Melamun Lisong

Memandangi satu per satu, kotak demi kotak
Segulung dan bergulung, semua tlah ku hirup-habis,
Aku merasa perkasa

Manakala dihadapkan aku pada fajar merah merekah
atau tetes embun menempel pada kaca jendela rumah
sekonyong-konyong, dada sesak seolah ada ribuan manusia mengantre masuk ke dalam. Nafasku macet. Padahal tidak ada komodo lewat pagi itu

Ia bilang, jantungku berdetak laju, lebih dari detik
berdegup penuh huru-hara.

Ia yang lain bilang, bukannya mereka hanya jalan pintas menjemput tenang?
Memburu terang?
Aku bilang, yang aku cari konstan.

Ia yang datang dari masa lalu sebagai bayangan membisik <jangan>
Pacu cepat dan matikan.

Ia terakhir muncul dari warta, mempotret anak kurus memetik mimpi, mati.
Ada racun menjalar darah, aku tahu.

Lari tubuku ke sudut pikiranku, menelan dan mencerna
Perlahan aku sadar: Segala yang memikat sudah terganjal waktu
Seteguk nikmat pasti ditanggulangi cermat.

Cig, aku pamit undur diri
Kamsia atas perjamuan singkat ini
Mungkin kita bertemu lagi, tapi tak serupa kini.


Selatan Jakarta
Januari, 2020


Image : Pinterest

Kursi Ingatan

Suatu pagi seroang anak dan ibunya sedang berjalan di kawasan pertokoan. Pada salah satu etalase toko dipajang sepasang kursi sofa. Kursi sofa itu terbuat dari kain suede berwarna abu-abu terang. Pada kedua sisinya terdapat tempat untuk meletakkan lengan tangan. Ia punya sandaran yang tinggi sehingga cukup untuk orang dewasa menyandarkan seluruh badan dan kepalanya. Di bagian bawah kursi terdapat pijakan kaki sehingga saat orang duduk di kursi,  tak akan khawatir kakinya akan merasa pegal. Kursi sofa tersebut selain sangat cantik juga dipastikan akan menimbulkan sensasi nyaman tak terbatas. Seolah orang yang sedang duduk di awan empuk dan tertiup angin sepoi.

Si anak mendekat ke etalase dengan pandangan mata membulat takjub. Mulutnya terbuka dan keluar “Waaaaaah” panjang.

Sang ibu tersenyum melihat anaknya begitu terpesona pada sebuah kursi. Ia kemudian merogoh saku dasternya, mengambil dompet usang dan menghitung lembaran uang kertas dalam dompetnya, seraya mengelus kepala anaknya.

“Nak, demi melihatmu begitu menginginkan kursi sofa itu, Ibu akan belikan. Uang Ibu memang tidak banyak, tapi cukup untuk membelikanmu. Ini adalah hadiah karena kamu selama ini sangat rajin. Kamu selalu mau membantu ibu membereskan rumah., menjaga warung makan dan tetap rajin belajar. Juga, yang paling penting adalah kamu rajin sembahyang tanpa Ibu ingatkan. Sekarang Ibu akan membeli kursi sofa ini agar selepas kamu lelah membantu Ibu atau beraktivitas lainnya, kamu dapat istirahat di kursi sofa dengan nyaman.”

Anak tersebut menjadi loncat kegirangan. Bola matanya bergerak mengisyaratkan kebahagiannya yang semakin berlipat. Anak memeluk Ibu sebagai wujud terima kasihnya yang meluap-luap.

Hari itu, sepasang ibu dan anak membawa pulang kursi baru. Matahari melihat dari atas dengan penuh iri.

Kehadiran kursi sofa baru ternyata tidak sesuai dengan pengharapan Ibu. Anak yang semula rajin membantunya kini menjadi lebih malas. Rumah tidak lagi sebersih dulu karena debunya jarang dibersihkan, lantainya tidak lagi bening dan tercium aroma kecoa dimana-mana. Ibu tidak sempat membersihkan seisi rumah karena kewalahan menjaga warung makannya.

Ketika panggilan sembahyang berkumandang, Anak memilih untuk tidak mendengar dan duduk di kursi sofa. Ia duduk di sana sepanjang hari. Ia baru akan pergi dari kursi jika ingin pergi ke toilet atau mengambil makanan. Selebihnya ia akan menikmati kursi sepanjang hari. Bahkan Anak sudah tidak semangat belajar juga karena terlalu asyik bermain di kursi sofa barunya. 

Ibu melahirkan anak sebagaimana rakyat melahirkan amanat pada utusannya, pada wakil suaranya. Tetapi pada saat sebuah kenyamanan menyergap, saat itulah ingatan tersedot habis. Anak terlena pada tipu daya kursi, mengira bahwa ia bisa berlindung selamanya dalam kursi. Padahal kehidupan yang sesungguhnya justru berada di sekitarnya.

Buat Nyonya dan Tuan yang duduk di Kursi Ingatan, barangkali politik terasa seperti permainan, sehingga titik fokusnya adalah pada menang dan kalah. Atau barangkali Anda melihatnya seperti transaksi, sehingga berfokus menghitung untung rugi. Bahkan juga,mungkin buat Anda, seluruh dunia ini terasa seperti hitam putih bidak catur dan Anda dengan leluasanya mengarahkan pion dan memacu laju kuda, juga menteri-menteri kesayanganmu. Lalu kau kirim serdadu menggilas si lemah.

Kalau saat ini kamu amnesia, maka kembalilah pada ingatkan saat kamu pertama kali mendamba kursi itu. Lewat kursi itu terlahirlah pemikiran dan keputusan hasil dari renungan dan lamunanmu di kursi itu. Kamu ingin membuat peruntungan baik, menebar nasib baik. Ingat kembali bahwa dari kursi itu nantinya akan kau tabur benih keadilan. Kamu pelihara ia dengan kedua tanganmu agar nanti dapat kau petik kesetaraan darinya.

Ingatah bahwa kursi tempatmu mengadu nurani versus nafsu akan menelurkan nurani sebagai pemenang. Lalu, dieraminya dia dengan empati sampai menetas menjadi seorang ksatria yang jujur dan dapat diandalkan. Mengingatnya apakah begitu sulit dan kompleks saat berada di kursi ingatan yang nyaman?

Sebab, Nyonya dan Tuan, kursi nyamanmu adalah manifestasi dengan siapa kamu akan berhadapan. Ia adalah ilusi dan manipulasi untuk menjauhkanmu pada fitrahmu. Bukannya anak akan selalu pulang pada hangat rahim ibunya, sebagaimana wakil rakyat yang akan pulang kembali menjadi rakyat suatu hari nanti.

Cikini
Agustus, 2019