Kita : Kalimat tanpa Titik

Seperti burung dalam sangkar

Terjebak dan tidak bisa keluar

 

Dalam ruang kedap udara

Kau tak pernah memberiku kesempatan

Bernafas lebih lama

Menghirup sebebasnya

 

Ada satu gelombang menggulung

Di angkasa, lalu menghilang

Adakah energi nya ikut menghilang?

 

Lonceng berdentang

Melodi alam jadi tak terdengar

Oleh telinga tanpa radar

 

Sendiri dan mengaduh

Jatuh tanpa gravitasi satu newton pun

Mungkinkah daya tarik magnet?

 

Seribu budak dalam istana

Tak cukup pedih di cabik luka

 

Maka menangislah wahai hati

Karena sang waktu tetap enggan peduli

Kita seperti kalimat tanpa titik

 

Firdhaussi

Depok, 20 Maret 2014

 

credit images : pinterest

Menjamu Persoalan

Seharian ini kau masih saja sibuk dengan kretekmu.

Empat lima kali ku tarik lengan bajumu tapi menoleh mu tidak jua.

Kau bilang padaku kepala sudah mau pecah, malah kini betul-betul meledak.

 

Kawanku,

Kalau kau mencari jawaban, di batang kretek mu tak akan kau temukan meski hanya petunjuk

Jika yang didamba adalah solusi simsalabim, siapa bisa jamin.

 

Begini saja

Sudah ku persiapkan senja untukmu.

Ku lipat dengan teliti dan kusimpan rapi dalam saku kemejamu.

Ku rangkai jingga nya hingga kita berdua akan silau.

Melupakan berat persoalan dan bergairah mengurai.

Bertamasya dalam pikiran kita berdua, mengaduk-aduk logika sampai lupa diri.

 

Kawanku,

Yang kau damba tidak akan ada dalam kretekmu.

Mari sini,

Kita cuma perlu menatap langit dan berpijak bumi.

Melihat galaksi berputar-putar membentuk teka-teki.

 

Firdhaussi

Surya Kencana, 27 Desember 2015

 

credit image : Gultor

 

Ada Rindu dalam Kretekmu

Kau hisap dalam kretek bermerk kerinduan

Kau nikmati jiwamu yang mengecap manis racun dari ujungnya

Kau rasa kepuasan asapnya masuk lewat kerongkongan

Dialiri zat kimia kau merasa perkasa; lelaki

Diam  kau terawang getir

Sadar kau telan Tar! Kekalahanmu sendiri

Cengkeh aroma kegelisahan, dibungkus  kertas ketakutan

Jantungmu sudah menyatu dengan paru ternoda nikotin

Tanpa bisa melawan,

Kau sudah kecanduan dipecundangi

 

Firdhaussi

Cibubur, 22 Desember 2015

 

Disunting : Kalmirama

image : pinterest

 

[Karya ini pernah dimuat dalam official line account Books for Life]

Lakon Menonton

Saban hari berkawan asap

Sudah bukan gelap lagi, bibirmu hitam temaram.

Asbak bapak di meja sudah penuh, kini kau tambah lagi

Apalah arti dada sesak, kalau lidah mengecap pahit

Puntungmu sudah menumpuk

Yah selama belum menggunung, teruskan

Tinggal 2 batang di kotak

Sekalian saja habiskan sekarang

Tembakau dan cengkeh masih banyak di ladang

Kaki naik ke kursi, dagu diangkat sedikit

Biar dikata ganteng handsome

Sambil minum kopi dan cek homeline

Cekakak cekikik baca official account konspirasi

Dari teras terdengar

Corong di masjid bunyi NGING tiga kali

Tandanya ada yang mau bertutur

Tetua kampung memang suka cari panggung

Rupanya berita lelayu!

Rumah paling ujung

Pegawai kantoran, gagah tak terbantah

Belum genap sebulan dicerai istri

Psttttt…. Impoten

Gagah tidak menjamin perkasa

Riuh sirine menggema, ambulance menepi

Yang disebut jenazah diturunkan

Kain putihnya tersibak sedikit: bolong

Lehernya yang bolong!

Dalam sakunya, ada satu kotak penuh rokok!

 

Firdhaussi

Dibawah lampu neon kamar, 18 Desember 2015

 

image : pinterest

 

[karya ini pernah dimuat dalam official line account Books for Life]