Cinta : Perlahan seperti Kentang Goreng

Sudah tengah malam, tapi jalanan masih juga belum sepi. Angkutan masih berlalu lalang, supir-supir juga masih berebut penumpang. Ekonomi memang tidak pernah mengijinkan manusia untuk tidur. Kamu bilang kamu lapar, jadi malam ini kita putuskan untuk makan saja di Restoran Mc Dougall (nama samaran).

Kamu memesan  makanan dengan bersemangat, tidak lupa minuman bersoda khas restoran cepat saji. Aku sendiri, cuma makan es krim rasa stroberi. Dingin saja sudah cukup untuk perasaanku saat ini.

“ Ngga lapar?” Kamu bertanya.

Melihatmu makan dengan lahap seperti ini saja, aku sudah kenyang. Tapi jawaban itu kusimpan saja dalam hati.

“ Tadi kan sudah makan. Ini aja udah enak banget,” kujawab pertanyaanmu dengan mulut penuh es krim.

Di piringmu tinggal tersisa potongan ayam terakhir, kamu masih saja lahap. Saus sambal pun masih banyak. Aku suka sekali wajamu kalau sedang makan seperti ini. Seperti anak kecil yang tidak diberi makan ibunya tiga hari.

“ Masih lapar ya?” Kuputuskan untuk bertanya demi tidak tahan melihatmu masih lahap.

Kamu  mendongkakkan wajah. Lucu sekali, wajah ingin merengek tapi gengsi. Lalu dengan wajah sok polos itu kamu bertanya “ Kamu  ngga pengen beli kentang?” Hahahahaa. Dasar, kamu.

Aku beli kentang goreng ukuran kecil dan kutaruh di meja. Lalu, kita makan dengan lahapnya. Sampai akhirnya kita diam dan menyadari sesuatu. Kentang goreng di meja sudah hampir habis. Kita cepat sekali makan kentang goreng.

Kamu menyeletuk “Eh coba yuk, makan kentang gorengya dikit-dikit. Satu kentang, tiga gigitan terus cuma boleh dikunyah pakai gigi depan.”

Lalu kita lanjutkan acara makan kentang goreng itu dengan tantangan yang kamu tawarkan. Awalnya aneh dan  ngga  sabar, tapi lama-lama nikmat juga ya. Kentangnya juga jadi terasa banyak.

“Tuh kan, kalau makannya begini kentangnya jadi kerasa banyak. Ini namanya, menikmati makanan.” Kamu masih saja semangat berteori.

“Iya ya, aku kunyahnya juga 32 kali satu gigitan kentang. Sekalian latihan jadi orang kurus hehehe.”

Sambil makan kentang dengan teknik yang kamu ajarkan tadi, kamu tiba-tiba bertanya lagi “Eh, sadar  ngga  kalau kita minum pakai sedotan itu lebih cepet kenyang dibanding ngga pakai. Tau ngga kenapa?”

Aku mengangguk dan berdehem. Mengiyakan pernyataannya barusan. Lalu cepat-cepat menggeleng menandakan ketidaktahuan atas pertanyaannya berikutnya.

“Kalau kita minum  pakai sedotan  itu lebih cepat kenyang karena kita minumnya dikit-dikit. Lebih menikmati minumannya. Kalau minumnya langsung, mau seberapa banyak juga susah kenyangnya. Sama kaya kentang tadi,” teorimu keluar lagi.

Untuk kesekian kali nya aku setuju pada pernyataanmu. Sekaligus, membuatku teringat dengan kalimat Dewi Lestari  Jatuh cintalah perlahan-lahan. Jangan sekaligus. Mungkin Dee  benar, dan kamu  pun juga benar. Jangan  pernah  jatuh cinta dengan sekaligus, tapi perlahan-lahan. Seperti kita menikmati minuman dan kentang goreng, maka kita akan lebih bisa menikmati cinta kita sendiri. Cinta yang datangnya pelan-pelan juga tidak akan cepat habis dan akan bertahan lebih lama.

“Pulang sekarang yuk,” suaramu memaksaku keluar dari lamunan dengan tiba-tiba. Kita pun berjalan keluar restoran. Kamu berjalan di depan seperti biasanya. Dari balik punggung tegapmu, aku tersenyum. Pelan-pelan, aku mencintaimu.

Karya ini fiktif. Apabila ada kesamaan nama, tokoh, setting dan alur cerita itu berarti hanya kebetulan. Meskipun aku tidak percaya bahwa di dunia ini ada kebetulan.

 

-Firdhaussi