Lagu Rantau (Sambat Omah) – Silampukau

Waktu memang jahanam. Kota kelewat kejam, dan pekerjaan menyita harapan. Hari-hari berulang, diriku kian hilang. Himpitan hutang. Tagihan awal bulan. O, demi Tuhan, atau demi setan, sumpah aku ingin rumah untuk pulang! Rindu menciptakan kampung halaman tanpa alasan. Uang bawa ‘tualang sesat di jalan, menjauhi pulang. [Song of Silampukau- Lagu Rantau (Sambat Omah)]

Lagu ini cerdas dan reflektif sekali. Sarat dengan kritik sosial dan mengartikulasikan suara-suara manusia sub-urban yang terbenam hingar bingar lampu metropolitan.

Lagu ini mengingatkan saya tentang dua hal: atomisation and alienation. Kaduanya punya akar sama: industrialisasi, kapitalisme, urbanisasi (not just geographically persae).

A mass society concists of people who can only relate to each other like atoms; consists of atomised people; who lack any meaningful or morally coherent relationships which other. And also, Adorno illustrated the alienation was found among the masses in capitalist societies: condition that in capitalist economy, resulting from all lack of identity with the products of labor and a sense of being exploitated (Dominic Strinati, 2014, p. 5&59)

Pada akhirnya, hanya kampung halaman dan ‘rumah’ lah yang selalu siap menanti kita pulang, menyambut dengan ramah.

Far away from home,
Circa 2016

Aliran

Seumpama benda, zakat adalah air pegunungan yang sejuk
Fitrahnya adalah mengalir dari tempat yang tinggi, ke tempat yang lebih rendah

Seumpama air, zakat adalah kebutuhan paling mendasar dari manusia
Bagi yang diatas ia menyucikan; bagi yang di bawah ia menghidupi

Seumpama zakat, air mengobati dahaga bagi siapa saja yang meneguknya

Jakarta,
Januari 2018

Tunaikan zakat

image: pinterest