Gugur Daun

gugur daun

Jakarta,
Agustus 2018
 

 

Mangga

Mangga di halaman rumah sudah ranum
Aromanya harum tercium
Ku petik beberapa dengan kayu penyanggah
Hendak ku bawa untuk kekasihku

Menjelang sore ku datangi
Ia sambut aku di teras yang ubinnya dingin
Sambil bibirnya tersenyum kelihatan gingsulnya: manis
Seperti mangga yang lagi ku bawa

Senyumnya menipis waktu aku mendekat
Kerutan di dahinya tambah satu
Kalau tak salah hitung, jadi empat
Persis mangga dalam keranjangku

Kami duduk di bangku teras kontrakannya
Ku kupas manga satu per satu; helai demi helai

Kepalanya menoleh dan wajah kita jadi tak berjarak
Ia mengusap-usap kepalaku
Lalu tangannya turun
Memainkan kancing bajuku

Aku tersipu
Namun ku letakkan konsentrasi pada mangga yang lagi dikupas

Tahu apa yang lebih pahit dari mangga busuk?
Sarjana pengangguran.
Kau masih sudi denganku, meski aku tak punya duit?
Kekasihku bertanya

Kau akan tetap aku bawakan mangga paling manis.

Margonda,
Februari 2018
image : https://id.pinterest.com/rlcaribbean/

Kilau.

Malam ini, seorang temanku bertanya tentang dirinya—penilaian atas keanehan yang ia keluhkan.

Aku terkesiap, tidak siap akan pertanyaan tersebut. Sebab aku mengenalnya belum genap selengkung pelangi. Namun ku tuturkan ini temanku:

“Kamu adalah lelaki yang haus kembara. Maka, teguklah segar dan tawasnya kehidupan dengan lapang dada, karena semesta tidak pernah memberimu tawar. Berkatalah pada dirimu: kemarilah jiwa yang aneh. Rengkuhlah ia dalam pelukmu sendiri hingga kau lihat jiwa-pikir-asa mu berpilin bertautan tanpa takut mampus dikoyak sepi seperti Bung Chairil. Kamu—lelaki yang berhati jernih— yang setiap jengkal sum sum dalam dirimu adalah seni. Kamu selalu bilang, itu semua hidup dan senantiasa mengalir atas nama kemanusiaan. Kawanku, teruslah seperti itu. Kamu tidak mesti menjadi sama dengan yang lainnya. Pun, kamu tidak perlu menjadi paripurna. Sesekali, mendongaklah ke atas, lihat  langit sedang membasuh diri dan bintang melucuti dirinya untuk sekadar menyambutmu. Camkan ini: segelap-gelapnya malam, kamu akan melihat gemilang cahaya.”

 

Cibubur,

23 Mei 2017

 

 

image : pinterest

Terra Incognita

Ada  samudera terbentang

Di tempat jauh

Manakala diaduk, hanya akan dapati kelam

Kelamku sendiri

Partikelnya adalah muntahan getir

Mengendap tak terhitung lamanya

 

Kelamku menepi

Mengendap,  mengerak, menutup pori

Menggerogoti sonder kasih layaknya cakra

 

Sedu sedanku mengadu

Seirama lara; seterang gelap

Gelap tak terperi; Sesak tanpa tepi

Dan aku hanya mampu terseok

Meraba. Meracau

 

Saat satu cahaya, benderang, menerang

Menyumbul pasti dari rohmu yang haus kelana

Aku dituntun oleh jiwamu  pada ruang katarsis

Atau, kamu lah katarsis itu sendiri?

Bagi citraku yang melintas lalu lesap

 

Sempat, imajiku imajimu bertaut  pada satu  mimbar inti-bumi

Ku sebut berulang, ku panggil lalu

Lalu dan lalu hingga kau berlalu

Tapi tapi tapi

Nyata aku tetap terjebak

Dalam terra incognita

 

 

Remang Jakarta,

11 Mei 2017

 

image : pinterest

Kita : Kalimat tanpa Titik

Seperti burung dalam sangkar

Terjebak dan tidak bisa keluar

 

Dalam ruang kedap udara

Kau tak pernah memberiku kesempatan

Bernafas lebih lama

Menghirup sebebasnya

 

Ada satu gelombang menggulung

Di angkasa, lalu menghilang

Adakah energi nya ikut menghilang?

 

Lonceng berdentang

Melodi alam jadi tak terdengar

Oleh telinga tanpa radar

 

Sendiri dan mengaduh

Jatuh tanpa gravitasi satu newton pun

Mungkinkah daya tarik magnet?

 

Seribu budak dalam istana

Tak cukup pedih di cabik luka

 

Maka menangislah wahai hati

Karena sang waktu tetap enggan peduli

Kita seperti kalimat tanpa titik

 

Firdhaussi

Depok, 20 Maret 2014

 

credit images : pinterest

Cinta : Perlahan seperti Kentang Goreng

Sudah tengah malam, tapi jalanan masih juga belum sepi. Angkutan masih berlalu lalang, supir-supir juga masih berebut penumpang. Ekonomi memang tidak pernah mengijinkan manusia untuk tidur. Kamu bilang kamu lapar, jadi malam ini kita putuskan untuk makan saja di Restoran Mc Dougall (nama samaran).

Kamu memesan  makanan dengan bersemangat, tidak lupa minuman bersoda khas restoran cepat saji. Aku sendiri, cuma makan es krim rasa stroberi. Dingin saja sudah cukup untuk perasaanku saat ini.

“ Ngga lapar?” Kamu bertanya.

Melihatmu makan dengan lahap seperti ini saja, aku sudah kenyang. Tapi jawaban itu kusimpan saja dalam hati.

“ Tadi kan sudah makan. Ini aja udah enak banget,” kujawab pertanyaanmu dengan mulut penuh es krim.

Di piringmu tinggal tersisa potongan ayam terakhir, kamu masih saja lahap. Saus sambal pun masih banyak. Aku suka sekali wajamu kalau sedang makan seperti ini. Seperti anak kecil yang tidak diberi makan ibunya tiga hari.

“ Masih lapar ya?” Kuputuskan untuk bertanya demi tidak tahan melihatmu masih lahap.

Kamu  mendongkakkan wajah. Lucu sekali, wajah ingin merengek tapi gengsi. Lalu dengan wajah sok polos itu kamu bertanya “ Kamu  ngga pengen beli kentang?” Hahahahaa. Dasar, kamu.

Aku beli kentang goreng ukuran kecil dan kutaruh di meja. Lalu, kita makan dengan lahapnya. Sampai akhirnya kita diam dan menyadari sesuatu. Kentang goreng di meja sudah hampir habis. Kita cepat sekali makan kentang goreng.

Kamu menyeletuk “Eh coba yuk, makan kentang gorengya dikit-dikit. Satu kentang, tiga gigitan terus cuma boleh dikunyah pakai gigi depan.”

Lalu kita lanjutkan acara makan kentang goreng itu dengan tantangan yang kamu tawarkan. Awalnya aneh dan  ngga  sabar, tapi lama-lama nikmat juga ya. Kentangnya juga jadi terasa banyak.

“Tuh kan, kalau makannya begini kentangnya jadi kerasa banyak. Ini namanya, menikmati makanan.” Kamu masih saja semangat berteori.

“Iya ya, aku kunyahnya juga 32 kali satu gigitan kentang. Sekalian latihan jadi orang kurus hehehe.”

Sambil makan kentang dengan teknik yang kamu ajarkan tadi, kamu tiba-tiba bertanya lagi “Eh, sadar  ngga  kalau kita minum pakai sedotan itu lebih cepet kenyang dibanding ngga pakai. Tau ngga kenapa?”

Aku mengangguk dan berdehem. Mengiyakan pernyataannya barusan. Lalu cepat-cepat menggeleng menandakan ketidaktahuan atas pertanyaannya berikutnya.

“Kalau kita minum  pakai sedotan  itu lebih cepat kenyang karena kita minumnya dikit-dikit. Lebih menikmati minumannya. Kalau minumnya langsung, mau seberapa banyak juga susah kenyangnya. Sama kaya kentang tadi,” teorimu keluar lagi.

Untuk kesekian kali nya aku setuju pada pernyataanmu. Sekaligus, membuatku teringat dengan kalimat Dewi Lestari  Jatuh cintalah perlahan-lahan. Jangan sekaligus. Mungkin Dee  benar, dan kamu  pun juga benar. Jangan  pernah  jatuh cinta dengan sekaligus, tapi perlahan-lahan. Seperti kita menikmati minuman dan kentang goreng, maka kita akan lebih bisa menikmati cinta kita sendiri. Cinta yang datangnya pelan-pelan juga tidak akan cepat habis dan akan bertahan lebih lama.

“Pulang sekarang yuk,” suaramu memaksaku keluar dari lamunan dengan tiba-tiba. Kita pun berjalan keluar restoran. Kamu berjalan di depan seperti biasanya. Dari balik punggung tegapmu, aku tersenyum. Pelan-pelan, aku mencintaimu.

Karya ini fiktif. Apabila ada kesamaan nama, tokoh, setting dan alur cerita itu berarti hanya kebetulan. Meskipun aku tidak percaya bahwa di dunia ini ada kebetulan.

 

-Firdhaussi