Might: not be me

Took so long just to feel alright
to find a sunlight
without you in sight

Remember when beach killed our midnight?
with our body intensely tight
It was. Beyond delight

*

Apparently you flight
All of sudden: like a flashlight

Nah, it’s not plight

I a knight, am.

Jakarta,
June 2018

Aku Paling Tidak Bisa Menulis Judul

Denting piano, suara nasi kebuli yang sedang dimasak, suara pengetikan yang ditimbulkan oleh ketukan pada tuts komputer jinjing, sesekali juga terdengar kendaraan yang berlalu-lalang di wilayah pemukiman itu.
Suara seduhan espresso yang diekstraksi dari mesinnya juga pelan-pelan terdengar.
Aku juga mendengar suaraku sendiri, tepatnya suara perutku yang “bernafsu” menginginkan mencerna ini dan itu.
Kepalaku sedang mencerna apa yang sedang aku kerjakan, apa yang ku lakukan 10 menit yang lalu, dan mencoba untuk menjawab mengapa aku memilih sepiring brownies alih-alih nasi kebuli yang terus merasuki indra penciuman dengan kurang ajarnya.

————–

Gadis itu menelusuri jalan setapak.
15 menit berlalu, ia hanya menemui jalan buntu.
Tiba-tiba, ia terlempar ke suatu tempat baru, sehampar tanah yang enggan ditinggali pemiliknya.
Ia melihat pelangi di daerah kosong ini.
Aneh, padahal hujan sudah lama tidak turun.
Gadis itu menelusuri lengannya, dan ia tersentak heran karena saat ini ia mengenakan gaun kembang-kembang, mahkota bunga-bunga, dan sepatu yang menyerupai model yang sering dikenakan balerina.
Bagaimana semuanya menjadi mungkin?
Semuanya menjadi mungkin, sayangku, ketika inginmu menguasai dirimu.

—————

Tadi aku bertanya kepada temanku, bagaimana cara membuat puisi berima?
Apakah tidak apa-apa jika aku tidak pandai membuatnya?
Tidak apa, ujarnya, kadang dalam membuatnya kita kerap memperkosa kata.

—————-

Suara es dipecahkan beradu dengan suara lagu pop barat era 2000-an dan juga suara tawa yang keras dan juga suara yang timbul dari percakapan yang dilakukan sepasang kekasih, atau teman, yang tentunya bukan urusanku.

—————-

Ah, hari ini aku sembunyi lagi. Betapa. Pengecutnya.

—————-

Dalam sebuah pertandingan bola yang kusaksikan sembari memamah pizza rasa rumah. Nafasku menjadi dua kali lebih berat seolah dadaku menyempit diri dan oksigen tidak mau mengalir lagi ke otak.
Mengapa kita begitu menikmati hal yang begitu maya?
Sementara di luar sana, realita dipeluk mati-matian oleh sepasang suami isteri dan anak laki-lakinya yang terpaksa tidur di gerobak lagi malam ini.

—————-

Piano masih berdenting, sama seperti saat kamu menatap mataku penuh keyakinan.
Espresso masih utuh, tapi ia mendingin, sebab teracuh oleh hal-hal yang terlalu hangat untuk dibicarakan.

Lalu orang-orang tetap berlalu lalang
Dan aku, tetap di sudut, tenggelam bersama tumpukan buku tua yang berdebu.
Memilukan dan memalukan punya hubungan saudara, rupanya.

—————-

Ku kucek mataku berulang kali.

—————

Hening.
Pada apa aku beriman?

—————-

Tanya atas iman mempertemukan aku dan gadis bergaun bunga-bunga dalam dimensi paling samar. Bumi sedang asyik-asyiknya berotasi dalam siasatnya paling licik hingga aku dan gadis harus bertekuk lutut pada sebuah kata paling menakutkan abad ini.

Takdir acapkali mengolok-olok dan waktu terlalu pongah untuk membantu.

—————-

Aku dan gadis masih tidak mengerti sebenarnya kapan kita bertemu dan aroma macam apa yang lekap.

Di penghujung Juni yang tidak hujan,
Dituturkan bersama oleh Firdhaussi dan Reysa Utami

image: pinterest.com

Haiku; Snow

haiku snow

-in a sorrow

Jakarta,
23 Juni 2018

image: cuded.com

Aliran

Seumpama benda, zakat adalah air pegunungan yang sejuk
Fitrahnya adalah mengalir dari tempat yang tinggi, ke tempat yang lebih rendah

Seumpama air, zakat adalah kebutuhan paling mendasar dari manusia
Bagi yang diatas ia menyucikan; bagi yang di bawah ia menghidupi

Seumpama zakat, air mengobati dahaga bagi siapa saja yang meneguknya

Jakarta,
Januari 2018

Tunaikan zakat

image: pinterest

Cemas

I’ve been thinking about this over and over again. Last night, you; a man with a genuine-hearted talked to me and said that you’re sad. You were being brutally honest, told me about what had happened, what you felt, what you are afraid of. And honesty it is something i respect a lot. I was listening closely. Up to one point you stopped talking.

I thought that was my turn. Then, my bad, i said several (judgemental) words that i didn’t know i will regret. These words were very unfair, i thought. At this point, I felt that i’m NOT a good friend. Very bad. Totally bad. B.a.d. I should, like an elder people say, put my feet in other shoes but I didn’t. Now, I’m trying to see as closely as i can. I hope it helps.

I must say that nothing is easier than talk from outer point of view, acting like a teacher and give expired sermons: such a disclaimer. Ha. But i will repay it.

Contemplating all of these, i understand when I defined that choices is ‘10’ and I asked why you choose ‘0’ instead of ‘1’. Now i get it. Actually, like you said, people have their own phase and momentum. I realize schrödinger box has you inside. So, for now you are in a superposition and any probabilities can be happened. I am just a human being from out of nowhere who can only predict and can’t even imagine what you feel.

So, at the last, i just wanna say that you are priceless. You are too precious and not-so-worthy to destruct by anything. I see limbic system and cortex inside your brain which are battling and i wish they can find a w-w solution for this probelm very soon. And me, i am here right now, on your side 1000% and hope that everything’s gonna be alright. I’m ready to be your listener, everytime you need.

Depok,
Larut malam di pertengahan 2016

Chicken.

tasty chicken

Gadis Pantai Diterbangkan Camar

Di garis pantai, kamu tunjukkan aku cara terbang, menggapai langit dan berserah pada hembusan angin malam. Di waktu lain, kau minta aku untuk terbang bersamamu. Janji tak akan melepas gamit tanganku. Takut-takut aku mengangguk. Menyerahkan keberanianku pada burung camar kelana angkasa.

Aku terbang
Berani
Tinggi
Makin tinggi
Tak terkendali

Aku terbang
Mengudara
Melayang
Selayang
Mengabur jarak pandang

Apapun itu: faktanya aku terbang. Begitu bukannya?

Gadis terbang yang tak risau arah sebab batinnya dibuai kasmaran.

Tepat saat laut sedang pasang-pasangnya, burung camar itu berhenti mengepak sayap. Pada si gadis pemberani—aku, ia mengicau,

“Sampai di sini kita terbang.”

Si burung tak tau kemana hendak dituju. Lautan lepas bersama debur ombak melantang, atau pegunungan beri jiwa berhawa tambun?

“Kalau begitu, apakah kita akan mendarat bersama. Menapaki bumi kembali layaknya kita memulai terbang bersama?”

“Oh gadis kecil, tidakkah kau lantas paham?”

Gadis kecil terburu menukik tak terkendali. Tak hirau pada laut atau pegunungan akan tergapai. Mengerang, murka untuk sesaat, dan menghalau itu semua, aku lalu tersenyum. Ku bentangkan kedua lengan tangan lebar-lebar dan membiarkan wajah meresapi angin malam bumi selatan. Aku hirup dalam senyap: kebebasan.

“Kali ini aku betul-betul terbang. Terbang dengan arah, dituntun alam. Inilah aku, terbang untuk menjadi pemberani, serasa sari pati hidup.”

Burung camar pikir tugasnya telah usai pada gadis kecil pemberani. Ia sematkan seringai pada paruhnya dan mengitari permukaan laut.

“Kamu bukan yang pertama ku ajak bersua pada birunya langit gadis kecil. Kamu pun tak kan jadi selamanya bersamaku. Langit terlalu luas untuk ku arungi bersama satu orang sahaja. Jadi, sia-sia kalau kau merasa istimewa.”

Salatiga,
11 Juni 2018

Image: pinterest