Cemas

I’ve been thinking about this over and over again. Last night, you; a man with a genuine-hearted talked to me and said that you’re sad. You were being brutally honest, told me about what had happened, what you felt, what you are afraid of. And honesty it is something i respect a lot. I was listening closely. Up to one point you stopped talking.

I thought that was my turn. Then, my bad, i said several (judgemental) words that i didn’t know i will regret. These words were very unfair, i thought. At this point, I felt that i’m NOT a good friend. Very bad. Totally bad. B.a.d. I should, like an elder people say, put my feet in other shoes but I didn’t. Now, I’m trying to see as closely as i can. I hope it helps.

I must say that nothing is easier than talk from outer point of view, acting like a teacher and give expired sermons: such a disclaimer. Ha. But i will repay it.

Contemplating all of these, i understand when I defined that choices is ‘10’ and I asked why you choose ‘0’ instead of ‘1’. Now i get it. Actually, like you said, people have their own phase and momentum. I realize schrödinger box has you inside. So, for now you are in a superposition and any probabilities can be happened. I am just a human being from out of nowhere who can only predict and can’t even imagine what you feel.

So, at the last, i just wanna say that you are priceless. You are too precious and not-so-worthy to destruct by anything. I see limbic system and cortex inside your brain which are battling and i wish they can find a w-w solution for this probelm very soon. And me, i am here right now, on your side 1000% and hope that everything’s gonna be alright. I’m ready to be your listener, everytime you need.

Depok,
Larut malam di pertengahan 2016

Chicken.

tasty chicken

Visual Rhetoric, ep. 9

seldom

Gadis Pantai Diterbangkan Camar

Di garis pantai, kamu tunjukkan aku cara terbang, menggapai langit dan berserah pada hembusan angin malam. Di waktu lain, kau minta aku untuk terbang bersamamu. Janji tak akan melepas gamit tanganku. Takut-takut aku mengangguk. Menyerahkan keberanianku pada burung camar kelana angkasa.

Aku terbang
Berani
Tinggi
Makin tinggi
Tak terkendali

Aku terbang
Mengudara
Melayang
Selayang
Mengabur jarak pandang

Apapun itu: faktanya aku terbang. Begitu bukannya?

Gadis terbang yang tak risau arah sebab batinnya dibuai kasmaran.

Tepat saat laut sedang pasang-pasangnya, burung camar itu berhenti mengepak sayap. Pada si gadis pemberani—aku, ia mengicau,

“Sampai di sini kita terbang.”

Si burung tak tau kemana hendak dituju. Lautan lepas bersama debur ombak melantang, atau pegunungan beri jiwa berhawa tambun?

“Kalau begitu, apakah kita akan mendarat bersama. Menapaki bumi kembali layaknya kita memulai terbang bersama?”

“Oh gadis kecil, tidakkah kau lantas paham?”

Gadis kecil terburu menukik tak terkendali. Tak hirau pada laut atau pegunungan akan tergapai. Mengerang, murka untuk sesaat, dan menghalau itu semua, aku lalu tersenyum. Ku bentangkan kedua lengan tangan lebar-lebar dan membiarkan wajah meresapi angin malam bumi selatan. Aku hirup dalam senyap: kebebasan.

“Kali ini aku betul-betul terbang. Terbang dengan arah, dituntun alam. Inilah aku, terbang untuk menjadi pemberani, serasa sari pati hidup.”

Burung camar pikir tugasnya telah usai pada gadis kecil pemberani. Ia sematkan seringai pada paruhnya dan mengitari permukaan laut.

“Kamu bukan yang pertama ku ajak bersua pada birunya langit gadis kecil. Kamu pun tak kan jadi selamanya bersamaku. Langit terlalu luas untuk ku arungi bersama satu orang sahaja. Jadi, sia-sia kalau kau merasa istimewa.”

Salatiga,
11 Juni 2018

Image: pinterest

Kalah Telak

kalah telak

Aku

—sudah.
Selatan Jakarta,

20 Mei 2018

Puan Bertutur

“Perempuan harus bertutur dan bercerita, sebab darinya mengandung pengetahuan komunal dan identitas budaya yang harus terus menerus diperdengarkan.”

Hari ini, seperti hari-hari lainnya di kalender.
Hari ini, Hari Kartini, dan sama seperti hari-hari lainnya, pemaknaan atas khasanah perempuan harusnya tidak menjadi seremonial karena semua orang meneriakkan hal yang sama hari ini.

Sudah seperti panggilan, tiap tiba pada penghujung bulan April, saya akan menulis tentang perempuan.

Satu yang saya pahami, bahwa perempuan harus menuturkan cerita. Sebelumnya saya mengira perempuan hanya bisa bercerita lewat bahasa, perempuan harus menulis. Kemudian ku gandrungi penyair-penyair perempuan.

Nyatanya tulisan hanyalah satu dari banyak media yang bisa dipakai oleh perempuan untuk menuturkan pemikirannya.

Perempuan Baduy misalnya, mereka bertutur dengan kain tenun. Dalam lembaran kain warna-warni, ada cerita, ada cara pandang atas dunia yang hendak mereka tuangkan. Tuturan perempuan Baduy menjadi warisan tak ternilai.

Perempuan di Larantuka, NTT misalnya. Mereka bertutur melalui anyaman yang mereka buat dengan sepenuh hati menggunakan tangan. Bambu disulap jadi aneka rupa barang kebutuhan. Tuturan perempuan Larantuka menjadi dasar dan sekaligus pusat kehidupan perempuan dan laki-laki berkegiatan.

Kali ini, saya ingin menceritakan perempuan-perempuan yang bertutur melalui serangkaian irama dan larik. Darinya tercermin, resah apa yang paling mengganjal dan menunggu di ubun-ubun untuk dimuntahkan: harapan dan pesimistik, kasih dan amarah, luka dan obat penawarnya.

Ada yang bercerita tentang perasaan tidak nyaman diabaikan, tegar menghadapi kekerasan seksual. Sebagian menerjemahkan batinnya dalam pengalaman menjalani hubungan, juga bercerita tentang kebijaksanaan, persahabatan, ketimpangan sosial.

Berikut dua belas lagu, yang dituturkan oleh perempuan dan masuk kedalam laci lagu kesayangan:

 

Daftar lagu Puan dapat diperdengarkan di sini 

  1. Stars and Rabbit – Man Upon The Hill
  2. Joan Baz – Donna Donna
  3. Cyndi Lauper – True Colors
  4. Francoise Hardy – Coment te Dire Adieu
  5. Sherina Munaf – Petualangan Sherina Theme Song
  6. Aretha Franklin – I Never Loved a Man (The way i love you)
  7. Mocca – You and Me Against The World
  8. Of Monsters and Men – King and Lionheart
  9. Banda Neira – Sebagai Kawan
  10. She and Him – Stars Fell on Alabama
  11. Danilla – Junko Furuta
  12. Amy Winehouse  – You Know I’m No Good

Jendela Kecil

dibalik jendela kecil

Bandung Selatan,

25 Maret 2018