Kursi Ingatan

Suatu pagi seroang anak dan ibunya sedang berjalan di kawasan pertokoan. Pada salah satu etalase toko dipajang sepasang kursi sofa. Kursi sofa itu terbuat dari kain suede berwarna abu-abu terang. Pada kedua sisinya terdapat tempat untuk meletakkan lengan tangan. Ia punya sandaran yang tinggi sehingga cukup untuk orang dewasa menyandarkan seluruh badan dan kepalanya. Di bagian bawah kursi terdapat pijakan kaki sehingga saat orang duduk di kursi,  tak akan khawatir kakinya akan merasa pegal. Kursi sofa tersebut selain sangat cantik juga dipastikan akan menimbulkan sensasi nyaman tak terbatas. Seolah orang yang sedang duduk di awan empuk dan tertiup angin sepoi.

Si anak mendekat ke etalase dengan pandangan mata membulat takjub. Mulutnya terbuka dan keluar “Waaaaaah” panjang.

Sang ibu tersenyum melihat anaknya begitu terpesona pada sebuah kursi. Ia kemudian merogoh saku dasternya, mengambil dompet usang dan menghitung lembaran uang kertas dalam dompetnya, seraya mengelus kepala anaknya.

“Nak, demi melihatmu begitu menginginkan kursi sofa itu, Ibu akan belikan. Uang Ibu memang tidak banyak, tapi cukup untuk membelikanmu. Ini adalah hadiah karena kamu selama ini sangat rajin. Kamu selalu mau membantu ibu membereskan rumah., menjaga warung makan dan tetap rajin belajar. Juga, yang paling penting adalah kamu rajin sembahyang tanpa Ibu ingatkan. Sekarang Ibu akan membeli kursi sofa ini agar selepas kamu lelah membantu Ibu atau beraktivitas lainnya, kamu dapat istirahat di kursi sofa dengan nyaman.”

Anak tersebut menjadi loncat kegirangan. Bola matanya bergerak mengisyaratkan kebahagiannya yang semakin berlipat. Anak memeluk Ibu sebagai wujud terima kasihnya yang meluap-luap.

Hari itu, sepasang ibu dan anak membawa pulang kursi baru. Matahari melihat dari atas dengan penuh iri.

Kehadiran kursi sofa baru ternyata tidak sesuai dengan pengharapan Ibu. Anak yang semula rajin membantunya kini menjadi lebih malas. Rumah tidak lagi sebersih dulu karena debunya jarang dibersihkan, lantainya tidak lagi bening dan tercium aroma kecoa dimana-mana. Ibu tidak sempat membersihkan seisi rumah karena kewalahan menjaga warung makannya.

Ketika panggilan sembahyang berkumandang, Anak memilih untuk tidak mendengar dan duduk di kursi sofa. Ia duduk di sana sepanjang hari. Ia baru akan pergi dari kursi jika ingin pergi ke toilet atau mengambil makanan. Selebihnya ia akan menikmati kursi sepanjang hari. Bahkan Anak sudah tidak semangat belajar juga karena terlalu asyik bermain di kursi sofa barunya. 

Ibu melahirkan anak sebagaimana rakyat melahirkan amanat pada utusannya, pada wakil suaranya. Tetapi pada saat sebuah kenyamanan menyergap, saat itulah ingatan tersedot habis. Anak terlena pada tipu daya kursi, mengira bahwa ia bisa berlindung selamanya dalam kursi. Padahal kehidupan yang sesungguhnya justru berada di sekitarnya.

Buat Nyonya dan Tuan yang duduk di Kursi Ingatan, barangkali politik terasa seperti permainan, sehingga titik fokusnya adalah pada menang dan kalah. Atau barangkali Anda melihatnya seperti transaksi, sehingga berfokus menghitung untung rugi. Bahkan juga,mungkin buat Anda, seluruh dunia ini terasa seperti hitam putih bidak catur dan Anda dengan leluasanya mengarahkan pion dan memacu laju kuda, juga menteri-menteri kesayanganmu. Lalu kau kirim serdadu menggilas si lemah.

Kalau saat ini kamu amnesia, maka kembalilah pada ingatkan saat kamu pertama kali mendamba kursi itu. Lewat kursi itu terlahirlah pemikiran dan keputusan hasil dari renungan dan lamunanmu di kursi itu. Kamu ingin membuat peruntungan baik, menebar nasib baik. Ingat kembali bahwa dari kursi itu nantinya akan kau tabur benih keadilan. Kamu pelihara ia dengan kedua tanganmu agar nanti dapat kau petik kesetaraan darinya.

Ingatah bahwa kursi tempatmu mengadu nurani versus nafsu akan menelurkan nurani sebagai pemenang. Lalu, dieraminya dia dengan empati sampai menetas menjadi seorang ksatria yang jujur dan dapat diandalkan. Mengingatnya apakah begitu sulit dan kompleks saat berada di kursi ingatan yang nyaman?

Sebab, Nyonya dan Tuan, kursi nyamanmu adalah manifestasi dengan siapa kamu akan berhadapan. Ia adalah ilusi dan manipulasi untuk menjauhkanmu pada fitrahmu. Bukannya anak akan selalu pulang pada hangat rahim ibunya, sebagaimana wakil rakyat yang akan pulang kembali menjadi rakyat suatu hari nanti.

Cikini
Agustus, 2019

Buih Mimpiku Menjelma Daun

Sejak saat itu, buih mimpiku kembali mendidih, terdispersi menjadi rupa warni-warna. Diantara bulir-bulir kecemasan itu terkesiap setitik keberanian hendak merekah. Ibu punya banyak ujud, kali ini semoga terima kasih ku sampai pada Ibu Suri atas segala daya; tertuang dalam bait-bait yang terhirup beriring aku yang bertumbuh.

Pada hari itu akhirnya aku bisa bertatap dan berbicara denganmu, Ibu. Serupa daun, hatiku begitu tipis bergelayutan. Mencari-mengais hal yang sulit sekali aku utarakan. Tetapi saat bertemu denganmu, Ibu, aku seperti daun yang menemukan kekuatan kembali. Meski jauh terpisah dengan batang berpijak dan akar yang menancap kuat, aku adalah daun berpendirian yang tidak hanya mengikuti arah angin.

Padamu Ibu, aku memanjat satu harapan yang mungkin belum pernah kau dengar. Suatu hari akan datang masa saat kita dinobatkan menjadi cerita fiksi. Sementara karya-karyamu Ibu, akan menjelma realita.

Apakah keyakinanku bulat? Mungkin tidak, tapi Ibu, kalau kamu membaca ini aku ingin suatu hari kita bisa bersama beternak cerita.

Selatan Jakarta,
13 November 2019

image : pinterest