Categories
Poem and Prose

Sujud

Puisi transedental

1

Kala hari masih dini
Ayam belum berkokok dan pasar pagi masih menata diri
Lisan dan cakap tak sanggup lagi berucap
Air mata jadi sekering sungai kemarau
Kala kening bertemu bumi
Tak usah lagi pakai bahasa diplomatis
Yang harus luruh biar luruh

2

Simpuh seorang hamba di atas selembar sajadah
Simbah peluh; simbah deru
Meringkuk malang sebab rindunya pada damai
Ampun telah dimohonkan
Lantas
Taubat jadi dimaktubkan
Diri ini dikoyak hina

3

Tak usah lagi pakai bahasa diplomatis
Doa tak mesti berwujud  mantra
Merintih lirih
Umpama nadi, dia yang paling terbenam
Namun gemeretak detaknya justru paling bingar

4

Kala kening bertemu  bumi
Sepoi kedamaian ditiupkan pada ruh yang rapuh
Justru
Setiap ruh adalah niscaya rapuh

5

Relung telah penuh dicor buih kejernihan
Diri didapati tengah bergumul
Tak lagi hampa
Sebab ia telah tahu jawabnya
Kala kening bertemu bumi

MUI,
2017

Januari, dua dini hari
image: ummi online

By firdhaussi

Still human;

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s