Categories
Poem and Prose

“Lelembut,” kata Geertz

#20 – 31 Hari Menulis

Seberapapun panjang durasi pengerjaan tugas, seminggu atau bahkan sebulan, mahasiswa kebanyakan lebih suka mengerjakan sehari sebelum batas pengumpulan. Entah apa yang mereka cari, mungkin adrenalin atau rasa senasib sepenanggungan mengemban beban berat saat memilih mengerjakan tugas bersama. Satu hari masih boleh lah, tapi kali ini Mba Twiti benar-benar tidak habis pikir. Koridor gedung jurusan dipenuhi mahasiswa duduk bersila dengan laptop di pangkuan dan mata yang menyorot tegang. Sayup ia dengar “postmodernisme”. Klop! Sudah dua minggu tugas itu diberikan, baru dua jam sebelum kelas dimulai, kenapa semua mahasiswa masih kelimpungan. Misi berat apa yang mereka pikul dua minggu ke belakang hingga tugas ini terabai bak kerang terdampar di pesisir.

Mba Twiti masuk kelas dengan wajah masam. Semasam langit di luar kelas yang mengguyur hujan deras.

“Mana yang lain, kenapa belum datang?” Kalimat pembuka kelas khas Mba Twiti jika moodnya sedang buruk. Tidak ada sapaan penuh ramah-tamah ala ibu teladan.

“Gawat!” batin tiap mahasiswa sambil celingak-celinguk kanan kiri. Beberapa tampak sibuk dengan telepon genggam untuk menghubungi temannya yang mungkin masih terjebak antrian di percetakan. Tugas yang mestinya tepat dikumpulkan sore itu rupanya masih terhadang macet di mesin fotokopi.

“Saya toleransi lima menit untuk yang belum datang. Kasih tahu temannya. Di kelas hari ini, setiap orang harus bicara. Mereka yang diam, akan saya beri nilai minus.” Serentetan kalimat itu jadi pamungkas buat mahasiswa di kelas. Pertanda bahwa kehadiran pikiran dan jiwa mereka harus tertuang penuh pada sesi kelas hari ini yang akan mengupas bab postmodernisme berikut dengan post truth, relasi kuasa dan segala hal yang abu-abu.

Anti, mahasiswa asal Jawa Tengah itu mendengarkan Mba Twiti dengan takzim. Setiap perkataannya ia masukkan ke labirin otak dan dipertemukan dengan kata kunci yang ia temui dalam materi wajib perkuliahan. Kadang otaknya tergesa untuk sepakat dengan apa yang disampaikan oleh Mba Twiti. Di waktu lain, pernyataan-pernyataan yang barusan didengarnya bertentangan dengan perbincangannya di tongkrongan. Memang, Anti selalu berada di lingkaran tempat nongkrong yang cukup betah bicara hal di tataran ideologi atau filosofis.

Dua jam kelas telah berlalu dan Anti belum juga membuka mulut. Tidak ada satu kata pun meluncur dari pita suara menyeruak dari sela dua bibirnya. Kondisi ini kontras dengan teman sekelas Anti yang begitu ambisius bertanya dan saling menanggapi. Anti di sisi lain, tak terbiasa menyampaikan pendapat. Bahkan jika harus, budaya tempat ia tumbuh melatihnya untuk menyampaikan apapun sehalus dan sesantun mungkin.

“Anti dan Bentang…” panggilan Mba Twiti membuyarkan lamunan Anti. “Kalian pernah baca buku Clifford Geertz?” sebuah pertanyaan acak, meluncur begitu saja.

Anti dan Bentang menjawab terbata, “Ya, Mba.” Anti mengingat-ingat buku itu memang sempat ia baca beberapa bab saja dan belum menyentuh halaman terakhir.

“Menurut Geertz, Orang Jawa punya kepercayaan tentang makhluk halus yang dibagi ke beberapa kategori. Ada memedi yang sifatnya menakut-nakuti, ada tuyul dan ada yang seperti kalian ini, lelembut. Ada tapi tidak kelihatan.”

“Kalian mau bicara atau saya beri nilai minus?” Basa-basi itu berlanjut pertanyaan yang langsung menghunus sasaran tembak tepat di dada. Ekspresi Anti yang sebelumnya antusias berganti waspada. Sekali ia menoleh ke Bentang.

Bentang mengangkat tangan, “Saya mau cerita tentang kata pecun, Mba” Mendengarnya, wajah Mba Twiti tampak mengendur. Ia mengisyaratkan Bentang untuk menyelesaikan ceritanya.

Kini, giliran Anti yang cemas.

Selesai dengan Bentang, Mba Twiti sekarang fokus menatap Anti. Tidak ada belas kasih. Anti harus bicara atau ia akan dihabisi. Kesempatannya hanya saat ini.

Anti mendadak mendapat akal. “Sebenarnya ketika dari awal kelas saya tidak mengucapkan satu kata pun, saya sedang menerapkan postmodernisme, Mba.”

Kelas gaduh. Banyak wajah berspekulasi, ada yang tersenyum bahkan hampir saja tepuk tangan.

Anti tiba-tiba menyesali perkataannya barusan namun ia tetap melanjutkan kegilaannya pertama di depan dosen. “Ketika Mba Twiti meminta setiap orang bicara dan saya memilih diam. Saya sedang mengkritik relasi kuasa di antara Mba Twiti sebagai kuasa tertinggi di ruangan ini dan saya sebagai resisten.” Sekarang Anti benar-benar habis. Lumat. Lututnya lemas dan ia merasakan hawa AC ruangan menjadi tiga kali lebih dingin.

Seisi kelas kembali gaduh. Kali ini bahkan ada yang betul-betul bertepuk tangan.

“Tapi ketika kamu akhirnya bicara, kamu sudah membuktikan bahwa kuasa saya lebih tinggi dari kamu.” Meski kalimat itu terasa checkmate tapi Mba Twiti melontarkannya dengan sorot yang lebih tenang dan senyum tipis.

Dalam hati, Anti tidak peduli kuasa mana yang lebih tinggi. Ia hanya tahu, hari itu ia telah mengalahkan ketakutannya untuk bicara dan paling tidak hadiah nilai minus tak ia dapatkan. Soal relasi kuasa yang timpang di antara ia dan dosen, sungguhlah menjadi perhatian nomor sekian.

Anti dan Mba Twiti keluar meninggalkan senyum. Benar kata para alumni itu, kelas perkuliahan adalah zona paling aman untuk berdialektika, berbuat salah, dan berbeda isi kepala.

Selatan Jakarta,
Mei 2020.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s