Categories
Article

Di Atas Meja Makan

Sebuah pertanyaan terlontar dari sebuah teman, “Kenapa tiba-tiba berkebun?”

Sebenarnya tidak ada yang terlalu tiba-tiba. Memang mungkin baru benar-benar memulai melakukan. Tetapi proses untuk mencapai pemahaman dan pemikiran itu sungguhlah panjang. Menjadi aksi keseharian yang kasat mata, saya rasa adalah buah dari perjalanan yang tidak sebentar. Little did they know, i’ve started from the very beginning: my mom.

Aku lahir dan tumbuh di lingkungan kampung (desa). Suasana ini memungkinkan aku dan keluarga memiliki lahan kosong yang dapat ditanami apa saja, bahkan sampai beberapa puluh pohon besar. Lahannya mungkin tak seluas ladang atau sawah, hanya kebun di sekitar rumah, tapi kesuburannya cukup untuk mengafirmasi lagu Koes Ploes:

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

Ibu dulu punya daun salam, tanaman cabe, daun jeruk, serai wangi, kemangi dan tanaman pangan lain yang siap petik untuk dikonsumsi. Hampir setiap hari aku mendengar teriakan suara tetangga yang minta izin memetik dan ibu selalu berkali-kali bilang, ambil saja.

Saat aku dulu jatuh dan kulitku lecet, atau saat-saat aku belajar memasak dan kulitku kena minyak panas, aku akan meringis kesakitan. Saat itu, ibu akan berlari ke kebun, memetik satu atau dua batang lidah buaya, merobeknya sedikit dan mengoleskan lendirnya ke lukaku. Biasanya aku akan langsung diam, karena sensasinya yang dingin dan ibuku akan terus mengoles sambil membacakan shalawat. Adegan pengolesan lidah buaya itu kemudian bisa aku lakukan secara mandiri ketika terjadi luka di kulit.

Begitu pun saat aku batuk. Ibu akan mengambil kencur atau jeruk nipis dari kebun dan minta aku mengonsumsinya. Kata ibu, itu semua namanya Apotik Hidup.

Ibuku juga memiliki banyak kesukaan pada tanaman hias. Pengetahuan akademisnya yang banyak dilatarbelakangi biologi, pertanian dan peternakan membuat kemampuannya mengolah tanah kosong menjadi rumah bagi tanaman rimbun dan bunga-bunga cantik terasa mudah tanpa usaha.

Aku menikmati kenyamanan petik lalu konsumsi itu secara cuma-cuma dan cenderung take for granted. Hingga aku akhirnya merantau ke Jakarta dengan suasana kota megapolitan. Aku kemudian menyadari bahwa ruang gerak tanam dan konsumsiku menjadi amat terbatas. Aku tidak bisa memetik cabe waktu aku masak indomie, misalnya. Semua harus aku beli. Saat aku kuliah di FISIP, aku mulai belajar tentang disekulibrium relasi kita dengan alam, tentang ketahanan pangan dan politisasinya serta banyak hal lain yang membuat aku sampai pada satu premis: Berkebun itu menghidupi.

Hanya sampai pada premis itu, kemudian aku disibukkan dengan rutinitas kerja pasca lulus sarjana. Pekerjaanku lumayan sering membuat aku pergi ke luar kota dan karena aku juga suka traveling sendiri. Sehingga waktu untuk di hunian menjadi terbatas. Saat-saat pulang kampung adalah saat penyegaran untuk sendi-sendi tulang dan panca indera. Interaksi dengan layar berganti dengan hijau, kuning, cokelat, merah, warna kebun. Panas gawai perangkat kerja berganti dengan hangat ibu.

Maka setidaknya, pandemi membantuku memberi ruang juga waktu yag amat berharga untuk eksplor dan bereksperimen dengan tanaman. Di tempat tinggalku yang sekarang, tidak banyak lahan tanah. Jadi aku harus belajar untuk menciptakan medium tanam yang cocok untuk apa yang mau ku tanam. Tidak ada lahan membuatku harus memanfaatkan balkon untuk membuat satu sudut kebun kecil yang penuh dengan pot. Sampai saat aku tulis, aku punya beberapa tanaman seperti kembang telang, daun mint, kacang panjang, cabai rawit merah, cabai keriting, okra, kale, tomat ceri, jahe, serai, daun bawang, dan lidah buaya.

Aku mencatat beberapa pembelajaran dan refleksi dari berkebun di rumah:

  1. Belajar mengevaluasi relasi yang bermakna dengan alam, khususnya tanaman dan ekosistem di sekitarnya. Relasi yang lebih dalam dan bermakna untuk menciptakan saling tukar energi.
  2. Belajar menghargai proses.
    Aku pribadi merasa bahwa berkebun tidak bisa berdiri sendiri untuk membuat aku belajar lebih dalam tentang proses. Sehingga, selain menanam aku juga berusaha untuk mengolah makanan sendiri (memasak).

    Aku dijarkan bahwa perjalanan makanan itu panjang. Dari saat ia berupa benih, tumbuh menjadi tanaman, dapat dipanen, diolah menjadi makanan siap saji, masuk ke mulut kita, menjadi nutrisi untuk tubuh, kemudian dibuang lagi ke alam. Namun, kita sering kali hanya fokus pada satu titik perjalanan yaitu saat ia kita cecap, di lidah. Enak atau tidak enak. Padahal menurut sistem pencernaan saja, itu adalah sebagian kecil. Setelah ia masuk ke kerongkongan, lambung, usus, makanan akan bernilai dari nutrisi bukan rasa.

    Berkebun dan memasak membuat aku belajar untuk berfokus pada hal-hal yang lebih esensial. Jadi dibanding rasa, ada banyak elemen lain yang sama pentingnya, seperti nutrisi, apakah makanan yang kita makan sudah sesuai dengan kebutuhan.
  3. Belajar lebih menghormati dan berempati pada orang-orang yang bergerak di bagian ketahanan pangan seperti petani. Kita jadi paham bahwa petani punya tantangan besar, dari mulai tantangan ekologis seperti perubahan iklim, mungkin hama. Juga tantangan yang bersifat struktural seperti pembangunan yang berorientasi pada keuntungan saja. Kita jadi tahu bahwa banyak sekali hal yang jauh lebih besar dari apa yang tampaknya dan rasa yang kita makan.
  4. Belajar berbagi. Mengenal konsep komunalitas dan spirit kolektif dengan bertukar hasil panen. Ini juga merupakan manifestasi semangat dekapitalisasi. Ketika semua bisa berproduksi sendiri-sendiri, tidak ada interaksi yang terlalu transaksional tanpa pretensi strategi dan sebagainya.
  5. Memberi jeda. Tentu saja, berkebun dalam skala rumahan membuatmu dapat melepas tuntutan-tuntutan ketat khas pekerjaan, membuat kita menciptakan pilihan-pilihan benar-benar atas preferensi sendiri.
  6. Makan bermakna dan menyayangi tubuh
    Setiap makanan di atas meja makan adalah berkat dan berkat itulah yang akan kita bawa kemanapun dalam tubuh kita. Berkat itu juga yang mengantar kita berpikir, merasa, berbicara hingga mengambil keputusan. Setiap yang berada di atas meja makan adalah berharga meski hanya sebutir nasi atau sisa kuah tak seberapa. Jika kita menyadari bahwa makanan itu sampai ke atas meja makan dengan proses yang panjang, kita perlahan akan berhenti mengeluh dan berhenti membuang.

Itu tadi sedikit refleksi perjalananku tentang berkebun dan menanam. Semoga bermanfaat ya. Saranku untuk teman-teman yang mau mulai menanam: mulailah tanam apa yang kamu suka dan buatmu mudah.

Fir // 2020

Featured Image Source: here

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s