When i typed ‘you’ in Google

When I typed ‘you’ in google,
The screen showed :

A voice brings me to NREM 3 stage of sleep
A story stands like a frieze of ravishing elm
Time being my intermission from riot of life and rant to society sucks
Nights I pass through talk about things that get us inside invisible bubble
Days give me strength by whisper story with often waggish
A crystal clear and shimmers Shooting star among sky stuff
Promises never fulfill
An air with mystery colours that I can’t read
A beauty, always betray
Words that I can’t yell to the world

I thought they are so the way you.

On the train,
Oct, 19th 2016

image : doc. writer

Rebah

Aku kan cuma rebah-rebah roti Khong Ghuan
Itu remah.

Rebahku baru pulang kerja, dia…..
Hus pamali ah ngomongin abah

Tapi aku kan cuma rebah penghisap madu
Lebah, sayang!

Eh hatiku rebah mikirin kamu
Hmmmm, resah?

Dasar rebah! Beraninya menipu orang kecil
Bedebah.

Ah sulit sekali,
Aku cuma mau rebah di sampingmu
Lalu kita cerita tentang kemarin dan besok,
lusa, atau kalau kita tua
Lalu kita berandai-andai, bermimpi-mimpi

Rebah kita ditutup kecup basah!

Selatan Jakarta, 31 Januari 2018

Tira

Gadisku Tira,
Musim berganti jadi semi
Kau tumbuh jadi bunga; lebih sedap dari kenanga
Odoran menyerbak ke hidung lelaki yang lewat
Menjebak, Memikat, Menambat
Nyaris menyumbat pikiran sehat
Kau menjelma aroma beracun tanpa obat

Tira Gadisku yang naif nan lugu,
Sadarkah kau bibir bulan sabitmu itu makin merekah
Merajam kata; menuai resah
Tak peduli perkasa maupun lemah
Kau luluh lantakkan birahinya
Sonder belas, sonder sisa

Tira, O, Tira
Kaulah ini sungguh nelangsa
Tidak saja aroma, tak hanya kata
Hadirmu saja mengelim malapetaka

Maka ku rapal kau Tira;
Tirani Mayoritas

Argo Muria, 21 Des 18

Translasi Terlukis

Saat kertas dibuka, tampaklah semburat gambar dua dimensi yang tersembunyi dibaliknya. Pada pandang pertama, mata ku dibuat mengembun-basah tak berkata.

Kitabisa dalam lukisan tersebut dimanifestasikan dalam wujud perahu kertas. Seumpama kapal raksasa milik Nuh Alaihisalam, perahu ini seperti mencoba menjadi juru selamat atas derita di sekitarnya. Membawanya ke lautan ketenangan dinaungi lembayung tak terperi indahnya.

WhatsApp Image 2018-11-16 at 07.40.10

Perahu tersebut tampak mengambang-ambang bersama perahu-perahu lainnya. Seperti petani menebar benih padi, dalam setiap perahu tersemat sukma murni bestari juru selamat. Air mengalir tenang membentuk simfoni, tidak biru dan tidak keruh. Sejatinya, air mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah. Mengisi relung kesenjangan, antara yang di atas menyatu dengan si bawah.

Lalu, dari kedalaman laut yang tenang, muncullah sesosok makhluk astral dibalut bayangan hitam temaram. Tepat dari tengah dadanya menyeruak kupu-kupu dengan sayap coklat keemasan. Kupu yang agung terbang tanpa suara. Hanya antenanya sesekali mengangguk-angguk. Menerima radar bagi siapa yang memanggil bantu. Selayaknya makhluk Tuhan lain yang diciptakan bukan tanpa kesadaran–darinya kita ambil saripati pelajaran hidup. Menjadi kupu-kupu adalah sebuah proses yang teramat panjang dan menyakitkan. Namun apalah artinya derita dan penyiksaan jika pada akhirnya terbang. Bukan sekedar kuda sembrani bertanduk cahaya.

Kalau kau pandang lebih lekat, dari busung dadanya, tampaklah padang terbentang. Melintang dari bumi belahan timur ke barat. Tidak ada Sang Matahari, atau langit berlagu. Kali ini, kau dibawa terbang pesawat kertas yang menganga seperti hendak bertempur. Kemana ia hendak terbentur?

Jawabnya ada pada merah putih yang dipanggul bocah berkulit selembut susu. Saban hari, menyibak puing-puing impian dan menerjemahkannya menjadi gerakan renang di bawah bulan pernama.

Atau mungkin matamu menyapu kulit menempel tulang rusuk hingga kau lihat setiap sendinya mengaduh dan matanya yang sayu layu menggidikkan bulu roma hanya dalam satu kedipan.

Bisa jadi pesawat tempur tadi hendak mengabarkan warta pada bocah berselang tujuh. Badannya menggeliat menggelagat sanubari naluri seorang ibu yang kebetulan sedang menetekkan air sucinya. 

Ibu bumi, ibu pertiwi atau ibu manapun tentu akan mengerang mendapati putranya menghadap aral gendala tanpa persenjataan lengkap. Erangan yang mampu meledakkan permen lolipop menjadi puing bergentayangan dalam asap pekat menghunus paru-paru dan pembuluh darah.

Asap itu tampak seperti gelombang elektromagnetik yang membentuk gambaran kakak-beradik dalam satu balon kedap udara yang hatinya menangis sebab ladang bermainnya telah tergusur. Juga jiwa bocahnya, yang dihantui kematian.

Tidak perlu mendongakkan kepalamu. Cukup putar pada derajat 90 dan kau dapati serdadu oranye sedang timbul tenggelam memunguti fragmen pesawat besi yang tercabik. Bisa jadi, justru di sisi kananmu itu lah pasukan biru sedang mengoyak dada saudaramu. Semata agar jantungnya tetap berdetak tanpa gemeretak.

Lantas pada hari yang sama, saat Jembatan Kuning kesayangan seluruh anggota kerajaan terberai tak bersisa, Perahu Kertas akan lantang bergema :

“Kami bukanlah juru selamat. Cukupkanlah kami menjadi jembatan yang menghubungkan nestapa dan doa.”

Kini, kamulah setiap cerita itu. Menjadikan kami hadir, menggenapkan kami utuh. 


ps: Terima kasih untuk lukisan yang kini selalu menyambut pagi, mengantarkan selamat datang pada jiwa kami agar senantiasa menjadi mahardika.

Selatan Jakarta, 16 November 2018

Sekat

Selalu ada sekat tipis tak terlihat antar rahim ibu dan pusar jabang bayi
Sebagaimana anak monyet belajar memanjat dan bisikan harum saat kau
belum genap satu

Keduanya dibesarkan dalam segunung ekspektasi,
berbisik-bisik terhunus sanubari

Sebab lantang lekas dilarang
Sebab beberapa hal memang
tak layak diperbincangkan/ditafsir/dipadupadankan/disadur/dialihartikan

Bandung,
Oktober 2018

“Bahwa hubungan anak dan orangtua (ibu) akan selalu tidak sederhana dan layak diromantisasi”

image : pinterest

Quake of Donggala

Everyday,  number’s increasing
People are dying, bleeding, crying
Perhaps some of us start reckoning
Mother nature is attacking
some point your nose “azab..azab..”

Victims scatter
Humanity and empathy obscure
Besides; money and fame turn over
But all we need is care for swear
Love each other ’til we can hear

Universe whispers: “……..,,,,,…,,,….,,..xx,,,*,…..”

and we can truly understand whats happening

until we can bear a hand for healing

wonder to help

Non-sense Dissonance


You is the only word i
can not spell easily;

other that that, you transform into color i
can’t smell loudly

The fact frankly says; breath and beat of yours
are things i
miss everyday

Call me poor because i
right am

Malang Selatan,
September 2018