Chandrika

Telah dimaktubkan seorang putri
Keluar ia dari rahim yang kelak dipanggilnya indung

Chandrika dilahirkan:
Bersama riuh ombak selaba;
Diternakkan di bawah pendar rembulan;
Dan menetek dari hujan bulan juni

Ditiupkan doa pada si Putri kecil
agar senantiasa: Lapang sanubari
Seluas cakrawala tak bertepi

Putri kecil menjelma Chandrika;
yang terangnya menyuguhkan sentosa
Bahkan jika kau hanya melihatnya dari pantulan rawa-rawa.

Selatan Jakarta,
Juni 2019


image : pinterest

Sertifikat Kematian

Telah dicukupkan organ demi organ dalam tubuhmu berbakti dan menyala; memenuhi kerakusanmu dengan patuh

Kamu akan diluluskan menuju tempat perkumpulan penghuni alam raya
Membentuk gugus, seluruh tanpa eskepsi.

Hingga tiba kala maut mengetuk dinding jiwamu
Dipersilakan dan dijamu
Ia mengecup kening-basuh kalbu
Ditiupnya mantra-mantra mangkus


Tidak akan sakit, dia mendesus

Kamu tidak bisa lari dan sekonyong-konyong tersenyum.

Di sinilah kamu dimulai.

So, forgiveness = photosynthesis?

Sudah lama aku memikirkan tentang ini. Antara fotosintesis dan memaafkan adalah sebuah proses serupa. Keduanya bertutur tentang bagaimana memaknai apa-apa yang diterima lantas secara kimiawi mengolahnya menjadikan hasil yang sepenuhnya untuk kebaikanmu sendiri.

Pada proses fotosintes, kita akan menemukan terik matahari penuh keluh bersamaan dengan sisa pernafasan yang keluar dari hidung dan mulut manusia—seringkali disertai aroma dan sensasi tak menggugah selera. Oleh klorofil yang rendah hati, keduanya tak ubah dua makhluk yang setiap kali datang akan dipeluknya dalam dekapan paling hangat.

Malang,
14 September 2018.

Figuring out that forgiveness and photosynthesis somehow have similarities; flow, output and everything in between. Maybe it sounds non sense (ha) but that pseudo concept helped me so much to understand why we need to forgive.

That concept i got from here.

Feature image : pinterest

Fragment//

Dengan mengecup hangatnya matahari terbit, aku seperti didekap alam semesta raya dan seisi jantungnya. Sesekali terdengar embun bertasbih dan rumput-rumput kecil yang riuh berfotosintesis menikmati pertumbuhan mereka. Dini hari tadi ada dua orang jatuh tergelincir; mungkin saat itulah bintang sedang terpejam merakit harapan. Mengaduknya bersama kekecewaan-kedewasaan dan siap menelurkan menjadi hari-hari baru dengan dada paling lapang. Esok akan tetap jadi misteri, jadi hiduplah untuk hari ini—menjelma sepotong bahagia.

Song : La Vie en Rose (Édith Poaf)
Image : Private Doc

When i typed ‘you’ in Google

When I typed ‘you’ in google,
The screen showed :

A voice brings me to NREM 3 stage of sleep
A story stands like a frieze of ravishing elm
Time being my intermission from riot of life and rant to society sucks
Nights I pass through talk about things that get us inside invisible bubble
Days give me strength by whisper story with often waggish
A crystal clear and shimmers Shooting star among sky stuff
Promises never fulfill
An air with mystery colours that I can’t read
A beauty, always betray
Words that I can’t yell to the world

I thought they are so the way you.

On the train,
Oct, 19th 2016

image : doc. writer

Rebah

Aku kan cuma rebah-rebah roti Khong Ghuan
Itu remah.

Rebahku baru pulang kerja, dia…..
Hus pamali ah ngomongin abah

Tapi aku kan cuma rebah penghisap madu
Lebah, sayang!

Eh hatiku rebah mikirin kamu
Hmmmm, resah?

Dasar rebah! Beraninya menipu orang kecil
Bedebah.

Ah sulit sekali,
Aku cuma mau rebah di sampingmu
Lalu kita cerita tentang kemarin dan besok,
lusa, atau kalau kita tua
Lalu kita berandai-andai, bermimpi-mimpi

Rebah kita ditutup kecup basah!

Selatan Jakarta, 31 Januari 2018

Tira

Gadisku Tira,
Musim berganti jadi semi
Kau tumbuh jadi bunga; lebih sedap dari kenanga
Odoran menyerbak ke hidung lelaki yang lewat
Menjebak, Memikat, Menambat
Nyaris menyumbat pikiran sehat
Kau menjelma aroma beracun tanpa obat

Tira Gadisku yang naif nan lugu,
Sadarkah kau bibir bulan sabitmu itu makin merekah
Merajam kata; menuai resah
Tak peduli perkasa maupun lemah
Kau luluh lantakkan birahinya
Sonder belas, sonder sisa

Tira, O, Tira
Kaulah ini sungguh nelangsa
Tidak saja aroma, tak hanya kata
Hadirmu saja mengelim malapetaka

Maka ku rapal kau Tira;
Tirani Mayoritas

Argo Muria, 21 Des 18