So, forgiveness = photosynthesis?

Sudah lama aku memikirkan tentang ini. Antara fotosintesis dan memaafkan adalah sebuah proses serupa. Keduanya bertutur tentang bagaimana memaknai apa-apa yang diterima lantas secara kimiawi mengolahnya menjadikan hasil yang sepenuhnya untuk kebaikanmu sendiri.

Pada proses fotosintes, kita akan menemukan terik matahari penuh keluh bersamaan dengan sisa pernafasan yang keluar dari hidung dan mulut manusia—seringkali disertai aroma dan sensasi tak menggugah selera. Oleh klorofil yang rendah hati, keduanya tak ubah dua makhluk yang setiap kali datang akan dipeluknya dalam dekapan paling hangat.

Malang,
14 September 2018.

Figuring out that forgiveness and photosynthesis somehow have similarities; flow, output and everything in between. Maybe it sounds non sense (ha) but that pseudo concept helped me so much to understand why we need to forgive.

That concept i got from here.

Feature image : pinterest

Siniar; Sekutu

Ada masa-masa dimana
Beberapa hal perlu disiarkan
Bukan karena harus
Tetapi perlu

Siniar menjadi namun sunyi andai sendiri
Maka, bersekutulah!
Berdendang
Bersenang-senang

Kabarkan pada kisanak
Bisik-bisik yang kau dengar

Dengarkan disini
 

Lagu Rantau (Sambat Omah) – Silampukau

Waktu memang jahanam. Kota kelewat kejam, dan pekerjaan menyita harapan. Hari-hari berulang, diriku kian hilang. Himpitan hutang. Tagihan awal bulan. O, demi Tuhan, atau demi setan, sumpah aku ingin rumah untuk pulang! Rindu menciptakan kampung halaman tanpa alasan. Uang bawa ‘tualang sesat di jalan, menjauhi pulang. [Song of Silampukau- Lagu Rantau (Sambat Omah)]

Lagu ini cerdas dan reflektif sekali. Sarat dengan kritik sosial dan mengartikulasikan suara-suara manusia sub-urban yang terbenam hingar bingar lampu metropolitan.

Lagu ini mengingatkan saya tentang dua hal: atomisation and alienation. Kaduanya punya akar sama: industrialisasi, kapitalisme, urbanisasi (not just geographically persae).

A mass society concists of people who can only relate to each other like atoms; consists of atomised people; who lack any meaningful or morally coherent relationships which other. And also, Adorno illustrated the alienation was found among the masses in capitalist societies: condition that in capitalist economy, resulting from all lack of identity with the products of labor and a sense of being exploitated (Dominic Strinati, 2014, p. 5&59)

Pada akhirnya, hanya kampung halaman dan ‘rumah’ lah yang selalu siap menanti kita pulang, menyambut dengan ramah.

Far away from home,
Circa 2016

MR Talked about Love

I don’t like the idea of, “falling in love.”

I prefer to look at love as a commitment, an everyday decision. And that takes effort, time, patience, humility, and trust. It’s not about falling, it’s about growing—
Growing in love.
Now that’s better.

I really believe that the reason why a lot of people, “fall out of love,” is because they just fell in it to begin with.
If your concept of love is based entirely on feelings, then you are bound to fall over and over and over, and it’s just gonna hurt each and every time.

The thing about growth is that it doesn’t happen overnight. It has to be cultivated, taken care of, given time, even pruned. But when it does happen, it certainly lasts.

This is why as cliché as it seems, I still believe in the foundation called friendship.

So…

Save yourself from unnecessary heartbreak.

These things take time. Love is not a feeling, it is an act of self-giving. And let me tell you this,

you can’t give yourself if you don’t own yourself.

So make the most of what you have. Open up. Discover who you truly are. Surround yourself with friends and family. Know your worth in Christ. Find your sense of security there. Allow yourself to love and be loved.

Written by Mon Reyes
His Twitter : @rizmonreyes
His Site : rizmonreyes.com

Puan Bertutur

“Perempuan harus bertutur dan bercerita, sebab darinya mengandung pengetahuan komunal dan identitas budaya yang harus terus menerus diperdengarkan.”

Hari ini, seperti hari-hari lainnya di kalender.
Hari ini, Hari Kartini, dan sama seperti hari-hari lainnya, pemaknaan atas khasanah perempuan harusnya tidak menjadi seremonial karena semua orang meneriakkan hal yang sama hari ini.

Sudah seperti panggilan, tiap tiba pada penghujung bulan April, saya akan menulis tentang perempuan.

Satu yang saya pahami, bahwa perempuan harus menuturkan cerita. Sebelumnya saya mengira perempuan hanya bisa bercerita lewat bahasa, perempuan harus menulis. Kemudian ku gandrungi penyair-penyair perempuan.

Nyatanya tulisan hanyalah satu dari banyak media yang bisa dipakai oleh perempuan untuk menuturkan pemikirannya.

Perempuan Baduy misalnya, mereka bertutur dengan kain tenun. Dalam lembaran kain warna-warni, ada cerita, ada cara pandang atas dunia yang hendak mereka tuangkan. Tuturan perempuan Baduy menjadi warisan tak ternilai.

Perempuan di Larantuka, NTT misalnya. Mereka bertutur melalui anyaman yang mereka buat dengan sepenuh hati menggunakan tangan. Bambu disulap jadi aneka rupa barang kebutuhan. Tuturan perempuan Larantuka menjadi dasar dan sekaligus pusat kehidupan perempuan dan laki-laki berkegiatan.

Kali ini, saya ingin menceritakan perempuan-perempuan yang bertutur melalui serangkaian irama dan larik. Darinya tercermin, resah apa yang paling mengganjal dan menunggu di ubun-ubun untuk dimuntahkan: harapan dan pesimistik, kasih dan amarah, luka dan obat penawarnya.

Ada yang bercerita tentang perasaan tidak nyaman diabaikan, tegar menghadapi kekerasan seksual. Sebagian menerjemahkan batinnya dalam pengalaman menjalani hubungan, juga bercerita tentang kebijaksanaan, persahabatan, ketimpangan sosial.

Berikut dua belas lagu, yang dituturkan oleh perempuan dan masuk kedalam laci lagu kesayangan:

Daftar lagu Puan dapat diperdengarkan di sini 

  1. Stars and Rabbit – Man Upon The Hill
  2. Joan Baz – Donna Donna
  3. Cyndi Lauper – True Colors
  4. Francoise Hardy – Coment te Dire Adieu
  5. Sherina Munaf – Petualangan Sherina Theme Song
  6. Aretha Franklin – I Never Loved a Man (The way i love you)
  7. Mocca – You and Me Against The World
  8. Of Monsters and Men – King and Lionheart
  9. Banda Neira – Sebagai Kawan
  10. She and Him – Stars Fell on Alabama
  11. Danilla – Junko Furuta
  12. Amy Winehouse  – You Know I’m No Good

 

Image: Sister of writer

kids.

akan jadi post paling panjang sepertinya

Kemarin, tepat di tengah huru hara kemeriahan pelepasan sarjana di kampus. Ada satu post path dari salah satu teman yang membuat saya menangis sejadinya. Merinding saya membacanya seolah ada mantra dalam aksaranya.

ALVIN.jpg ALVIN2.jpg

 

Saya harus akui, saya sangat sentimentil ketika bicara tentang anak-anak. Keterikatan saya pada dunia ini,rasanya sudah terpatri dan mungkin akan terus bertumbuh.

Teman-teman sering bertanya mengapa saya mudah akrab dengan anak kecil. Saya pun jadi bertanya-tanya mungkinkah saya memang berkelakuan seperti anak kecil? Semacam ‘peterpan’ atau bahkan ‘childish’? Waktu saya bertanya tanya soal itu, salah satu kawan berkata “Ngga kok, kamu ngga seperti itu. Kamu cuma hanya sangat menghormati cerita masa kecilmu. Jadi kamu terus hidup dibawah kenangan itu. Dan bersikap seperti itu membuatmu bisa membagi kenangan indah masa kecil dengan anak-anak yang hidup sekarang.”

Ah ya, berbagi kebahagiaan. Dari dulu suka sekali ketemu anak-anak.

20131122_131439
Iyan.

20131122_134610
coretan Iyan

iyan
Cita-Cita Iyan.

Seorang anak berjualan tissue. Saya baru melihat semacam ini. Mirisnya, ini ada di Kota Layak Anak. Pertama kali kenal Iyan, dia bilang ingin kuliah di Fakultas Teknik UI :” Di gambar itu, Iyan torehkan sejumlah coretan. “Tessa” adalah sahabatnya, yang setiap kali dia jual dengan harga tiga ribu dan ia gambar dirinya sedang membawa seplastik tissue besar sedang belajar di FT UI. Getir.

20131130_084233
Ciasihan, Bogor

20131201_095953
Ciasihan (2)

Kali kedua bertemu anak-anak. Mereka adalah anak-anak dari Desa Ciasihan, Kabupaten Bogor. Mimpinya mungkin terdengar sederhana, tapi buat saya sangat mulia. Kebanyakan mau jadi guru ngaji  atau guru sekolah. Bukan supaya seperti orang kota, tapi biar semua orang bisa merasakan nikmatnya belajar.

kamfis
Kampung Fisip

Kampung Fisip terletak di Sawangan, Depok. Kehidupan mereka setangah urban namun kebanyakan tidak lulus SD. Berprasangka baik dan tetap ceria menghadapi dunia adalah pembelajaran berharga yang saya dapat dari setahun bersama mereka.

with inyoo
Inyo alias Ino. Adik Iyan

aini anita.jpg
Aini (ki) dan Anita (ka)

Inyo, Aini, Anita, Iki, dan anak-anak yang lain adalah hari-hari saya di Kampus. Melalui senyum dan canda mereka, saya belajar ‘kita tidak bisa memilih lahir dimana dan dilahirkan siapa. Namun hidup terus berjalan dan hiduplah dengan sebaik-baiknya sebagai manusia’

tur compile
Sekolah Kita Rumpin

Sekolah Kita Rumpin (SKR) adalah kehidupan saya kini. Berlokasi di Desa Cibitung dan Malahpar, sebuah sekolah alternatif yang menawarkan pembelajaran alternatif. Dari mereka saya tau dunia tidak baik-baik saja. Tapi tetap menjadi orang baik adalah pilihan terbaik. Tak terasa hampir 8 bulan sudah disini.

badriah
Badriyah.

Adik kesayangan di SKR. Pertama kenal langsung jatuh cinta. Seolah saya mengajarkan dia bersajak dan deklamasi puisi. Namun sesungguhnya saya belajar jauh lebih besar makna ketulusan, kegigihan, dan memaknai hidup dengan lebih dalam. Kamsiah Badriyah! 🙂

“Anak-anak selalu jadi ladang berbagi dan lautan pembelajaran yang paling baik.”

Maka, dengan segenap kerendahan hati saya persembahkan beberapa bulan kedepan untuk mengerjakan skripsi yang akan berfokus pada anak-anak juga kaitannya dengan media dan lingkungan. Mimpi jangka panjang : ingin punya buku dongeng dan jadi researcher di bidang ini. Sebab, mengutip Nina Armando “Di dunia penelitian media, anak-anak masih menjadi dunia sunyi.”
Doakan ya dan semoga semesta senantiasa mengamini.

 

Cibubur, 27 Agustus 2016.

 

Dibalik Pelangsingan

Terinspirasi dari Tulisan Faruk HT yang berjudul Tubuh, Kebudayaan dan Seksualitas, yang tercantum dalam buku Seks, Teks, Konteks.

seks teks konteks

Tubuh merupakan satu-satunya indikator yang paling niscaya atau bahkan mutlak dan yang terkesan paling alamiah dari eksistensi manusia sebagai pribadi. Namun, eksistensi manusia yang paling mutlak itu tidak akan pernah terlepas dari kesepakatan kolektif mengenai tubuh yang ideal. Kesepakatan yang diciptakan kolektivitas telah membangun jarak yang sangat jauh dengan konsep tubuh sebagai ruang manusia yang paling pribadi. Di dalam kolektivitas, terdapat kecenderungan kuat untuk merendahkan, meminimkan dan bahkan menihilkan tubuh. Terlepas dari kapitalisme dan prinsip industri, dalam kasus Indonesia fenomena tubuh ideal menjadi sebuah cerita yang unik. Hal ini terlihat dari sosok wayang kulit Jawa. Konon, para walilah yang membuat postur tubuh wayang kulit Jawa seperti adanya sekarang, yaitu poster tubuh yang sangat kurus dan bahkan terdistorsi itu. Hubungan postur wayang dengan tubuh manusia yang nyata menjadi dikaburkan dan bahkan dilenyapkan. Tubuh wayang berubah menjadi tubuh dari sesuatu yang lain, yang lebih abstrak, yang lebih bersifat spiritual, menjadi simbol dari pengertian atau konsep-konsep keagamaan dan kebudayaan. Dalam kenyataan sendiri, tubuh yang langsing, yang tampak lemah secara fisik, menjadi tubuh yang dianggap ideal secara kolektif.

Namun, idealisasi kelangsingan tubuh manusia pada budaya Jawa diatas mungkin mendahului zaman sebagai akibat dari faktor historis. Idealisasi itu nampaknya terjadi setelah kekuatan-kekuatan politik dan ekonomi kerajaan Mataram yang mengalami pasifikasi sebagai konsekuensi dari kekalahannya dalam berbagai perang melawan imperialisme Belanda. Pasifikasi itu mendesak raja-raja Jawa untuk lebih mengandalkan kekuatan spiritual dan simbolik daripada kekuatan fisik dan material. Dengan kata lain, pelangsingan itu terjadi sebagai salah satu bentuk resistensi penguasa-penguasa politik dan ekonomi Jawa yang secara fisik-material mengalami pasifikasi. Perendahan derajat dan penihilan tubuh dapat menjadi identik dengan perendahan derajat dan penihilan terhadap penguasa politik  dan ekonomi yang baru, imperialis Belanda.