Sertifikat Kematian

Telah dicukupkan organ demi organ dalam tubuhmu berbakti dan menyala; memenuhi kerakusanmu dengan patuh

Kamu akan diluluskan menuju tempat perkumpulan penghuni alam raya
Membentuk gugus, seluruh tanpa eskepsi.

Hingga tiba kala maut mengetuk dinding jiwamu
Dipersilakan dan dijamu
Ia mengecup kening-basuh kalbu
Ditiupnya mantra-mantra mangkus


Tidak akan sakit, dia mendesus

Kamu tidak bisa lari dan sekonyong-konyong tersenyum.

Di sinilah kamu dimulai.

So, forgiveness = photosynthesis?

Sudah lama aku memikirkan tentang ini. Antara fotosintesis dan memaafkan adalah sebuah proses serupa. Keduanya bertutur tentang bagaimana memaknai apa-apa yang diterima lantas secara kimiawi mengolahnya menjadikan hasil yang sepenuhnya untuk kebaikanmu sendiri.

Pada proses fotosintes, kita akan menemukan terik matahari penuh keluh bersamaan dengan sisa pernafasan yang keluar dari hidung dan mulut manusia—seringkali disertai aroma dan sensasi tak menggugah selera. Oleh klorofil yang rendah hati, keduanya tak ubah dua makhluk yang setiap kali datang akan dipeluknya dalam dekapan paling hangat.

Malang,
14 September 2018.

Figuring out that forgiveness and photosynthesis somehow have similarities; flow, output and everything in between. Maybe it sounds non sense (ha) but that pseudo concept helped me so much to understand why we need to forgive.

That concept i got from here.

Feature image : pinterest