Di Teluk Batavia

IMG_20171022_175922_586

Sampah Bulan Desember

Sudah ku kabarkan pada dunia
Negeriku punya cerita, punya daya

Sudah negeriku kabarkan pula
Bahwa tak berarti itu semua
Rumahku sudah kau kirim bencana

Aku sudah melawan dengan sebaik-bainya
Tapi mereka terus saja berteriak
Mereka terus menghujaniku sumpah serapah
Searoma sampah, sepelemparan batu dari rumah

(Mata menerawang dan menggenang di ujung air mata luka
Sayup terdengar takbir
Aku bahkan lupa ini malam lebaran)

Dua bagus, satu tidak apa
Sapa dan abdimu sudah ku dekap rapat-rapat
Dan ku kirim isyarat
Lewat gemericik sungai di belakang rumah dulu
Lewat kunang-kunang terangi halaman

/Jariku mengusap peluh keningmu,
Lalu ku sematkan kecup panjang, basah
Aku tak lihat ujung cerita ini
Namun kita telah menyatu
Belulang kita telah terpaut/

Perlu ku cari kemana lagi?
Jika di matamu aku telah menemukan

Terang…

 

Cipete Utara,
2 September 2017


Mengambil judul salah satu tulisan dari Hamsad Rangkuti, puisi ini jelas terinspirasi dari kisah hidupnya. Mengambil latar malam takbiran, sesuai dengan keadaan aslinya ketika penulis berkunjung ke rumah sederhana Hamsad Rangkuti dan isterinya. Puisi ini seperti hadir di ruang hampa, mengisahkan tentang bagaimana sepasang manusia yang terluka dan berjuang.

Dera Gadis Sepertiga Jalan

Pada enam puluh detik lampu merah kita bertemu
Matamu mengilat, lebih kilau dari bulan setengah purnama
Mengembang pipimu tatkala meniup pianika biru muda
Melulur irama mendera serupa senandung ibu
membuyarkanku dari senandika

Kau tersenyum, mengikik, terangguk
Menggeleng jenaka, rambut kuncir kuda
Dukamu sudah ku buang jauh tak terperi
Dan tanganmu sudah terampil mengadah
Menjumputi receh dari pekerja paruh baya
demi penuh kantong berat yang kau gantung pada leher mungilmu

Kakimu pasti  mengapal sebab tak mencicipi sandal
Jinjit jinjit mencipta langkah menuju kolong hunian
Rumah kardus tanpa jendela, kau tinggali bersama adik lakimu
yang airnya pasang menggenang kalau hujan datang

Tak mengapa gadis kecilku
Jiwamu murni, lagi bestari
Dukamu telah ku buang jauh tak terperi

 

Pondok Pinang,
Agustus 2017

 
image: pinterest

Kutukan Klan Termite

termite-klan

 

Telah Tuhan ciptakan satu klan

Badannya tidak lebih besar dari  jempol kaki

Hidupnya berkoloni

Kerjanya mencabik buku: ilmu

Lamban tetapi jadi

Ia umbar peluh, liur dan ia kencingi

Hingga kertas lumat dalam lembab

Saat ituah ia gerogoti

Sampai bolong

Memang dasar tamak

Tidak cuma bolong kadang sampai habis

Manusia sekarang tidak baca buku

Sekalian saja itu kayu sampai grumpil

Mereka bekerja tidak pernah berisik; tidak pernah terlihat

Tau tau rusak

Mereka bekerja tidak pernah sendiri; pasti berkoloni

Persis pengecut

Tau tau hilang duapuluh tigapuluh halaman

Lalu Tuhan kutuk: sebagian besar dari klan mereka buta

Buta mata atau buta hati? embuh

Bisa jadi keduanya

Mirip penguasa.

 

 

Bulak Sareh,

11 Januari 2017

 

credit image: pinterest

 

 

Seorang Hamba

medusa

“Makhluk perayu,” kata Athena pada Medusa

“Pelayan nafsu,” besar-besar di koran kota

“Riasan  pemanis,” bunyi iklan di televisi

“Cuma pelengkap,”  doktrinasi ayat ayat kitab

Tenang Tuan-tuan,

Diri tahu lagi perempuan

Sahaya ini seorang hamba

Januari, 2016

(karya ini pernah ditampilkan dalam Art Exhibition di Artheist, namun kemudian mengalami beberapa suntingan)

 

image: andi.myid

Visual Rhetoric ep. 5

nelayan
laut

Terinspirasi dari para nelayan di Kampung Dadap Cheng In, Tangerang.

Sekarang kondisi mereka sedang mengkhawatirkan terkait dengan SP2 dari Bupati yang mengatakan bahwa kawasan tersebut akan digusur terkait dengan pelebaran jalan menuju pulau reklamasi (proyek DKI Jakarta) dan pembangunan Islamic Center.

Untuk Pengelana

10487339_507505446017632_8400052371978084337_n

from : Nabilla Reysa Utama (nreysa*****@gmail.com)

to : Iik Firdhausi (afirdhausi**@gmail.com)

Date : Sun, Mar 20, 2016 at 11:38 PM

Subject : Re : YANG TERIMA WAJIB BALES SURAT CINTA AKU

mailed-by : gmail.com

signed -by : gmail.com

encryption : Standard (TLS) Learn More

#Important mainly because of your interaction with messages in the conversation

Hi Kak Iik,

Surat ini  dibuat sambil mendengarkan salah satu lagu pahlawan di playlist aku, Barasuara. Aku tertarik

untuk mengutip lirik nya Hagia dari Barasuara.

“Sempurna yang Kau Puja,

dan Ayat-Ayat yang kau baca

Tak Kurasa Kita Berbeda

Kita Bebas Untuk Percaya”

Walaupun lagu ini ditulis sepertinya dalam konteks kebebasan beragama di Indonesia oleh sang penulis, aku tertarik untuk menariknya ke konteks yang berbeda. Aku langsung teringat sosok Kak Iik.
Iya, Kak Iik yang selalu menyiapkan telinganya untuk mendengar, dimana saja dan kapan saja, terkadang mengabaikan apa yang ia rasakan. Kak Iik yang mencintai perbedaan, yang membuat kita bocosh nyaman dengan perbedaan kita, yang selalu menghidupkan kekritisan kita, yang mengajak kita untuk berdiskusi, membebaskan kita memercayai apa yang kita percaya tetapi tak ragu menegur jika kita keluar konteks.
Aku senang karena ketemu mentor, kakak, guru, dan semua yang tidak bisa dijelaskan dengan label-label kata yang ada, entahlah yang aku tahu dirimu adalah salah satu sosok yang hadir untuk melengkapi tiap orang, yang kritis, tetapi tidak skeptis, hatinya penuh harapan akan hal yang baik.
Kak Iik, entitas yang sedang berkelana menuju hal-hal yang melengkapi dirinya, yang sedang semangat untuk berkembang, yang sedang terbuai semesta, yang sedang menari bersama hidup, yang semangatnya terus menyala, yang pikirannya berkembara, yang rasa ingin tahunya meluap dan menghidupi ruang-ruang FISIP.
Terus berkembara, karena hidup akan selalu menantimu, suatu saat dirimu tersedot ke kegelapan yang rasanya sulit dilalui tapi akan membantu dirimu menghargai dirimu sendiri, tetapi suatu saat dirimu akan tersedot ke indahnya pelangi, yang menawarkan manis dan akan menuntutmu untuk membagikan indahnya itu.
Terus berkembara. Terus berkelana.  Selamat bertemu dengan jutaan perspektif manusia yang tentunya menarik untuk diselami.


Ah, Echa! Rasanya aku terlalu kecil jika disandingkan dengan deskripsimu yang  indah. Terimakasih telah hadir dan singgah barang sebentar dalam perjalanan panjang ini. Salam Moo-sa-veer! 🙂