Categories
Humanity and Social Poem and Prose

Cerita Tulang Ayam

Seorang pemuda lahap menyantap makan siangnya. Makan kali ini harus terbaru-buru karena tenggat waktu tugasnya harus selesai hari ini. 

Pada suapan ke-13, sebuah pikiran melaju pada lalu lintas kepalanya. Menyelip di antara tugas kantor yang tak kunjung sepi. 

“Butir-butir nasi adalah padi yang mati. Bahkan di dalam kematiannya saja, ia membuatku penuh. Mentransferku dengan C6H12O6 dan memungkinkan aku berkegiatan. Lantas bagaimana denganku? Adakah aku berguna dari keberadaanku?”

Pikirannya itu terus memutar di kepala bak kehabisan tempat parkir. Sampai ia tak sadar bahwa makanannya telah hampir habis. Hanya bersisa sedikit lalap dan tulang ayam.

Seekor kucing genit datang dari teras dan menghampiri pemuda kekenyangan. Kumis panjang yang tak pernah dicukur itu bergerak naik turun. Si kucing genit memasang mata penuh harap. 

Tanpa ba bi bu, pemuda itu mengambil tulang ayam dari piringnya, diletakkan tulang belulang itu di atas bebatuan. 

Kucing genit dengan penuh sigap dan semangat revolusi memancungkan hidungnya demi pengendusan total. Seketika tulang ayam itu sudah gemeretak dalam giginya yang runcing.

Melihat kucing teramat menikmati tulang, pemuda tadi pun berlalu. Tujuannya telah selesai. Ia diuntungkan karena tak perlu bersisa sampah makanan. Di sisi lain, ia tak akan lagi diganggu kucing genit dan bisa fokus melanjutkan serimba pekerjaannya.

Kucing genit tadi menaik-turunkan kumisnya lagi ditambah lambaian lidah penuh kenikmatan. Matanya menyorotkan kepuasan. Dengan perut gendut menggantung, ia melangkah pergi.

Selepas adegan itu, segerombol semut hitam dengan langkah tergesa mendatangi tulang yang disisa Si Kucing Genit. Saat telah mendekat, mereka bersorai penuh suka cita. 

Pemuda tadi tak pernah tahu, bahwa keberadaannya adalah kurir berkah untuk satu serikat semut yang kini tak perlu lagi khawatir kelaparan sampai satu minggu kedepan.

Pemuda yang sibuk bekerja tadi mungkin belum menyadari, bahwa hadirnya adalah juga manifestasi rahmatan lil alamin, yang membawa kasih sayang dan rahmat kepada seluruh alam semesta. Kali ini semesta kucing yang menjadi pelanggannya. 

Kadang tidak perlu berbuat besar untuk bermakna besar.

Dago,
Juni 2021

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s