Melamun Lisong

Memandangi satu per satu, kotak demi kotak
Segulung dan bergulung, semua tlah ku hirup-habis,
Aku merasa perkasa

Manakala dihadapkan aku pada fajar merah merekah
atau tetes embun menempel pada kaca jendela rumah
sekonyong-konyong, dada sesak seolah ada ribuan manusia mengantre masuk ke dalam. Nafasku macet. Padahal tidak ada komodo lewat pagi itu

Ia bilang, jantungku berdetak laju, lebih dari detik
berdegup penuh huru-hara.

Ia yang lain bilang, bukannya mereka hanya jalan pintas menjemput tenang?
Memburu terang?
Aku bilang, yang aku cari konstan.

Ia yang datang dari masa lalu sebagai bayangan membisik <jangan>
Pacu cepat dan matikan.

Ia terakhir muncul dari warta, mempotret anak kurus memetik mimpi, mati.
Ada racun menjalar darah, aku tahu.

Lari tubuku ke sudut pikiranku, menelan dan mencerna
Perlahan aku sadar: Segala yang memikat sudah terganjal waktu
Seteguk nikmat pasti ditanggulangi cermat.

Cig, aku pamit undur diri
Kamsia atas perjamuan singkat ini
Mungkin kita bertemu lagi, tapi tak serupa kini.


Selatan Jakarta
Januari, 2020


Image : Pinterest

Published by

firdhaussi

Still human;

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s