Siniar; Sekutu

Ada masa-masa dimana
Beberapa hal perlu disiarkan
Bukan karena harus
Tetapi perlu

Siniar menjadi namun sunyi andai sendiri
Maka, bersekutulah!
Berdendang
Bersenang-senang

Kabarkan pada kisanak
Bisik-bisik yang kau dengar

Dengarkan disini
 

Lagu Rantau (Sambat Omah) – Silampukau

Waktu memang jahanam. Kota kelewat kejam, dan pekerjaan menyita harapan. Hari-hari berulang, diriku kian hilang. Himpitan hutang. Tagihan awal bulan. O, demi Tuhan, atau demi setan, sumpah aku ingin rumah untuk pulang! Rindu menciptakan kampung halaman tanpa alasan. Uang bawa ‘tualang sesat di jalan, menjauhi pulang. [Song of Silampukau- Lagu Rantau (Sambat Omah)]

Lagu ini cerdas dan reflektif sekali. Sarat dengan kritik sosial dan mengartikulasikan suara-suara manusia sub-urban yang terbenam hingar bingar lampu metropolitan.

Lagu ini mengingatkan saya tentang dua hal: atomisation and alienation. Kaduanya punya akar sama: industrialisasi, kapitalisme, urbanisasi (not just geographically persae).

A mass society concists of people who can only relate to each other like atoms; consists of atomised people; who lack any meaningful or morally coherent relationships which other. And also, Adorno illustrated the alienation was found among the masses in capitalist societies: condition that in capitalist economy, resulting from all lack of identity with the products of labor and a sense of being exploitated (Dominic Strinati, 2014, p. 5&59)

Pada akhirnya, hanya kampung halaman dan ‘rumah’ lah yang selalu siap menanti kita pulang, menyambut dengan ramah.

Far away from home,
Circa 2016

MR Talked about Love

I don’t like the idea of, “falling in love.”

I prefer to look at love as a commitment, an everyday decision. And that takes effort, time, patience, humility, and trust. It’s not about falling, it’s about growing—
Growing in love.
Now that’s better.

I really believe that the reason why a lot of people, “fall out of love,” is because they just fell in it to begin with.
If your concept of love is based entirely on feelings, then you are bound to fall over and over and over, and it’s just gonna hurt each and every time.

The thing about growth is that it doesn’t happen overnight. It has to be cultivated, taken care of, given time, even pruned. But when it does happen, it certainly lasts.

This is why as cliché as it seems, I still believe in the foundation called friendship.

So…

Save yourself from unnecessary heartbreak.

These things take time. Love is not a feeling, it is an act of self-giving. And let me tell you this,

you can’t give yourself if you don’t own yourself.

So make the most of what you have. Open up. Discover who you truly are. Surround yourself with friends and family. Know your worth in Christ. Find your sense of security there. Allow yourself to love and be loved.

Written by Mon Reyes
His Twitter : @rizmonreyes
His Site : rizmonreyes.com

Puan Bertutur

“Perempuan harus bertutur dan bercerita, sebab darinya mengandung pengetahuan komunal dan identitas budaya yang harus terus menerus diperdengarkan.”

Hari ini, seperti hari-hari lainnya di kalender.
Hari ini, Hari Kartini, dan sama seperti hari-hari lainnya, pemaknaan atas khasanah perempuan harusnya tidak menjadi seremonial karena semua orang meneriakkan hal yang sama hari ini.

Sudah seperti panggilan, tiap tiba pada penghujung bulan April, saya akan menulis tentang perempuan.

Satu yang saya pahami, bahwa perempuan harus menuturkan cerita. Sebelumnya saya mengira perempuan hanya bisa bercerita lewat bahasa, perempuan harus menulis. Kemudian ku gandrungi penyair-penyair perempuan.

Nyatanya tulisan hanyalah satu dari banyak media yang bisa dipakai oleh perempuan untuk menuturkan pemikirannya.

Perempuan Baduy misalnya, mereka bertutur dengan kain tenun. Dalam lembaran kain warna-warni, ada cerita, ada cara pandang atas dunia yang hendak mereka tuangkan. Tuturan perempuan Baduy menjadi warisan tak ternilai.

Perempuan di Larantuka, NTT misalnya. Mereka bertutur melalui anyaman yang mereka buat dengan sepenuh hati menggunakan tangan. Bambu disulap jadi aneka rupa barang kebutuhan. Tuturan perempuan Larantuka menjadi dasar dan sekaligus pusat kehidupan perempuan dan laki-laki berkegiatan.

Kali ini, saya ingin menceritakan perempuan-perempuan yang bertutur melalui serangkaian irama dan larik. Darinya tercermin, resah apa yang paling mengganjal dan menunggu di ubun-ubun untuk dimuntahkan: harapan dan pesimistik, kasih dan amarah, luka dan obat penawarnya.

Ada yang bercerita tentang perasaan tidak nyaman diabaikan, tegar menghadapi kekerasan seksual. Sebagian menerjemahkan batinnya dalam pengalaman menjalani hubungan, juga bercerita tentang kebijaksanaan, persahabatan, ketimpangan sosial.

Berikut dua belas lagu, yang dituturkan oleh perempuan dan masuk kedalam laci lagu kesayangan:

Daftar lagu Puan dapat diperdengarkan di sini 

  1. Stars and Rabbit – Man Upon The Hill
  2. Joan Baz – Donna Donna
  3. Cyndi Lauper – True Colors
  4. Francoise Hardy – Coment te Dire Adieu
  5. Sherina Munaf – Petualangan Sherina Theme Song
  6. Aretha Franklin – I Never Loved a Man (The way i love you)
  7. Mocca – You and Me Against The World
  8. Of Monsters and Men – King and Lionheart
  9. Banda Neira – Sebagai Kawan
  10. She and Him – Stars Fell on Alabama
  11. Danilla – Junko Furuta
  12. Amy Winehouse  – You Know I’m No Good

 

Image: Sister of writer

kids.

akan jadi post paling panjang sepertinya

Kemarin, tepat di tengah huru hara kemeriahan pelepasan sarjana di kampus. Ada satu post path dari salah satu teman yang membuat saya menangis sejadinya. Merinding saya membacanya seolah ada mantra dalam aksaranya.

ALVIN.jpg ALVIN2.jpg

 

Saya harus akui, saya sangat sentimentil ketika bicara tentang anak-anak. Keterikatan saya pada dunia ini,rasanya sudah terpatri dan mungkin akan terus bertumbuh.

Teman-teman sering bertanya mengapa saya mudah akrab dengan anak kecil. Saya pun jadi bertanya-tanya mungkinkah saya memang berkelakuan seperti anak kecil? Semacam ‘peterpan’ atau bahkan ‘childish’? Waktu saya bertanya tanya soal itu, salah satu kawan berkata “Ngga kok, kamu ngga seperti itu. Kamu cuma hanya sangat menghormati cerita masa kecilmu. Jadi kamu terus hidup dibawah kenangan itu. Dan bersikap seperti itu membuatmu bisa membagi kenangan indah masa kecil dengan anak-anak yang hidup sekarang.”

Ah ya, berbagi kebahagiaan. Dari dulu suka sekali ketemu anak-anak.

20131122_131439
Iyan.
20131122_134610
coretan Iyan
iyan
Cita-Cita Iyan.

Seorang anak berjualan tissue. Saya baru melihat semacam ini. Mirisnya, ini ada di Kota Layak Anak. Pertama kali kenal Iyan, dia bilang ingin kuliah di Fakultas Teknik UI :” Di gambar itu, Iyan torehkan sejumlah coretan. “Tessa” adalah sahabatnya, yang setiap kali dia jual dengan harga tiga ribu dan ia gambar dirinya sedang membawa seplastik tissue besar sedang belajar di FT UI. Getir.

20131130_084233
Ciasihan, Bogor
20131201_095953
Ciasihan (2)

Kali kedua bertemu anak-anak. Mereka adalah anak-anak dari Desa Ciasihan, Kabupaten Bogor. Mimpinya mungkin terdengar sederhana, tapi buat saya sangat mulia. Kebanyakan mau jadi guru ngaji  atau guru sekolah. Bukan supaya seperti orang kota, tapi biar semua orang bisa merasakan nikmatnya belajar.

kamfis
Kampung Fisip

Kampung Fisip terletak di Sawangan, Depok. Kehidupan mereka setangah urban namun kebanyakan tidak lulus SD. Berprasangka baik dan tetap ceria menghadapi dunia adalah pembelajaran berharga yang saya dapat dari setahun bersama mereka.

with inyoo
Inyo alias Ino. Adik Iyan
aini anita.jpg
Aini (ki) dan Anita (ka)

Inyo, Aini, Anita, Iki, dan anak-anak yang lain adalah hari-hari saya di Kampus. Melalui senyum dan canda mereka, saya belajar ‘kita tidak bisa memilih lahir dimana dan dilahirkan siapa. Namun hidup terus berjalan dan hiduplah dengan sebaik-baiknya sebagai manusia’

tur compile
Sekolah Kita Rumpin

Sekolah Kita Rumpin (SKR) adalah kehidupan saya kini. Berlokasi di Desa Cibitung dan Malahpar, sebuah sekolah alternatif yang menawarkan pembelajaran alternatif. Dari mereka saya tau dunia tidak baik-baik saja. Tapi tetap menjadi orang baik adalah pilihan terbaik. Tak terasa hampir 8 bulan sudah disini.

badriah
Badriyah.

Adik kesayangan di SKR. Pertama kenal langsung jatuh cinta. Seolah saya mengajarkan dia bersajak dan deklamasi puisi. Namun sesungguhnya saya belajar jauh lebih besar makna ketulusan, kegigihan, dan memaknai hidup dengan lebih dalam. Kamsiah Badriyah! 🙂

“Anak-anak selalu jadi ladang berbagi dan lautan pembelajaran yang paling baik.”

Maka, dengan segenap kerendahan hati saya persembahkan beberapa bulan kedepan untuk mengerjakan skripsi yang akan berfokus pada anak-anak juga kaitannya dengan media dan lingkungan. Mimpi jangka panjang : ingin punya buku dongeng dan jadi researcher di bidang ini. Sebab, mengutip Nina Armando “Di dunia penelitian media, anak-anak masih menjadi dunia sunyi.”
Doakan ya dan semoga semesta senantiasa mengamini.

 

Cibubur, 27 Agustus 2016.

 

Dibalik Pelangsingan

Terinspirasi dari Tulisan Faruk HT yang berjudul Tubuh, Kebudayaan dan Seksualitas, yang tercantum dalam buku Seks, Teks, Konteks.

seks teks konteks

Tubuh merupakan satu-satunya indikator yang paling niscaya atau bahkan mutlak dan yang terkesan paling alamiah dari eksistensi manusia sebagai pribadi. Namun, eksistensi manusia yang paling mutlak itu tidak akan pernah terlepas dari kesepakatan kolektif mengenai tubuh yang ideal. Kesepakatan yang diciptakan kolektivitas telah membangun jarak yang sangat jauh dengan konsep tubuh sebagai ruang manusia yang paling pribadi. Di dalam kolektivitas, terdapat kecenderungan kuat untuk merendahkan, meminimkan dan bahkan menihilkan tubuh. Terlepas dari kapitalisme dan prinsip industri, dalam kasus Indonesia fenomena tubuh ideal menjadi sebuah cerita yang unik. Hal ini terlihat dari sosok wayang kulit Jawa. Konon, para walilah yang membuat postur tubuh wayang kulit Jawa seperti adanya sekarang, yaitu poster tubuh yang sangat kurus dan bahkan terdistorsi itu. Hubungan postur wayang dengan tubuh manusia yang nyata menjadi dikaburkan dan bahkan dilenyapkan. Tubuh wayang berubah menjadi tubuh dari sesuatu yang lain, yang lebih abstrak, yang lebih bersifat spiritual, menjadi simbol dari pengertian atau konsep-konsep keagamaan dan kebudayaan. Dalam kenyataan sendiri, tubuh yang langsing, yang tampak lemah secara fisik, menjadi tubuh yang dianggap ideal secara kolektif.

Namun, idealisasi kelangsingan tubuh manusia pada budaya Jawa diatas mungkin mendahului zaman sebagai akibat dari faktor historis. Idealisasi itu nampaknya terjadi setelah kekuatan-kekuatan politik dan ekonomi kerajaan Mataram yang mengalami pasifikasi sebagai konsekuensi dari kekalahannya dalam berbagai perang melawan imperialisme Belanda. Pasifikasi itu mendesak raja-raja Jawa untuk lebih mengandalkan kekuatan spiritual dan simbolik daripada kekuatan fisik dan material. Dengan kata lain, pelangsingan itu terjadi sebagai salah satu bentuk resistensi penguasa-penguasa politik dan ekonomi Jawa yang secara fisik-material mengalami pasifikasi. Perendahan derajat dan penihilan tubuh dapat menjadi identik dengan perendahan derajat dan penihilan terhadap penguasa politik  dan ekonomi yang baru, imperialis Belanda.

Memaknai Hari Kartini: Sebuah Refleksi

Hari Lahir Kartini ke-137

Images : Google Doodle Hari Kartini

Indonesia mengenal 21 April sebagai Hari Kartini. Hari ini bisa diartikan macam-macam, ada yang mengartikan ini adalah harinya perlawanan perempuan; ada pula yang melihat ini sebagai kebangkitan dalam mengadopsi paham feminisme di Indonesia; tidak sedikit pula yang melihat ini sebagai agenda politisasi dengan mempertanyakan dari sekian banyak perempuan mengapa sih harus Kartini? Mungkinkah karena Kartini orang jawa? Kemudian ini semua ada hubungannya dengan pemimpin yang secara (kebetulan) pemimpin Indonesia saat itu adalah orang Jawa.

Sebenarnya, kalau buat saya sendiri, hari Kartini tidak berarti apa-apa. Tidak berarti apa-apa dalam artian bukan sebuah momentum yang kemudian dirayakan atau diperingati. Seperti ketika kita SMA dulu yang malah disibukkan dengan hal-hal seperti pakai baju kebaya, dandan, lomba masak, dan lain-lain. Sekolah, dalam labirin memori saya mejelma jadi aparat yang melanggengkan sebuah pemahaman domestifikasi perempuan. Pemahaman tentang ruang terbatas perempuan; kasur, sumur, dapur.  Hari ini, ketika saya mencoba memaknai kembali, sebagai perempuan dan anak FISIP, Hari Kartini, buat saya pribadi lebih kepada sebuah refleksi,  mengingat, memikirkan kembali,  mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan perempuan dan tetu saja -yang-tidak-dapat-dipisahkan-darinya, keadilan.

Bicara tentang Kartini, tidak boleh dilepaskan tanpa melihat proses kehidupannya. Kartini, beliau hidup dan besar di bawah atap yang sarat dengan permaduan dan feodalisme. Beruntung sekaligus malang; ia lahir sebagai keturunan priyayi. Malang, ia lahir dari rahim seorang perempuan, yang menurut Pram dalam Panggil Aku Kartini Saja, kemudian meninggalkannya dan Kartini kemudian diasuh oleh ibu keduanya. Kemalangan tidak berhenti di titik itu, pada usia 12 tahun, feodal yang kejam mengurungnya dalam penjara  bernama pingit. Kartini, kemudian dinikahkan dengan seorang priyayi dalam usia belia, sebagai isteri keempat. Di akhir hidup (raga dan tubuhnya, sebab jiwa, semangat dan pemikirannya masih tetap hidup), Kartini meninggal empat hari setelah melahirkan, dalam usia 25 tahun.

Bagaimanapun, Tuhan masih baik. Hidup sebagai anak dari Bupati Jepara, RM Adipati Sosroningrat membuat privilige tersendiri untuk Kartini dapat mengenyam pendidikan di sekolah Belanda, ELS  (Europese Lagere School). Kala itu, akses pendidikan adalah hal yang tabu bagi perempuan. Terlebih perempuan yang terjerat dalam kemiskinan, mereka menjadi kelompok Subaltern yang berlapis. Sekolah menjadi gerbang pertama yang mengenalkan Kartini pada buku-buku, koran, majalah yang kesemuanya mengantarkan pada satu hulu: pemikiran Eropa. Kartini mengecap manisnya mimpi ideal feminisme, sosialisme hingga liberalisme yang kala itu punya harga mahal.

Orang sering bertanya mengapa harus Kartini. Mengapa bukan Cut Nyak Dien yang berada pada garda terdepan mengangkat senjata, berteriak paling kencang memberi komando pada prajurit yang dicintainya. Perempuan paling berani di Aceh, bahkan mungkin di Indonesia pada masa kolonial. Atau bukan Dewi Sartika saja, yang membangun Sekolah Keutamaan Istri. Dalam hal ini saya sepakat pada Soekarno, bahwa Kartini menulis. Senjatanya adalah pena dan pengabdiannya adalah menulis. Kata dan pemikiran yang dituangkan dalam kumpulan perkamen suratnya, terdengar lebih tajam dibanding pisau manapun. Pisau yang menghunus pengukung dan penindas perempuan.

Surat: dalam hidup Kartini adalah perantara magis yang membuatnya menjadi ikon perlawanan perempuan hingga kini. Beragkat dari perantara iklan dari sebuah majalah Eropa, Kartini bertemu dengan Estella H. Z. Heehandelar, yang kemudian dikenal sebagai feminis ekstrim. Melalui sahabat penanya ini, pemikiran Kartini semakin terasah dari hari ke hari. Setiap pagi, saat matahari muncul dari timur, semakin bertambah pula kegelisahan Kartini melihat kondisi di sekelilingnya. Seiring dengan hatinya yang makin gelisah, penindasan dan pengekangan para perempuan Jawa semakin menggila, menggerus kemerdekaan jiwa. Kartini memercayai bahwa pendidikan merupakan jalan bagi perempuan menuju ruang yang lebih terang.

“Karena saya yakin sedalam-dalamnya bahwa wanita dapat memberi pengaruh besar kepada masyarakat, maka tidak ada yang lebih saya inginkan daripada menjadi guru, supaya kelak dapat mendidik gadis-gadis dari para pejabat tinggi kita. O, saya ingin sekali menuntun anak-anak itu, membentuk watak mereka, mengembangkan pikiran mereka yang muda, membina mereka menjadi wanita-wanita masa depan, supaya mereka kelak dapat meneruskan segala yang baik itu. Masyarakat kita pasti bahagia kalau wanita-wanitanya mendapat pendidikan yang baik… Di dunia wanita kita terdapat banyak derita yang pedih. Penderitaan yang telah saya saksikan waktu saya masih kanak-kanak itulah yang membangkitkan keinginan saya membawa arus yang tidak mau membenarkan saja keadaan-keadaan yang kolot.”

(Surat Kartini kepada, Zeehandelaar 1901)

Nadya Karima Melati (JP, 2015)  menjelaskan mengenai berbagai polemik terkait dengan diangkatnya Kartini sebagai pahlawan. Pemilihan Kartini sebagai pahlawan ditetapkan oleh Soekarno melalui Keputusan Presiden No. 108 tahun 1964. Jika Pram dalam bukunya menulis bahwa Kartini adalah contoh terbaik dalam didikannya (politik etis) yang bisa diberikan kepada Pribumi jajahannya, Prof. Dr. Harsya W. Bachtiar Guru Besar UI mengkritik  perihal pengkultusan R.A. Kartini sebagai pahlawan nasional Indonesia dalam “Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita” dalam buku Satu Abad Kartini (1879-1979) yang dijadikan propaganda menentang Feminisme oleh peneliti INSIST Tiar Anwar Bachtiar.  Angle of Vision karya Andi Achdian, dalam bab berjudul ‘Kartini’, dibahas biografi Singkat Kartini dan gerak zaman yang melingkupinya, yang  dituduhkan karena dekatnya Kartini dengan orang-orang Belanda, dan Kartini juga mencicipi pendidikan modern ala Eropa.

Pada Desember 2010 di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia dipertanyakan ‘Kepahlawanan Kartini’ melalui seminar berjudul “Menakar Bobot Kepahlawanan” yang dilakukan oleh Masyarakat Sejarah Indonesia. Dengan cukup bijak, Sejarahwan UI ini mengungkapkan bahwa polemik Kartini sebagai pahlawan bukanlah dilihat dengan ‘menakar’. Pahlawan muncul dalam bentuk lain: Inspirasi bagi seorang individu dalam masyarakatnya dengan cara memahami persoalan bukan sekedar mengangkat citra dangkal konsepsi kita tentang Pahlawan.

Bagaimana Kartini hidup adalah sebuah cerita belakang panggung yang perlu kita ketahui agar lamas tidak ahistoris. Namun, pada akhirnya untuk kita yang masih hidup, memaknai Hari Kartini haruslah dengan pemahaman. Memaknai Hari Kartini dengan belajar dari Beliau : berpikir maju tentang masa depan; dengan memiliki imajinasi politik dan peradaban, kita akan menjadi bangsa yang terus mau belajar; kedua menjadi perempuan yang belajar dan menulis tentang bangsanya; sebab, mengutip dari Pram menulis adalah bekerja untuk keabadian; dan terakhir melepaskan cangkang pikiran bahwa perempuan adalah gender yang terbatas, bahwa diskriminasi gender adalah sebuah pewajaran, dan bahwa  pendidikan adalah benar adanya milik seluruh bangsa. Maka Kartini, kamu abadi.

“… Semoga melalui banyak sekali penderitaan dan kesedihan, kami berhasil menciptakan sesuatu. Bagi rakyat kami. Terutama yang bermanfaat bagi kaum wanita kami – bagaimanapun kecilnya. Andaikata ini pun tidak terlaksana, semoga penderitaan dan perjuangan kami berhasil menarik perhatian khalayak ramai terhadap keadaan-keadaan yang perlu diperbaiki. Dan andaikata itu pun tidak dapat kami capai, wahai, setidaknya kami telah berusaha berbuat baik, dan kami yakin benar bahwa air mata kami, yang kini nampaknya mengalir sia-sia itu, akan ikut menumbuhkan benih yang kelak akan mekar menjadi bunga-bunga yang akan menyehatkan generasi-generasi mendatang.”

Azmi I. Firdhausi

21 April 2016