So, forgiveness = photosynthesis?

Sudah lama aku memikirkan tentang ini. Antara fotosintesis dan memaafkan adalah sebuah proses serupa. Keduanya bertutur tentang bagaimana memaknai apa-apa yang diterima lantas secara kimiawi mengolahnya menjadikan hasil yang sepenuhnya untuk kebaikanmu sendiri.

Pada proses fotosintes, kita akan menemukan terik matahari penuh keluh bersamaan dengan sisa pernafasan yang keluar dari hidung dan mulut manusia—seringkali disertai aroma dan sensasi tak menggugah selera. Oleh klorofil yang rendah hati, keduanya tak ubah dua makhluk yang setiap kali datang akan dipeluknya dalam dekapan paling hangat.

Malang,
14 September 2018.

Figuring out that forgiveness and photosynthesis somehow have similarities; flow, output and everything in between. Maybe it sounds non sense (ha) but that pseudo concept helped me so much to understand why we need to forgive.

That concept i got from here.

Feature image : pinterest

Fragment//

Dengan mengecup hangatnya matahari terbit, aku seperti didekap alam semesta raya dan seisi jantungnya. Sesekali terdengar embun bertasbih dan rumput-rumput kecil yang riuh berfotosintesis menikmati pertumbuhan mereka. Dini hari tadi ada dua orang jatuh tergelincir; mungkin saat itulah bintang sedang terpejam merakit harapan. Mengaduknya bersama kekecewaan-kedewasaan dan siap menelurkan menjadi hari-hari baru dengan dada paling lapang. Esok akan tetap jadi misteri, jadi hiduplah untuk hari ini—menjelma sepotong bahagia.

Song : La Vie en Rose (Édith Poaf)
Image : Private Doc