Bolehkah?

Bolehkah kita saling menyapa dalam desibel paling kecil hingga cuma aku dan kamu yang mampu merasa?

Boleh ya, sesekali kita menyeduh bunyi, mengaduknya dalam cangkir porselen dan aku larut-lebur dalam dunia yang kaubagi?

Cangkirnya akan aku ukir relief kisah kaum papa dan cawannya akan kulapisi memori tentang mereka yang pernah terusir; agar saat bibir kita dan bibir cangkir bertemu, waktu juga mempersilakan keadilan naik ke podium kemenangan.

Tetapi, kalau kamu belum bolehkan juga dan semesta masih enggan beri kita secarik surat perizinan, boleh tidak, kita merayakan sunyi saja? Merayakan hanya kita yang bersorai. Meraya, hanya kita.

Chandrika

Telah dimaktubkan seorang putri
Keluar ia dari rahim yang kelak dipanggilnya indung

Chandrika dilahirkan:
Bersama riuh ombak selaba;
Diternakkan di bawah pendar rembulan;
Dan menetek dari hujan bulan juni

Ditiupkan doa pada si Putri kecil
agar senantiasa: Lapang sanubari
Seluas cakrawala tak bertepi

Putri kecil menjelma Chandrika;
yang terangnya menyuguhkan sentosa
Bahkan jika kau hanya melihatnya dari pantulan rawa-rawa.

Selatan Jakarta,
Juni 2019


image : pinterest