Memaknai Hari Kartini: Sebuah Refleksi

Hari Lahir Kartini ke-137

Images : Google Doodle Hari Kartini

Indonesia mengenal 21 April sebagai Hari Kartini. Hari ini bisa diartikan macam-macam, ada yang mengartikan ini adalah harinya perlawanan perempuan; ada pula yang melihat ini sebagai kebangkitan dalam mengadopsi paham feminisme di Indonesia; tidak sedikit pula yang melihat ini sebagai agenda politisasi dengan mempertanyakan dari sekian banyak perempuan mengapa sih harus Kartini? Mungkinkah karena Kartini orang jawa? Kemudian ini semua ada hubungannya dengan pemimpin yang secara (kebetulan) pemimpin Indonesia saat itu adalah orang Jawa.

Sebenarnya, kalau buat saya sendiri, hari Kartini tidak berarti apa-apa. Tidak berarti apa-apa dalam artian bukan sebuah momentum yang kemudian dirayakan atau diperingati. Seperti ketika kita SMA dulu yang malah disibukkan dengan hal-hal seperti pakai baju kebaya, dandan, lomba masak, dan lain-lain. Sekolah, dalam labirin memori saya mejelma jadi aparat yang melanggengkan sebuah pemahaman domestifikasi perempuan. Pemahaman tentang ruang terbatas perempuan; kasur, sumur, dapur.  Hari ini, ketika saya mencoba memaknai kembali, sebagai perempuan dan anak FISIP, Hari Kartini, buat saya pribadi lebih kepada sebuah refleksi,  mengingat, memikirkan kembali,  mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan perempuan dan tetu saja -yang-tidak-dapat-dipisahkan-darinya, keadilan.

Bicara tentang Kartini, tidak boleh dilepaskan tanpa melihat proses kehidupannya. Kartini, beliau hidup dan besar di bawah atap yang sarat dengan permaduan dan feodalisme. Beruntung sekaligus malang; ia lahir sebagai keturunan priyayi. Malang, ia lahir dari rahim seorang perempuan, yang menurut Pram dalam Panggil Aku Kartini Saja, kemudian meninggalkannya dan Kartini kemudian diasuh oleh ibu keduanya. Kemalangan tidak berhenti di titik itu, pada usia 12 tahun, feodal yang kejam mengurungnya dalam penjara  bernama pingit. Kartini, kemudian dinikahkan dengan seorang priyayi dalam usia belia, sebagai isteri keempat. Di akhir hidup (raga dan tubuhnya, sebab jiwa, semangat dan pemikirannya masih tetap hidup), Kartini meninggal empat hari setelah melahirkan, dalam usia 25 tahun.

Bagaimanapun, Tuhan masih baik. Hidup sebagai anak dari Bupati Jepara, RM Adipati Sosroningrat membuat privilige tersendiri untuk Kartini dapat mengenyam pendidikan di sekolah Belanda, ELS  (Europese Lagere School). Kala itu, akses pendidikan adalah hal yang tabu bagi perempuan. Terlebih perempuan yang terjerat dalam kemiskinan, mereka menjadi kelompok Subaltern yang berlapis. Sekolah menjadi gerbang pertama yang mengenalkan Kartini pada buku-buku, koran, majalah yang kesemuanya mengantarkan pada satu hulu: pemikiran Eropa. Kartini mengecap manisnya mimpi ideal feminisme, sosialisme hingga liberalisme yang kala itu punya harga mahal.

Orang sering bertanya mengapa harus Kartini. Mengapa bukan Cut Nyak Dien yang berada pada garda terdepan mengangkat senjata, berteriak paling kencang memberi komando pada prajurit yang dicintainya. Perempuan paling berani di Aceh, bahkan mungkin di Indonesia pada masa kolonial. Atau bukan Dewi Sartika saja, yang membangun Sekolah Keutamaan Istri. Dalam hal ini saya sepakat pada Soekarno, bahwa Kartini menulis. Senjatanya adalah pena dan pengabdiannya adalah menulis. Kata dan pemikiran yang dituangkan dalam kumpulan perkamen suratnya, terdengar lebih tajam dibanding pisau manapun. Pisau yang menghunus pengukung dan penindas perempuan.

Surat: dalam hidup Kartini adalah perantara magis yang membuatnya menjadi ikon perlawanan perempuan hingga kini. Beragkat dari perantara iklan dari sebuah majalah Eropa, Kartini bertemu dengan Estella H. Z. Heehandelar, yang kemudian dikenal sebagai feminis ekstrim. Melalui sahabat penanya ini, pemikiran Kartini semakin terasah dari hari ke hari. Setiap pagi, saat matahari muncul dari timur, semakin bertambah pula kegelisahan Kartini melihat kondisi di sekelilingnya. Seiring dengan hatinya yang makin gelisah, penindasan dan pengekangan para perempuan Jawa semakin menggila, menggerus kemerdekaan jiwa. Kartini memercayai bahwa pendidikan merupakan jalan bagi perempuan menuju ruang yang lebih terang.

“Karena saya yakin sedalam-dalamnya bahwa wanita dapat memberi pengaruh besar kepada masyarakat, maka tidak ada yang lebih saya inginkan daripada menjadi guru, supaya kelak dapat mendidik gadis-gadis dari para pejabat tinggi kita. O, saya ingin sekali menuntun anak-anak itu, membentuk watak mereka, mengembangkan pikiran mereka yang muda, membina mereka menjadi wanita-wanita masa depan, supaya mereka kelak dapat meneruskan segala yang baik itu. Masyarakat kita pasti bahagia kalau wanita-wanitanya mendapat pendidikan yang baik… Di dunia wanita kita terdapat banyak derita yang pedih. Penderitaan yang telah saya saksikan waktu saya masih kanak-kanak itulah yang membangkitkan keinginan saya membawa arus yang tidak mau membenarkan saja keadaan-keadaan yang kolot.”

(Surat Kartini kepada, Zeehandelaar 1901)

Nadya Karima Melati (JP, 2015)  menjelaskan mengenai berbagai polemik terkait dengan diangkatnya Kartini sebagai pahlawan. Pemilihan Kartini sebagai pahlawan ditetapkan oleh Soekarno melalui Keputusan Presiden No. 108 tahun 1964. Jika Pram dalam bukunya menulis bahwa Kartini adalah contoh terbaik dalam didikannya (politik etis) yang bisa diberikan kepada Pribumi jajahannya, Prof. Dr. Harsya W. Bachtiar Guru Besar UI mengkritik  perihal pengkultusan R.A. Kartini sebagai pahlawan nasional Indonesia dalam “Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita” dalam buku Satu Abad Kartini (1879-1979) yang dijadikan propaganda menentang Feminisme oleh peneliti INSIST Tiar Anwar Bachtiar.  Angle of Vision karya Andi Achdian, dalam bab berjudul ‘Kartini’, dibahas biografi Singkat Kartini dan gerak zaman yang melingkupinya, yang  dituduhkan karena dekatnya Kartini dengan orang-orang Belanda, dan Kartini juga mencicipi pendidikan modern ala Eropa.

Pada Desember 2010 di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia dipertanyakan ‘Kepahlawanan Kartini’ melalui seminar berjudul “Menakar Bobot Kepahlawanan” yang dilakukan oleh Masyarakat Sejarah Indonesia. Dengan cukup bijak, Sejarahwan UI ini mengungkapkan bahwa polemik Kartini sebagai pahlawan bukanlah dilihat dengan ‘menakar’. Pahlawan muncul dalam bentuk lain: Inspirasi bagi seorang individu dalam masyarakatnya dengan cara memahami persoalan bukan sekedar mengangkat citra dangkal konsepsi kita tentang Pahlawan.

Bagaimana Kartini hidup adalah sebuah cerita belakang panggung yang perlu kita ketahui agar lamas tidak ahistoris. Namun, pada akhirnya untuk kita yang masih hidup, memaknai Hari Kartini haruslah dengan pemahaman. Memaknai Hari Kartini dengan belajar dari Beliau : berpikir maju tentang masa depan; dengan memiliki imajinasi politik dan peradaban, kita akan menjadi bangsa yang terus mau belajar; kedua menjadi perempuan yang belajar dan menulis tentang bangsanya; sebab, mengutip dari Pram menulis adalah bekerja untuk keabadian; dan terakhir melepaskan cangkang pikiran bahwa perempuan adalah gender yang terbatas, bahwa diskriminasi gender adalah sebuah pewajaran, dan bahwa  pendidikan adalah benar adanya milik seluruh bangsa. Maka Kartini, kamu abadi.

“… Semoga melalui banyak sekali penderitaan dan kesedihan, kami berhasil menciptakan sesuatu. Bagi rakyat kami. Terutama yang bermanfaat bagi kaum wanita kami – bagaimanapun kecilnya. Andaikata ini pun tidak terlaksana, semoga penderitaan dan perjuangan kami berhasil menarik perhatian khalayak ramai terhadap keadaan-keadaan yang perlu diperbaiki. Dan andaikata itu pun tidak dapat kami capai, wahai, setidaknya kami telah berusaha berbuat baik, dan kami yakin benar bahwa air mata kami, yang kini nampaknya mengalir sia-sia itu, akan ikut menumbuhkan benih yang kelak akan mekar menjadi bunga-bunga yang akan menyehatkan generasi-generasi mendatang.”

Azmi I. Firdhausi

21 April 2016

 

Published by

firdhaussi

Still human;

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s