Gugur Daun

gugur daun

Jakarta,
Agustus 2018
 

 

Simulasi Menikah

Perihal mencintai, ku akui
Akulah yang paling paling paling nekat

Perihal nekat, kau mengakui
Kita lah yang paling paling paling berani

Cinta itu cita pakai N
N nya apa?
Nekat?
Nabung?
Nangis?
Nikah?
Nafsu?
Naruto?
Yang jelas: nagih
Katanya konon

Katanya juga, kehidupan itu berjalan begini
Anak perempuan kuncir kuda digandeng ayahnya
Dituntunnya ia menuju langit tak terbatas tingginya
Kepalang senang anak dan ayah itu bercakap bergurau

Tapi langit itu seperti kanvas kosong
Hanya seperti

Kalau kau sibak pelan
Seperti kelambu pada ranjang malam pertama
Kau kan dapati matahari mengerling jenaka pada gadis kuncir kuda

Lantas sang ayah hanya akan berpesan pada anak gadisnya:

Jadilan bulan yang utuh untuk dirimu sendiri

Hingga matahari melutut diri pada bulan yang tak nyana sanggup ia rengkuh
Janji mereka telah terpaut atas nama langit yang sunyi, lagi sepi
Tidak ada yang lebih di depan, tidak ada yang terlenggang di belakang
Matahari-bulan akan berotasi beriringan sambil sesekali menyeduh hujan

Dan bumi kecil yang mendongakkan kepalanya ke atas dengan mata besar mengilat takjub dan pipinya yang mengembang cengang
Mencoba menerka

Bukannya tak ada yang lebih indah dari perjalanan reuni matahari, bulan, dan bumi terbalut warna warni nirmala?

Jalan Kenanga,
Juli 2018

Dibacakan di hari Pernikahan Amanda dan Irvy,
Taman Kajoe, 6 Juli 2018

Ilustrasi oleh Aziez Nugoroho

Gadis Pantai Diterbangkan Camar

Di garis pantai, kamu tunjukkan aku cara terbang, menggapai langit dan berserah pada hembusan angin malam. Di waktu lain, kau minta aku untuk terbang bersamamu. Janji tak akan melepas gamit tanganku. Takut-takut aku mengangguk. Menyerahkan keberanianku pada burung camar kelana angkasa.

Aku terbang
Berani
Tinggi
Makin tinggi
Tak terkendali

Aku terbang
Mengudara
Melayang
Selayang
Mengabur jarak pandang

Apapun itu: faktanya aku terbang. Begitu bukannya?

Gadis terbang yang tak risau arah sebab batinnya dibuai kasmaran.

Tepat saat laut sedang pasang-pasangnya, burung camar itu berhenti mengepak sayap. Pada si gadis pemberani—aku, ia mengicau,

“Sampai di sini kita terbang.”

Si burung tak tau kemana hendak dituju. Lautan lepas bersama debur ombak melantang, atau pegunungan beri jiwa berhawa tambun?

“Kalau begitu, apakah kita akan mendarat bersama. Menapaki bumi kembali layaknya kita memulai terbang bersama?”

“Oh gadis kecil, tidakkah kau lantas paham?”

Gadis kecil terburu menukik tak terkendali. Tak hirau pada laut atau pegunungan akan tergapai. Mengerang, murka untuk sesaat, dan menghalau itu semua, aku lalu tersenyum. Ku bentangkan kedua lengan tangan lebar-lebar dan membiarkan wajah meresapi angin malam bumi selatan. Aku hirup dalam senyap: kebebasan.

“Kali ini aku betul-betul terbang. Terbang dengan arah, dituntun alam. Inilah aku, terbang untuk menjadi pemberani, serasa sari pati hidup.”

Burung camar pikir tugasnya telah usai pada gadis kecil pemberani. Ia sematkan seringai pada paruhnya dan mengitari permukaan laut.

“Kamu bukan yang pertama ku ajak bersua pada birunya langit gadis kecil. Kamu pun tak kan jadi selamanya bersamaku. Langit terlalu luas untuk ku arungi bersama satu orang sahaja. Jadi, sia-sia kalau kau merasa istimewa.”

Salatiga,
11 Juni 2018

Image: pinterest

Kalah Telak

kalah telak

Aku

—sudah.
Selatan Jakarta,

20 Mei 2018

Jendela Kecil

dibalik jendela kecil

Bandung Selatan,

25 Maret 2018

 

Kupu

Ada kupu-kupu masuk rumah
Sayapnya warna coklat kekuningan
Ini kupu jalanan, seruku dalam hati
Mau ada tamu, Ibu membisikku

Kupu-kupu berhenti terbang
Menempellah ia di handuk yang lagi di gantung
Kupu-kupunya lapar, gumamku sekali lagi
Tamunya lapar, Ibu menimpali

Sayapnya mengepak-ngepak
Tanda dia mau terbang lagi
Kali ini ia pilih memutar-mutar di dekat lampu
Mungkin biar hangat, pikirku
Rumah ini terlalu gelap, Ibu tercekat

Ibu menyuguhkan secangkir teh tawar dingin
Gula dihabiskan semut sudah
Air panas lama mendingin

Ibu mempersilakan minum
Pada tamu yang tidak pernah datang
Pada rumah yang tidak pernah terang

 
Bandung, 17 Maret 2018
image: pinterest.com

 

Padam

Alfa kecil ingin menjadi seorang pemadam kebakaran. Sebab dirinya geram dan mempertanyakan mengapa pemadam kebakaran tidak menyemburkan air tepat pada titik apinya?
Hey Alfa, aku punya rahasia kecil yang kudapat dari teman seperjalananku.
Kau tahu? Api itu akan hidup kalau ada tiga hal: panas, bahan dan oksigen. Segitiga api.

Selama masih ada tiga bahan itu, api akan terus makan dan makan dan makan sampai ia makin tumbuh dan besar. Seorang pemadam kebakaran tidak bisa membunuh api dengan menghujam di titiknya. Melainkan, ia akan musnahkan semua hal yang membuat api bisa makan dan hidup. Selama ia tidak bisa bergerak lagi ke mana-mana, ia akan kehabisan energi dan akhirnya mati.
Alfa, kalau kamu sedang marah jangan bunuh ia pada titik marahnya. Kau akan mudah salah paham. Coba kenali apa saja hal yang membuatmu marah. Dekati ia dan matikan cepat. Marahmu tidak akan lagi menyebar dan tidak akan lagi hidup.
Dan oh, ini rahasia kecil kita ya, Alfa. Simpan baik-baik di anganmu. Kamu tahu persis, kapan bisa padamkan api itu.