Categories
Poem and Prose

Bocah dalam Gendongan

Sudah seharian hujan tidak juga berhenti. Tumbuhan dan binatang merasa mendapatkan berkah setelah berbulan-bulan melewati kemarau nan panjang. Meskipun sebetulnya mereka tidak pernah protes. Binatang dan tumbuhan adalah dua kingdom organisme yang paling patuh pada alam. Bagi mereka, alam lah yang lebih tau apa yang baik dan apa yang perlu. Alam adalah ibu kandung mereka, dan selayaknya anak yang berbakti pada ibunya, mereka tidak pernah sambat. Mereka hanya perlu melahap apa yang ibu kandung suguhkan tanpa perlu mencari yang tak ada.

Nuansa khas musim hujan begini selalu saja menggugah untuk diresapi. Ember langit yang menumpahkan isinya sampai habis ke bumi menyisakan riang pada pemandangan sekitar rumah. Rerumputan gajah di pekarangan samping mulai menggeliat ditetesi air langit.  Hujan membuatnya tumbuh bongsor. Persis seperti anak yang diberi suplemen makan dari sari-sari temulawak dan zat omega ikan laut. Tubuhnya kini hampir setinggi lutut orang dewasa. Membuat ular menjadi nyaman melata di ruas-ruasnya tanpa takut harus terlihat manusia dan terancam dipukul. Itu masih belum kejam dibanding dikuliti di tempat jika sampai tertangkap manusia. Kulit ular bisa sangat mahal dijual pada juragan-juragan yang gila mengoleksi pernik binatang liar. Sambil memamerkan kulit ular, mereka akan berlagak seperti mendapatkan sendiri—perburuan hasil keberaniannya mengarungi hutan.

Di sisi yang lain, lumut bermunculan tak terkendali. Di tembok, di paving atau bahkan sesekali dengan nakal hidup di sela-sela tegel teras rumah yang penghuninya jarang membersihkan. Katak-katak kawin, sambil sembunyi dari sergapan ular beringas yang sewaktu-waktu menerkam. Walang sangit menari dengan empat tangannya di tanah becek sebagai lantai dansa, diiringi melodi jangkrik dengan empat tingkatan suara yang berpadu membentuk irama. Semak belukar menjadi ruang kesenian dengan  berbagai pertunjukan yang apik.

Musim hujan seperti ini giliran laron bermusafir. Mereka akan bergantian keluar rumah dan segera mencari peruntungan. Pergi dari satu tempat ke tempat yang lain. Bukan tanpa resiko, tapi itulah hidup yang sejati. Laron sudah bertaruh untuk hidup mengembara sejak lama. Mereka sudah terikat pada ikrar dalam liang tanah. Tak gentar jika nantinya mungkin akan berakhir di dalam kolon ayam rumahan yang diberikan pemiliknya daging laron tangkapan semalam.

Adalah Mar, bocah lima tahun yang melongok dari balik jendela menontoni panorama hujan itu. Matanya tak berkedip menelanjangi setiap inchi kehidupan di luar rumahnya. Sebetulnya ia ingin sekali keluar. Berdiri diguyur hujan deras, sambil sesekali melompati lumpur dan mengotori kaos gambar popeye si pelaut tersohor yang suka makan bayam. Kaos itu baru  dibelikan uwaknya di pasar pagi. Tapi ia ingat cerita ibu kalau hujan tidak berhenti sehari semalam, berarti makhluk-makhluk jahat berkepala delapan dengan gigi dan kuku yang tajam sedang keluar. Mereka datang dari mana-mana. Ada yang turun dari langit dan ada juga yang naik dari bawah tanah. Mereka mengutus hujan biar mengelabuhi pengelihatan manusia. Setiap mengingat cerita ibunya tentang makhluk berkepala delapan, niat Mar untuk bermain di bawah hujan selalu urung seketika.

Adalah Mar, bocah yang lebih sering digendong bapaknya dibanding ibunya. Mar punya adik laki-laki yang usianya baru 65 hari. Kalau tidak netek pasti selalu menangis minta gendong. Meski masih belia Mar tetaplah seorang kakak. Dan kakak tidak boleh tidak mengalah. Jadilah Mar lebih sering menghabiskan waktu dengan bapaknya.. Tak lela lela lela ledhung…….. Cep menenga anakku sing manis……. Bapak selalu nembang begitu tiap kali Mar digendong dan hendak ditidurkan. Mar selalu merasa nyaman dan tentram dalam dekapan hangat bapak. Ia selalu mendengarkan tembang bapaknya dengan takzim. Seberapapun lelahnya ia setelah seharian bermain selalu lebur dan suara khas bapaknya mampu membuatnya tidur jutaan kilometer dalamnya. Tanpa takut mimpi buruk atau pipis di tengah tidur.  Di dalam dekapan bapaknya, Mar bisa merasakan jantung mereka saling berdekat. Detaknya yang teratur lup dup lup dup membuat Mar selalu merasa: hanya hal yang baik yang akan datang pada keluarganya. Dalam sanubarinya, ia tidak mau apa-apa lagi. Dalam gendongan bapaknya, ia tidak perlu mencari tenang karena ia telah menemukannya.

Selain kalau mau tidur, Mar juga kerap digendong bapaknya sehabis mereka selesai sembahyang. Bapak akan menggendong Mar dengan masih memakai sarung tenun kesukaannya—sarung pemberian ayahnya Bapak yang pernah melaut sampai Makassar. Biasanya bapak akan cerita tentang cerita-cerita masa lampau dimana pahlawan gagah berani mengangkat senjata melawan penjajah. Kadang bapak juga menceritakan tentang tumbuhan, binatang, juga jamur yang sering disalah artikan sebagai tumbuhan. Bapak pernah bercerita bagaimana jamur bisa bertahan dari zaman dinosaurus hingga sekarang dan bagaimana jamur di seluruh dunia dapat saling berkoneksi. Atau, bapak akan cerita mengapa kecoa bisa hidup tanpa kepala namun bisa mati jika terus telentang. Bapak juga suka mendongeng. Bapak punya banyak cerita dongeng yang selalu berbeda setiap harinya. Kalau sedang mendongeng, bapak akan sangat ekspresif. Bola matanya akan bergerak-gerak ke kanan dan kiri, kumisnya yang tebal mengayun naik turun, intonasi nya juga bisa berubah-ubah sesuai tokoh yang ia perankan. Pokoknya, bapak adalah pendongeng yang menakjubkan.  Namun malam ini selepas shalat isya’, bapak tidak mau bercerita pahlawan, atau tentang tumbuhan. Bapak juga tidak berniat mendongeng. Malam ini bapak membacakan anak gadisnya yang berumur lima tahun itu ayat Al-quran. 

“Nduk, sesungguhnya nama kamu itu diambil dari salah satu surat dalam Al-quran. Namanya surat Maryam. Pada zaman nabi dulu, Maryam adalah perempuan yang cerdas lagi jujur. Dia juga adalah perempuan yang tabah. Saking istimewanya Maryam, oleh Allah dia diabadikan sebagai nama surat yang ke 19 dalam  Al-quran. Sekarang Bapak akan bacakan kamu ayat yang ke-65.”

Bapak membacakan ayat Al-quran dengan sangat indah. Bapak tartil dengan dialek jawa kental ketika memberi penekanan dalam beberapa tajwid. Itu terasa seperti cengkok dalam lagu dangdut atau lagu melayu. Malam ini Mar menyadari satu hal: selain pendongeng, Bapak juga qori yang andal. Suaranya lantang tapi tetap meneduhkan: 

رَبُّ السَّماواتِ وَ الْأَرْضِ وَما بَيْنَهُما فَاعْبُدْهُ وَ اصْطَبِرْ لِعِبادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا 

(Dialah) Tuhan bagi semua langit dan bumi dan apa yang ada di antaranya keduanya; maka sembahlah Dia dan berteguh hati lah dalam beribadat kepadaNya. Apakah engkau mengetahui ada sesuatu yang sama dengan (Nya)? (QS 19 Maryam: ayat 65). 

Al-quran itu benar anakku. Tidak ada keraguan di dalamnya karena Allah mengetahui apa apa yang ada di langit dan bumi dan di antara keduaya. Kamu tidak perlu bingung mencari benar. Sebab, anakku, segala kebenaran telah dituliskan di sini. Bapak mengusap-usap kepala Mar. Lalu menciumi pipinya. Kanan lalu kiri. Bapak itu menatap anak perempuannya dengan tatapan yang tidak dapat ditebak. Tidak terbaca maknanya seperti palung yang tak teraba dasarnya.

Bapak itu kemudian menyanyikan tembang lagi annakku sing ayu rupane…… Yen nangis ndhak ilang ayune……. Bapak menyeka air matanya sebelum menetes ke pipi malaikat kecilnya. Mar tidak mengerti kenapa bapak menangis. Mar cuma merasakan ada bau tembakau dan cengkeh yang beradu saat ia dekat bapak. Kadang-kadang Mar merasa, bau tembakau membuatnya tenang. Sebab, bau tembakau adalah pertanda bahwa bapaknya hadir bersamanya; bahwa ia sedang dalam gendongan bapaknya.

Bapaknya masih terus dengan tembangnya yang sama tak gadhang bisa urip mulyo……. Dadiya pendekaring bangsa….. Mar tersenyum, kemudian tertidur. Dalam mimpinya ia berjalan bersama bapak, bergandengan tangan. Mereka tidak memakai alas kaki. Keduanya menyusuri jalan setapak yang sunyi dan gelap. Tetapi anak itu sama sekali tidak takut; malah ia damai. Sepasang anak-bapak itu tampaknya mencari jalan menuju matahari terbit. Dimana hanya ada terang sejauh mata memandang cakrawala.

Desember, 1965

Adalah Mar, bocah lima tahun yang tidak mengerti tentang apa yang terjadi. Mar hanya tahu, pada suatu tengah malam ia mendengar langkah sepatu boots menginjak rumput gajah di pekarangan rumahnya yang basah. Lantas kaki-kaki itu menendangi pintu rumah. Mendobrak dengan paksa sampai engselnya copot. Mar beringsut dalam gendongan bapaknya. 

Sama seperti sebelum-sebelumnya, kami hanya menjalankan tugas. Malam ini giliranmu, Kang Bakoh. Tidak perlu berkemas, karena tidak ada barang yang kau butuhkan nanti di ‘sana.’ Pria-pria kekar itu cuma berkata demikian. Begitu singkat. Belum sempat Mar mengerti apa yang terjadi mereka kemudian menarik bapaknya dengan kasar. Mar melihat tengkuk bapaknya dipukul sesaat sebelum mencapai pintu agar bapak tak melawan. Bapak tak sadarkan diri meski tidak ada darah yang menetes sedikitpun. Ibu Mar menjerit kencang meminta bantuan. Namun, sampai pangkal urat kerongkongannya  menegang, tak tampak ada tetangga yang datang. Tak ada yang berani keluar rumah dalam kondisi seperti itu.

Mar diberi tahu ibunya setelah peristiwa tengah malam itu bapaknya tak akan kembali. Jadi kata ibu, ia tidak usah menunggu. Mar, bocah lima tahun itu tidak tahu apa yang terjadi.  Mar hanya tahu dia sedih: orang-orang itu telah memisahkan ia dari gendongan bapaknya yang damai.

Sayup-sayup Mar mendengar tembang itu, namun kali ini tanpa aroma tembakau. 

Tak lela lela lela ledhung……..

Cep menenga anakku sing manis…….

Anakku sing ayu rupane……

Yen nangis ndhak ilang ayune…….

Tak gadhang bisa urip mulyo…….

Dadiya pendekaring bangsa…..

Wis cep menenga anakku….

Firdhausi
Bulak Sareh, November 2016

image: pinterest

One reply on “Bocah dalam Gendongan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s