justru jauh berbeda dengan kondisi-kondisi sebelumnya.

Selamat telah menjadi manusia yang terbang lebih tinggi ya. Senang berbagi memori bersama dari kota kecil dulu sampai get a lost di the famoust KL. Aku yakin, insyaAllah, kamu akan jauh lebih bersinar tahun depan!

Cheers untuk banyak harapan yang akan menyala dan aku yang akan menjadi saksi kesuksesanmu nanti!

Dear, Dr

10 tahun lalu, yang kita tahu adalah tugas sekolah dengan segala manis asam asin kehidupan sekolah dan remaja. Hari ini baru kita sadari tugas itu terberai dari tugas diri sebagai manusia, sebagai perempuan, politisi, teman, akademika, anak, sahabat alam, juga segala atribut yang tak berkesudahan.

Tahun ini, kamu, **, telah membuktikan bahwa hal yang mungkin terjadi bisa saja tidak terjadi, juga sebaliknya. Sekaligus juga, hal yang nampak sangat mematikan, ternyata tidak terlalu menyakitkan.

Katanya, kalender baru tidak selalu menjadi pribadi baru. Aku harap, kamu tetap menjadi ** dengan 1000x jatuh bangun menuju ranum! Kalau kata Pak Gandalf waktu ngobrol sama Frodo, “All we have to decide is what to do with the time that is given us.”

Dear Z,

Pada tiap pelukan di sela peluh kerja itu, kita bertukar resah. Juga pembicaraan di sofa biru laut dekat tangga. Atas itu semua, terima kasih sudah berbagi memori!

Dua belas bulan (atau lebih) kebelakang kamu banyak memberi dirimu pada pekerjaan, pada tulisan-tulisan yang terkonversi menjadi jumlah like, follow, juga donasi. Meski itu semua tidak nampak untuk dirimu, percayalah bahwa energi dan rasa itu perlahan sedang menuju ke dirimu untuk segera berganti menjadi karya-karyamu pada apa yang kamu senangi. 20.20 terlihat seperti lambang keseimbangan bukan?

Aku, dari ujung lantai 2 sini selalu berdoa buat hal-hal baik yang datang, hal-hal jahat yang siap kamu lawan. Apapun itu, semoga diterangkan!

Dear C,

Setahun kebelakang tampak seperti padang bunga yang luas. Kanan dan kiri kita akan melihat warna-warni yang terayun angin. Itu yang orang lihat pada diri kamu. Sementara, kalau sedikit saja jongkok dan melongok, kita dapati ulat yang mencoba makan daun, hujan yang tak kunjung turun dan sebagainya.

Poinku adalah, seperti apapun orang melihat, yang tahu kondisi padang bungamu itu adalah kamu sendiri. Sebagaimanapun orang tertarik dengan padang bungamu, yang mau merawat adalah dirimu sendiri.

Tahun depan, aku melihat bahwa kamu adalah bunga yang mekar lebih lebar!

Dear Ns,

Kita punya plester buat menutup luka di lutut atau dahi, tapi plester macam apa yang bisa menutup luka kita di masa lalu?

Bahkan pada kedalaman paling dasar, penyesalan itu tetap terasa seperti lubang hitam yang menyedot kita sonder ampun.

Menjadi ** adalah menjadi persona yang peka akan rasa di sekitarnya, ekspresif tanpa berusaha impresif. Lebih banyak tawa, bukan berarti lebih bahagia, tetapi sekarang buatmu yang paling penting adalah kecukupan. Cukup akan hidup, cukup akan cakap.

Tahun ini seperti sekotak kaset yang menunjukkan bahwa kamu tidak sendiri, begitupun di masa-masa yang akan datang, masa yang akan lebih menantang. Mungkin kamu akan terjengkang, tertendang, atau ditolak. Semuanya sakit. Kalau dia tidak mematikan, berarti dia menyembuhkan.

Cheers untuk lebih banyak momen melegakan!

Dear O2,

Saat kita berebut ruangan untuk bernapas, kamu rela menjadi tumbuhan agar setiap orang disekitarmu dapat mencecap oksigen dengan lebih mudah. ** yang aku kenal adalah ** yang sigap untuk sekitar, untuk say “yes” pada segala kemungkinan. Kamu, bagaimanapun telah mewarnai sekitar.

Kadang-kadang, karena itu kamu merasa dituntut untuk menjadi pelangi yang selalu indah pada cuaca paling mendung. Padahal, putih seringkali sudah mencukup untuk menyerap semua nuansa, menyerap semua rasa, menjadi pendengar keliuh kesah sekitarmu.

Tahun depan, kamu bisa bermimpi lebih tinggi, terbang lebih jauh, bertemu manusia lebih banyak, dan menyiram ke dalam dirimu lebih banyak. Selamat berjuang!

Dear, Ec

Berbagi memori dari Depok, Warung Buncit, Pondok Indah hingga ke SCBD adalah cara kita menertawakan kehidupan. Aku bersyukur aku berbagi memori itu bersama kamu, **.

Saat ini mungkin kamu tidak tahu apa yang bisa kamu lakukan. Untuk itulah, kamu mesti banyak melihat ke dalam dan menyaksikan bahwa mutiara itu ada di dalam kerang. Bukan mengapung di permukaan. Bahkan jika sedikit menengok ke belakang, kamu akan melihat toga yang kau lempar, sebentar lagi akan terbang lebih tinggi.

Seperti Kale yang mencoba menjadi entitas detoksifikasi, kehadiranmu adalah tentang menyembuhkan dan disembuhkan. Jadi, tetaplah hadir untuk hari ini, minggu depan dan sampai nanti.

Dear Chl,

Ada banyak kehilangan dan patah asa di tahun ini bukan berarti kamu pulang dengan tangan hampa. Segala yang hilang akan terganti dan apa-apa yang ** tunggu akan datang sebentar lagi, atau kalau kamu tidak sabaran akan kamu jemput juga kan?

Melalui mu aku belajar, bahwa menebar baik ke banyak tempat adalah caramu sebagai sapiens hidup dan yakin bahwa suatu hari nanti, benih-benih itu akan berbuah manis. Kebaikanmu itu tanpa pestisida, Kak.

Aku jadi ingat, seorang novelis dari Amerika, John Updike pernah bilang begini, “You cannot help but learn more as you take the world into your hands. Take it up reverently, for it is an old piece of clay, with millions of thumbprints on it.” Menurutku, kita bisa mengamini apa yang dia bilang.

Untuk tahun-tahun depan yang tidak lebih mudah, ayo bersulang ocha dingin!

Feature image: Pinterest

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s