MR Talked about Love

I don’t like the idea of, “falling in love.”

I prefer to look at love as a commitment, an everyday decision. And that takes effort, time, patience, humility, and trust. It’s not about falling, it’s about growing—
Growing in love.
Now that’s better.

I really believe that the reason why a lot of people, “fall out of love,” is because they just fell in it to begin with.
If your concept of love is based entirely on feelings, then you are bound to fall over and over and over, and it’s just gonna hurt each and every time.

The thing about growth is that it doesn’t happen overnight. It has to be cultivated, taken care of, given time, even pruned. But when it does happen, it certainly lasts.

This is why as cliché as it seems, I still believe in the foundation called friendship.

So…

Save yourself from unnecessary heartbreak.

These things take time. Love is not a feeling, it is an act of self-giving. And let me tell you this,

you can’t give yourself if you don’t own yourself.

So make the most of what you have. Open up. Discover who you truly are. Surround yourself with friends and family. Know your worth in Christ. Find your sense of security there. Allow yourself to love and be loved.

Written by Mon Reyes
His Twitter : @rizmonreyes
His Site : rizmonreyes.com

Cemas

I’ve been thinking about this over and over again. Last night, you; a man with a genuine-hearted talked to me and said that you’re sad. You were being brutally honest, told me about what had happened, what you felt, what you are afraid of. And honesty it is something i respect a lot. I was listening closely. Up to one point you stopped talking.

I thought that was my turn. Then, my bad, i said several (judgemental) words that i didn’t know i will regret. These words were very unfair, i thought. At this point, I felt that i’m NOT a good friend. Very bad. Totally bad. B.a.d. I should, like an elder people say, put my feet in other shoes but I didn’t. Now, I’m trying to see as closely as i can. I hope it helps.

I must say that nothing is easier than talk from outer point of view, acting like a teacher and give expired sermons: such a disclaimer. Ha. But i will repay it.

Contemplating all of these, i understand when I defined that choices is ‘10’ and I asked why you choose ‘0’ instead of ‘1’. Now i get it. Actually, like you said, people have their own phase and momentum. I realize schrödinger box has you inside. So, for now you are in a superposition and any probabilities can be happened. I am just a human being from out of nowhere who can only predict and can’t even imagine what you feel.

So, at the last, i just wanna say that you are priceless. You are too precious and not-so-worthy to destruct by anything. I see limbic system and cortex inside your brain which are battling and i wish they can find a w-w solution for this probelm very soon. And me, i am here right now, on your side 1000% and hope that everything’s gonna be alright. I’m ready to be your listener, everytime you need.

Depok,
Larut malam di pertengahan 2016

Gadis Pantai Diterbangkan Camar

Di garis pantai, kamu tunjukkan aku cara terbang, menggapai langit dan berserah pada hembusan angin malam. Di waktu lain, kau minta aku untuk terbang bersamamu. Janji tak akan melepas gamit tanganku. Takut-takut aku mengangguk. Menyerahkan keberanianku pada burung camar kelana angkasa.

Aku terbang
Berani
Tinggi
Makin tinggi
Tak terkendali

Aku terbang
Mengudara
Melayang
Selayang
Mengabur jarak pandang

Apapun itu: faktanya aku terbang. Begitu bukannya?

Gadis terbang yang tak risau arah sebab batinnya dibuai kasmaran.

Tepat saat laut sedang pasang-pasangnya, burung camar itu berhenti mengepak sayap. Pada si gadis pemberani—aku, ia mengicau,

“Sampai di sini kita terbang.”

Si burung tak tau kemana hendak dituju. Lautan lepas bersama debur ombak melantang, atau pegunungan beri jiwa berhawa tambun?

“Kalau begitu, apakah kita akan mendarat bersama. Menapaki bumi kembali layaknya kita memulai terbang bersama?”

“Oh gadis kecil, tidakkah kau lantas paham?”

Gadis kecil terburu menukik tak terkendali. Tak hirau pada laut atau pegunungan akan tergapai. Mengerang, murka untuk sesaat, dan menghalau itu semua, aku lalu tersenyum. Ku bentangkan kedua lengan tangan lebar-lebar dan membiarkan wajah meresapi angin malam bumi selatan. Aku hirup dalam senyap: kebebasan.

“Kali ini aku betul-betul terbang. Terbang dengan arah, dituntun alam. Inilah aku, terbang untuk menjadi pemberani, serasa sari pati hidup.”

Burung camar pikir tugasnya telah usai pada gadis kecil pemberani. Ia sematkan seringai pada paruhnya dan mengitari permukaan laut.

“Kamu bukan yang pertama ku ajak bersua pada birunya langit gadis kecil. Kamu pun tak kan jadi selamanya bersamaku. Langit terlalu luas untuk ku arungi bersama satu orang sahaja. Jadi, sia-sia kalau kau merasa istimewa.”

Salatiga,
11 Juni 2018

Image: pinterest

Kilau.

Malam ini, seorang temanku bertanya tentang dirinya—penilaian atas keanehan yang ia keluhkan.

Aku terkesiap, tidak siap akan pertanyaan tersebut. Sebab aku mengenalnya belum genap selengkung pelangi. Namun ku tuturkan ini temanku:

“Kamu adalah lelaki yang haus kembara. Maka, teguklah segar dan tawasnya kehidupan dengan lapang dada, karena semesta tidak pernah memberimu tawar. Berkatalah pada dirimu: kemarilah jiwa yang aneh. Rengkuhlah ia dalam pelukmu sendiri hingga kau lihat jiwa-pikir-asa mu berpilin bertautan tanpa takut mampus dikoyak sepi seperti Bung Chairil. Kamu—lelaki yang berhati jernih— yang setiap jengkal sum sum dalam dirimu adalah seni. Kamu selalu bilang, itu semua hidup dan senantiasa mengalir atas nama kemanusiaan. Kawanku, teruslah seperti itu. Kamu tidak mesti menjadi sama dengan yang lainnya. Pun, kamu tidak perlu menjadi paripurna. Sesekali, mendongaklah ke atas, lihat  langit sedang membasuh diri dan bintang melucuti dirinya untuk sekadar menyambutmu. Camkan ini: segelap-gelapnya malam, kamu akan melihat gemilang cahaya.”

 

Cibubur,

23 Mei 2017

 

 

image : pinterest

Terra Incognita

Ada  samudera terbentang

Di tempat jauh

Manakala diaduk, hanya akan dapati kelam

Kelamku sendiri

Partikelnya adalah muntahan getir

Mengendap tak terhitung lamanya

 

Kelamku menepi

Mengendap,  mengerak, menutup pori

Menggerogoti sonder kasih layaknya cakra

 

Sedu sedanku mengadu

Seirama lara; seterang gelap

Gelap tak terperi; Sesak tanpa tepi

Dan aku hanya mampu terseok

Meraba. Meracau

 

Saat satu cahaya, benderang, menerang

Menyumbul pasti dari rohmu yang haus kelana

Aku dituntun oleh jiwamu  pada ruang katarsis

Atau, kamu lah katarsis itu sendiri?

Bagi citraku yang melintas lalu lesap

 

Sempat, imajiku imajimu bertaut  pada satu  mimbar inti-bumi

Ku sebut berulang, ku panggil lalu

Lalu dan lalu hingga kau berlalu

Tapi tapi tapi

Nyata aku tetap terjebak

Dalam terra incognita

 

 

Remang Jakarta,

11 Mei 2017

 

image : pinterest

Surat kepada Layang

21 Maret 2017

(Untuk Yu Patmi)

Tidak ada kematian yang lebih baik dari kematian yang ditulis oleh orang banyak. Kematian yang dikenang dalam panas kemarahan dan dinginnya ketidak adilan.

Yu, dulu waktu aku masih netek, emakku pernah bilang gini, “Bumi itu perempuan. Makannya kamu ndak akan pernah dengar istilah bapak tapi ibu pertiwi.” Dulu aku tidak percaya itu Yu. Namun hari ini, waktu kabarmu disiarkan dimana-mana, aku seperti melihat sendiri, bagaimana dua perempuan saling bertemu dan memeluk satu sama lain. Konon perempuan memang selalu jadi simbol opresi lho, Yu.

Kematian memang selalu jadi misteri ya, Yu. Diceritakan dalam banyak legenda rakyat, ditembangkan dalam kidung-kidung, di romantisasi lewat sastra. Kematian sendiri menurutku adalah kehidupan dalam bentuk yang lain. Lha apa benar itu, Yu?

Aku kok jadi ingat kata pepatah jawa. Katanya hidup itu cuma mampir ngombe. Apa kematianmu ini pertanda Yu? Sudah tidak ada air yang bisa Yu Patmi minum sebab kini sungai-sungai kering. Orang-orang sudah nda butuh air Yu. Butuhnya rumah yang temboknya tebal. Biar tidak bisa saling mendengar tetangga sebelah lagi kesusahan. Sawah sekarang tidak butuh air Yu. Sawah dan ladang kini berganti pemukiman dan pabrik. Orang makin banyak, ibu bhumi sudah jadi kalah-kalahan. Yang penting hidupnya enak Yu. Sudah tidak kepikiran lagi mau jaga buat anak cucu.

Yu, sekarang aku iri sama njenengan. Kami yang masih hidup ini lantas harus bagaimana?

Firdhaussi,

Kebayoran, 21 Maret 2017

Siapa Yu Patmi?

Fall in love with foreign place (Collage)

They say people in your life are season

Cellophane flowers of yellow and green

And all our eyes green, it only means one thing

We’re just two lost souls swimming in a fish bowl

Then ear to ear my lips stars to stretch

Can i fall into your constellation arm?

 

How can we choose when we all we loose is all we have?

How this used to feel so far and free?

Your skin is something that i stir into my tea

Locked inside our heaven’s cupboards

We spend it with no shame, we blow that like Coltrane

Now we here and the world is something else

 

Depok,

31 Januari 2017


Words are collage from these list songs (in order per line): Hard em say-Adam Levine/Lucy in The Sky with Diamonds-The Beatles/Clique-Kanye West/Wish you were here-Pink Floyd/Bundle of Joy-Mocca/Man Upon The Hill-Stars and rabbit/When Love Kills Love-Scorpion/Stand Tall-Childish Gambino/Calm, Crab, Cockle, Cowrie-Joanna Newsom/Mystery colours-Astronauts, Etc./V. 3005-Childish Gambino/II. Earth: The Oldest Computer (The Last Night)-Childish Gambino

 

image : pinterest