Kupu

Ada kupu-kupu masuk rumah
Sayapnya warna coklat kekuningan
Ini kupu jalanan, seruku dalam hati
Mau ada tamu, Ibu membisikku

Kupu-kupu berhenti terbang
Menempellah ia di handuk yang lagi di gantung
Kupu-kupunya lapar, gumamku sekali lagi
Tamunya lapar, Ibu menimpali

Sayapnya mengepak-ngepak
Tanda dia mau terbang lagi
Kali ini ia pilih memutar-mutar di dekat lampu
Mungkin biar hangat, pikirku
Rumah ini terlalu gelap, Ibu tercekat

Ibu menyuguhkan secangkir teh tawar dingin
Gula dihabiskan semut sudah
Air panas lama mendingin

Ibu mempersilakan minum
Pada tamu yang tidak pernah datang
Pada rumah yang tidak pernah terang

 
Bandung, 17 Maret 2018
image: pinterest.com

 

Padam

Alfa kecil ingin menjadi seorang pemadam kebakaran. Sebab dirinya geram dan mempertanyakan mengapa pemadam kebakaran tidak menyemburkan air tepat pada titik apinya?
Hey Alfa, aku punya rahasia kecil yang kudapat dari teman seperjalananku.
Kau tahu? Api itu akan hidup kalau ada tiga hal: panas, bahan dan oksigen. Segitiga api.

Selama masih ada tiga bahan itu, api akan terus makan dan makan dan makan sampai ia makin tumbuh dan besar. Seorang pemadam kebakaran tidak bisa membunuh api dengan menghujam di titiknya. Melainkan, ia akan musnahkan semua hal yang membuat api bisa makan dan hidup. Selama ia tidak bisa bergerak lagi ke mana-mana, ia akan kehabisan energi dan akhirnya mati.
Alfa, kalau kamu sedang marah jangan bunuh ia pada titik marahnya. Kau akan mudah salah paham. Coba kenali apa saja hal yang membuatmu marah. Dekati ia dan matikan cepat. Marahmu tidak akan lagi menyebar dan tidak akan lagi hidup.
Dan oh, ini rahasia kecil kita ya, Alfa. Simpan baik-baik di anganmu. Kamu tahu persis, kapan bisa padamkan api itu.

Sampah Bulan Desember

Sudah ku kabarkan pada dunia
Negeriku punya cerita, punya daya

Sudah negeriku kabarkan pula
Bahwa tak berarti itu semua
Rumahku sudah kau kirim bencana

Aku sudah melawan dengan sebaik-bainya
Tapi mereka terus saja berteriak
Mereka terus menghujaniku sumpah serapah
Searoma sampah, sepelemparan batu dari rumah

(Mata menerawang dan menggenang di ujung air mata luka
Sayup terdengar takbir
Aku bahkan lupa ini malam lebaran)

Dua bagus, satu tidak apa
Sapa dan abdimu sudah ku dekap rapat-rapat
Dan ku kirim isyarat
Lewat gemericik sungai di belakang rumah dulu
Lewat kunang-kunang terangi halaman

/Jariku mengusap peluh keningmu,
Lalu ku sematkan kecup panjang, basah
Aku tak lihat ujung cerita ini
Namun kita telah menyatu
Belulang kita telah terpaut/

Perlu ku cari kemana lagi?
Jika di matamu aku telah menemukan

Terang…

 

Cipete Utara,
2 September 2017


Mengambil judul salah satu tulisan dari Hamsad Rangkuti, puisi ini jelas terinspirasi dari kisah hidupnya. Mengambil latar malam takbiran, sesuai dengan keadaan aslinya ketika penulis berkunjung ke rumah sederhana Hamsad Rangkuti dan isterinya. Puisi ini seperti hadir di ruang hampa, mengisahkan tentang bagaimana sepasang manusia yang terluka dan berjuang.

Kilau.

Malam ini, seorang temanku bertanya tentang dirinya—penilaian atas keanehan yang ia keluhkan.

Aku terkesiap, tidak siap akan pertanyaan tersebut. Sebab aku mengenalnya belum genap selengkung pelangi. Namun ku tuturkan ini temanku:

“Kamu adalah lelaki yang haus kembara. Maka, teguklah segar dan tawasnya kehidupan dengan lapang dada, karena semesta tidak pernah memberimu tawar. Berkatalah pada dirimu: kemarilah jiwa yang aneh. Rengkuhlah ia dalam pelukmu sendiri hingga kau lihat jiwa-pikir-asa mu berpilin bertautan tanpa takut mampus dikoyak sepi seperti Bung Chairil. Kamu—lelaki yang berhati jernih— yang setiap jengkal sum sum dalam dirimu adalah seni. Kamu selalu bilang, itu semua hidup dan senantiasa mengalir atas nama kemanusiaan. Kawanku, teruslah seperti itu. Kamu tidak mesti menjadi sama dengan yang lainnya. Pun, kamu tidak perlu menjadi paripurna. Sesekali, mendongaklah ke atas, lihat  langit sedang membasuh diri dan bintang melucuti dirinya untuk sekadar menyambutmu. Camkan ini: segelap-gelapnya malam, kamu akan melihat gemilang cahaya.”

 

Cibubur,

23 Mei 2017

 

 

image : pinterest

Terra Incognita

Ada  samudera terbentang

Di tempat jauh

Manakala diaduk, hanya akan dapati kelam

Kelamku sendiri

Partikelnya adalah muntahan getir

Mengendap tak terhitung lamanya

 

Kelamku menepi

Mengendap,  mengerak, menutup pori

Menggerogoti sonder kasih layaknya cakra

 

Sedu sedanku mengadu

Seirama lara; seterang gelap

Gelap tak terperi; Sesak tanpa tepi

Dan aku hanya mampu terseok

Meraba. Meracau

 

Saat satu cahaya, benderang, menerang

Menyumbul pasti dari rohmu yang haus kelana

Aku dituntun oleh jiwamu  pada ruang katarsis

Atau, kamu lah katarsis itu sendiri?

Bagi citraku yang melintas lalu lesap

 

Sempat, imajiku imajimu bertaut  pada satu  mimbar inti-bumi

Ku sebut berulang, ku panggil lalu

Lalu dan lalu hingga kau berlalu

Tapi tapi tapi

Nyata aku tetap terjebak

Dalam terra incognita

 

 

Remang Jakarta,

11 Mei 2017

 

image : pinterest

Pesan dari Seorang Saphiosexual.

beautiful-mind-26840643

Teruntuk,
Rumput yang mengembun pada sepertiga malam
Terkutuk,
Rindu yang biru menjadi lebam

Gila!
Tidak pernah saya begini kurang ajar
Basorexia telah memenuhi kepala,
hati, juga pembuluh darah sampai ujung jempol kaki
Persis virus yang menggerogoti akal sehat

Saya mengaku
Saya cuma mau mengulum bibirmu itu
Lembab hingga  terjerembab
Saat kamu berteori sarat arti
Memainkannya seperti tanah liat
Diotak-atik, otak-atik
Sampai jadi tiga dimensi, diplintir
Dikonseptualisasikan

Saya cuma mau dada bidangmu itu
Didekap hingga pengap megap
Saat gemuruh jantung mu makin bising
Manakala bilang semua korporat tai kucing!
Persetan pembangunan, matamu memicing

Saya mau tenggelam dalam matamu
Mata yang berbahaya
Tersesat, berenang; mengapung-apung
Manakala matamu mengenang
Sosok penyair terdidik; pemilik sah pena
Dengan imajinasi lintas dimensi

Rasanya saya mau menubrukmu
Memburumu dengan birahi sedalam palung

Saya mau sembunyi dalam hangatmu
Memanas bersama canda sarkastikmu
Sampai benar-benar terbakar

Gelap telah kita habiskan dengan sphallolalia
Habis dua bungkus kretek penuh, asapnya mengepul
Bersenggama dengan udara
Menjadi bahasa nihil  aksara

Bahumu berguncang
Ingat kretekmu itu hasil ekploitasi kelas pekerja

Lalu
Hari sudah pagi….

Saya tidak damba apalagi
Selain hadirmu dalam ketidakpastian
Rumit dalam chaos
Dilebur….

 
Firdhaussi
Jakarta Selatan, 20 Mei 2016

image: dreamstime.com

 

 

 

Malah

Geger!

             Gempar!

                              Hingar!

                                              Bingar!

                                                             Huru!

                                               Hara!

                              Gonjang!

             Ganjing!

   Bumi Goro-Goro!

Kau sebut kemanusiaan

                                            Malah share foto tanpa tangan, tanpa sensor

Kau sebut kepedulian

                                            Malah update sana sini, sebar ketakutan

Kau sebut perdamaian

                                           Malah tuduh sana sini, agama ini itu

Kau sebut nasionalisme

                                          Malah hitung berapa naik turun saham

Kau sebut kritis

                                          Malah sibuk jadi si-paling-perdana, tanpa validasi data

Kau sebut diam

                                        Malahan ia paling banyak berdoa, tulus

Mau sebut apa lagi?

                                             Bah!

Bumi Goro-Goro!

 

Firdhaussi,

 

Cibubur, 15 Januari 2016 (H+1 Pasca Ledakan Sarinah)

Turut berduka cita kepada segenap korban, keluarga korban, juga aparat yang bertugas.

 

 

 

images : Dok. Pribadi