Kilau.

Malam ini, seorang temanku bertanya tentang dirinya—penilaian atas keanehan yang ia keluhkan.

Aku terkesiap, tidak siap akan pertanyaan tersebut. Sebab aku mengenalnya belum genap selengkung pelangi. Namun ku tuturkan ini temanku:

“Kamu adalah lelaki yang haus kembara. Maka, teguklah segar dan tawasnya kehidupan dengan lapang dada, karena semesta tidak pernah memberimu tawar. Berkatalah pada dirimu: kemarilah jiwa yang aneh. Rengkuhlah ia dalam pelukmu sendiri hingga kau lihat jiwa-pikir-asa mu berpilin bertautan tanpa takut mampus dikoyak sepi seperti Bung Chairil. Kamu—lelaki yang berhati jernih— yang setiap jengkal sum sum dalam dirimu adalah seni. Kamu selalu bilang, itu semua hidup dan senantiasa mengalir atas nama kemanusiaan. Kawanku, teruslah seperti itu. Kamu tidak mesti menjadi sama dengan yang lainnya. Pun, kamu tidak perlu menjadi paripurna. Sesekali, mendongaklah ke atas, lihat  langit sedang membasuh diri dan bintang melucuti dirinya untuk sekadar menyambutmu. Camkan ini: segelap-gelapnya malam, kamu akan melihat gemilang cahaya.”

 

Cibubur,

23 Mei 2017

 

 

image : pinterest

Terra Incognita

Ada  samudera terbentang

Di tempat jauh

Manakala diaduk, hanya akan dapati kelam

Kelamku sendiri

Partikelnya adalah muntahan getir

Mengendap tak terhitung lamanya

 

Kelamku menepi

Mengendap,  mengerak, menutup pori

Menggerogoti sonder kasih layaknya cakra

 

Sedu sedanku mengadu

Seirama lara; seterang gelap

Gelap tak terperi; Sesak tanpa tepi

Dan aku hanya mampu terseok

Meraba. Meracau

 

Saat satu cahaya, benderang, menerang

Menyumbul pasti dari rohmu yang haus kelana

Aku dituntun oleh jiwamu  pada ruang katarsis

Atau, kamu lah katarsis itu sendiri?

Bagi citraku yang melintas lalu lesap

 

Sempat, imajiku imajimu bertaut  pada satu  mimbar inti-bumi

Ku sebut berulang, ku panggil lalu

Lalu dan lalu hingga kau berlalu

Tapi tapi tapi

Nyata aku tetap terjebak

Dalam terra incognita

 

 

Remang Jakarta,

11 Mei 2017

 

image : pinterest